Tiga Harta Ayah Misterius Ternyata Seorang Bos Besar Bab 1901-1952

Tiga Harta Ayah Misterius Ternyata Seorang Bos Besar Bab 1901-1952

Tiga Harta Ayah Misterius Ternyata Seorang Bos Besar Bab 1901

 

Dari jarak sejauh ini, Dewi bahkan dapat merasakan bahwa kesabaran Lorenzo hampir habis, khawatir kalau amarahnya akan segera meledak

Tiba-tiba ada sebuah dorongan yang timbul dalam hati Dewi untuk segera mencari Lorenzo dan membantunya.

Saat itu juga, Lorenzo seperti merasakan sesuatu, dan menoleh ke arahnya….

Dewi tanpa sadar langsung membalikkan tubuhnya, tidak membiarkan wajahnya terlihat oleh Lorenzo.

“Cepat pergi!”

Bibi Lauren menarik Dewi menuju ke tempat parkir.

Sepanjang jalan, Dewi menyadari ada yang tidak beres. Tidak jauh dari sana, tampaknya sejumlah besar pasukan telah dikirim secara diam-diam untuk memblokir semua pintu masuk dan keluar.

Ada juga beberapa pengawal berpakaian sipil yang memasuki kastil, mirip seperti pengawal yang berjaga ketika Lorenzo sedang berada di ruang rapat….

“Tidak,” Dewi menghentikan langkahnya dan berkata dengan cemas, “Apa Wakil Presiden berusaha memaksa Lorenzo?”

“Sepertinya begitu,” Bibi Lauren berbisik, “Kalau melihat seluruh prajurit ini, dikhawatirkan. Lorenzo tidak dapat pergi kalau ia tidak menyetujui persyaratan yang diajukan oleh Wakil Presiden pada malam ini. Kita harus bergegas, untuk menghindari munculnya masalah jika kita

terlambat.”

“Tapi ….”

“Dewi,” Bibi Lauren menebak apa yang ingin dikatakannya dan langsung menyela pikirannya, “Kamu bukan seorang penyelamat dunia. Kamu tidak dapat mengubah keadaan dengan hanya mengandalkan kemampuanmu seorang diri!”

Mendengar kata-kata ini, Dewi pun menunduk. Memang, ini bukan hutan, ia tidak bisa berbuat

apa-apa….

“Ia akan baik-baik saja,” Bibi Lauren menepuk-nepuk pundaknya, “Tujuan dari sengketa perebutan kekuasaan adalah untuk meraih keuntungan. Sekarang seluruh kekayaan keluarga Moore ada di tangan Lorenzo, tidak akan ada yang berani menyentuhnya saat ini. Tebakanku paling hanya memaksanya untuk menandatangani beberapa perjanjian.”

“Tapi kalau mengikuti temperamen Lorenzo, ia tidak akan menyerah.” Dewi seolah-olah dapat memprediksi hasilnya, “la pasti akan bersikeras mempertahankan pendiriannya. Apabila mereka

bersikukuh saling melawan satu sama lain, pertempuran malam ini tidak akan bisa dihindari.”

“Lalu, memangnya kenapa? Ini bukan urusanmu,” Bibi Lauren mengingatkannya dengan serius, “Kalau kamu tetap tinggal, kamu harus menghadapi hal-hal seperti ini kapan saja di masa mendatang. Kamu harus mengkhawatirkannya setiap hari. Apa kamu bisa tahan?”

Dewi kembali terdiam setelah mendengarnya….

“Sudahlah, jangan dipikirkan lagi. Ayo kita pergi.”

Bibi Lauren menarik Dewi pergi.

Kedua orang itu tiba di tempat parkir. Saat ini, ada sekelompok orang yang sedang mengelilingi wanita bangsawan yang asmanya kambuh itu.

Seorang bangsawan bertanya dengan marah, “Di mana dokter kalian? Kenapa ia bisa menghilang saat menghadapi masalah sebesar ini?”

“Kami juga tidak tahu. Jelas-jelas tadi ia masuk bersama kami untuk menjemput Nyonya, tapi ketika kami keluar, ia sudah menghilang….”

“Keterlaluan! Rumah sakit kalian ditutup saja.”

“Ini….”

“Tolong beri ruang,” Bibi Lauren segera membawa Dewi menerobos kerumunan itu, “Tolong beri ruang, Dokter sudah datang.”

Para bangsawan itu pun bergegas memberikan jalan.

Dewi langsung memberikan penanganan darurat untuk wanita itu.

Para petugas medis yang melihat Dewi serta Bibi Lauren segera merasa curiga. Jelas-jelas ia

bukan dokter mereka.

Namun, setelah menyadari bahwa ini adalah kantor kepresidenan, seluruh tamunya pastilah orang-orang terkemuka. Meskipun hanya sebagai pengiring saja, namun mereka pasti berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda-beda.

Mungkin saja, ini adalah dokter keluarga yang mengiringi salah satu tamu bangsawan.

Sehingga, para petugas medis itu pun tidak menghentikan mereka.

Begitu Dewi turun tangan, kondisi wanita bangsawan itu pun segera stabil kembali.

“Pasien ada melakukan kontak dengan alergen, sehingga menyebabkan asmanya kambuh.

Sementara ini kondisinya sudah stabil, namun ia harus segera dibawa ke rumah sakit. Cepat, bawa pasien naik ke atas mobil dulu!”

Dewi mendesak mereka.

“Baik, baik,” para petugas medis pun bergegas mengangkat wanita itu naik ke atas mobil.

Dewi dan Bibi Lauren segera mengambil kesempatan itu untuk ikut masuk ke dalam mobil.

Tim ambulans pun perlahan-lahan pergi. Dewi melihat ke luar jendela, perasaannya begitu rumit

Apa ia benar-benar pergi begitu saja seperti ini?

Ia terus menanti-nantikan hal ini. Namun, sekarang ketika ia benar-benar pergi, ia merasa enggan untuk berpisah dengannya. Pikirannya dipenuhi dengan bayangan Lorenzo….

Bab 1954

Kastil, di dalam ruang rapat.

Lorenzo melihat ke luar jendela. Beberapa lama kemudian, ia baru mengalihkan pandangannya.

Ia melihat sosok bayangan yang begitu familier itu….

Ternyata, wanita itu masih ingin pergi.

Meskipun ia mempertaruhkan segalanya untuk dapat bersamanya, namun wanita itu tetap meninggalkannya.

Sebelumnya ia tidak mengerti tentang ungkapan bahwa cinta tak dapat dipaksakan. Namun, sekarang ia memahaminya.

Wanita itu tidak mencintainya. Tidak peduli apa pun yang ia lakukan, semuanya itu tidak ada

gunanya.

Dewi tidak mungkin tersentuh atau tergoyahkan. Ia akan pergi jika ia ingin pergi.

Tanpa memedulikan perasaannya, tanpa memedulikan konsekuensinya….

Memikirkan semua ini, hati Lorenzo tersulut api amarah, dan tangannya yang sedang memegang cangkir bergetar hebat….

“Lorenzo, pikirkanlah baik-baik. Terlebih lagi, kekuatanmu seorang diri itu terbatas. Jika kamu membiarkanku menjadi pemegang saham Grup Moore, aku bisa membawakan banyak sumber daya untuk kalian. Kita dapat melangkah bersama-sama di masa depan. Ini adalah sebuah hal yang sangat menguntungkan, tidak merugikan sama sekali ….

Ivan membujuk Lorenzo dengan sungguh-sungguh.

“Sangat menguntungkan?”

Lorenzo terus diam. Ia telah melihat permainan yang dimainkan oleh ketiga keluarga besar itu, sekarang ditambah dengan ucapan Ivan yang bertele-tele itu, membuatnya merasa tidak tahan lagi.

“Sangat menguntungkan bagimu, ‘kan?”

Ada rasa dingin yang menusuk terpancar dari ucapannya itu.

Tiba-tiba, suhu udara di sekelilingnya seolah-olah menurun. Semua orang pun mengamati mereka dengan napas tertahan, begitu berhati-hati ….

Senyuman pada wajah Ivan sejenak memudar. Namun, ia segera menenangkan dirinya kembali

dan menatap Lorenzo sambil tersenyum, “Maksudmu itu ….”

“Grup Moore berjalan dengan baik, tanpa kekurangan dana, sumber daya, juga tidak memerlukan pemegang saham baru. Untuk apa kamu ingin bergabung dan mengambil bagian?”

Lorenzo sudah tidak lagi berusaha menjaga hubungan baik dengannya. Bahkan, ia sudah tidak lagi menjaga sopan santunnya.

Hatinya telah tersulut oleh api amarah yang membakar habis kesabarannya.

“Lorenzo, kenapa kamu berbicara seperti itu pada Wakil Presiden?” Michael bergegas membujuknya, “Meskipun keluarga Moore tidak kekurangan apa pun, namun dengan bergabungnya Wakil Presiden tentu akan membawa lebih banyak sumber daya bagi kita.”

“Betul, betul….’

“Sumber daya apa?!” Lorenzo langsung mencelanya, “Aku memiliki semua sumber daya yang miliki, mengapa harus ada satu orang lagi yang mengambil bagian saham kita? Ingin membeli saham, tapi tidak punya dana, jadi hanya dapat mengandalkan gelar Wakil Presiden saja? Ini bukannya sama dengan perampokan?”.

“Lorenzo, kamu kelewatan!!!”

Ekspresi Ivan menggelap. Tatapannya tidak lagi sehangat sebelumnya.

ia

“Ahem!” Cole Kingsley terbatuk dua kali. Ia pun minum dalam diam, tanpa mengatakan sepatah kata pun.

Michael berubah cemas. Ia orang yang paling pertama bangkit dan berkata, “Lorenzo, ucapanmu itu benar-benar kelewatan ….”

“Benar, benar….” timpal Winston Young.

“Baik, kalau begitu,” Lorenzo mengangkat alisnya sambil tersenyum dingin, “Kita bagikan saja saham kalian bertiga untuk Tuan Ivan??”

“Uh….” ekspresi Winston dan Michael seketika berubah.

“Aku tidak ikut campur.”

Η

Cole bergegas membuka mulutnya. Setelah ia selesai mengatakannya, ia melihat ekspresi Wakil Presiden yang menggelap, dan buru-buru menambahkan.

“Aku hanya memegang sebagian kecil saham, bagaimana mungkin aku memenuhi syarat untuk mengambil keputusan? Aku akan mengikuti Lorenzo, kamu adalah pemegang saham utama, jadi kamu yang berhak memutuskan! Tentu saja, aku tidak keberatan dengan bergabungnya Wakil Presiden sebagai pemegang saham. Memang baik jika semua orang dapat bergabung untuk bersama-sama menghasilkan uang.”

Lorenzo melirik Cole sekilas. Orang ini memang cerdas, mampu menjaga perasaan kedua belah pihak.

Namun, Winston dan Michael jelas mendukung Ivan.

“Karena kamu tidak setuju, maka aku tidak akan memaksamu,” Ivan tersenyum dingin, “Namun, aku telah menerima laporan bahwa kamu melanggar hukum di negara Maple. Sekarang, bukan hanya orang-orang datang mengeluh padaku, tapi juga melapor pada departemen terkait.”

“Aku harus memberikan penjelasan pada orang-orang terkait masalah ini. Jadi, aku ingin memintamu untuk ikut dengan pihak militer dan menjalani penyelidikan….”

Alasan itu dikatakannya dengan tegas dan penuh percaya diri, seolah-olah semuanya itu benar.

Padahal, itu hanyalah sebuah ancaman terselubung yang ditujukan terhadap Lorenzo.

Winston dan Michael menatap Lorenzo dengan gugup. Ekspresi mereka terlihat cemas dan gelisah.

Cole terlihat cukup tenang, hanya mengamati semuanya itu dalam diam.

Sudut bibir Lorenzo terangkat membentuk senyuman mencibir. la duduk bersandar di atas sofa dan menatap Ivan dengan dingin, “Tuan Ivan, ini adalah tindakan menggunakan urusan publik demi membalaskan dendam pribadi!”

Post navigation

Previous

Bab 1956

“Dewi … Dewi….”

Bibi Lauren teriak beberapa kali dari jendela, tapi Dewi lari tanpa menoleh ke belakang.

Di dalam mobil, tamu terhormat dan pengawalnya tercengang.

Melihat kelincahan Dewi, mereka baru menyadari bahwa dokter ini bukan orang biasa….

Dewi melompat keluar dari mobil, dan dengan cepat naik ke kendaraan militer, kemudian mengikuti kendaraan militer kembali ke Istana kepresidenan.

Pada saat itu, pertarungan di Istana sudah dimulai….

Dari awal Ivan tahu bahwa Lorenzo orang yang dingin, tapi dia tidak menyangka Lorenzo begitu keras kepala.

Dia tidak hanya bertindak kejam, malah memimpin orang-orangnya melawan Prajurit Militer.

Dia juga meledakkan ruang perjamuannya!!!

Benar-benar membuat Ivan malu dan mendapatkan penghinaan yang luar biasa!!!

Pada awalnya, Ivan menggunakan Juliana untuk mengancam Lorenzo, tetapi dia sama sekali tidak tergerak dan bahkan membawa tunangannya ke acara ini.

Kemudian, Ivan langsung menggunakan otoritas resmi untuk mengancam Lorenzo, mencoba memberikan ancaman dan membuatnya menyerah, tapi dia tidak menyangka Lorenzo malah melawannya….

Sekarang, semua orang yang datang ke pesta tahu bahwa Wakil Presiden Ivan sengaja mengadakan perjamuan Hongmen untuk menggertak Lorenzo dan memaksa Lorenzo untuk melawan ….

Jika masalah ini sampai tersebar, akibatnya pasti akan sangat fatal.

Ivan segera meminta bawahannya untuk menenangkan para tamu, dan pada saat yang sama, secara pribadi memimpin orang untuk menyerang Lorenzo

Juliana mengetahui situasinya dan bergegas bertanya, “Tuan Ivan, apa yang terjadi? Kenapa jadi begini?”

“Lorenzo terlalu sombong, dia menganggapku enteng.” Ivan sangat marah, “Hari ini aku harus memberinya pelajaran!”

“Jangan ….” Juliana membujuknya dengan cemas, “Masalah ini terjadi karena aku, biar aku yang

membujuknya.”

Juliana mengira Ivan dan Lorenzo berkelahi karena dia.

Faktanya, Ivan sama sekali tidak menyebutnya, jika Lorenzo tidak peduli pada Juliana, maka rencananya ini akan kehilangan makna aslinya.

“Minggir!”

Ivan mengabaikan Juliana dan memimpin anak buahnya untuk mengejarnya.

“Tuan Ivan….” Juliana masih ingin menghentikannya, tapi Michael malah menghentikannya, “Jangan ikut campur, situasi saat ini sudah jadi seperti ini, kamu tidak bisa mengubahnya.”

“Masalah ini terjadi karena aku, bagaimana mungkin aku tidak ikut campur?”

Juliana berjuang ingin menyusul, tapi Michael malas meladeninya dan menyuruh bawahannya untuk menahannya.

Winston membungkuk dan bertanya dengan cemas, “Masalahnya sudah sangat besar, mungkin tidak akan berakhir dengan baik.”

“Aku benar-benar tidak menyangka, Lorenzo begitu keras kepala!” Michael juga bingung, “Pantas saja, kenapa Tuan Ivan ingin membujuknya, aku tidak pernah menyangka… Ugh….”

“Kalian berdua, kali ini terlalu keterlaluan.” Cole tersenyum dingin, “Tidak peduli siapa yang kalah dan menang, tidak ada untungnya untuk kalian. Lagipula kalian salah bertaruh, Ivan sama sekali tidak bisa mengalahkan L!”

“Apa?” Michael tampak curiga, “Kamu tidak salah? Ini adalah tempat Wakil Presiden. Ada begitu banyak tentara di luar. Ivan pasti bisa mengalahkan Lorenzo. Paling-paling hanya tekanan opini publik saja yang sedikit merepotkan!”

“Benar.” Winston ikut menambahkan.

“Tunggu dan lihat saja!”

Setelah mengatakan kalimat itu, Cole langsung pergi melihat pertempuran itu tanpa mengatakan apapun lagi….

“Apa maksudnya?” Michael bertanya dengan cemas.

“Jangan pedulikan dia.” Winston tidak peduli, “Tapi orang ini benar-benar keterlaluan, bukankah seharusnya dia berada di pihak kita?”

“Aku pikir dia sangat licik.” Michael berkata dengan dingin, “Dia tidak ingin rugi, dia akan melihat pihak mana yang lebih unggul, dan dia akan berdiri di sisi itu.”

“Tunggu sampai Wakil Presiden menyingkirkan Lorenzo, lalu kita bereskan dia.” Winston berkata

tidak dengan marah, “Saat itu, keluarga Moore akan terbagi menjadi tiga, ada satu orang yang

dapat!”

“Oke!”

Bab 1955

“Aku hanya melakukan bisnis!” Ivan berkata dengan percaya diri, “Dia mengeluarkan banyak barang bukti yang memberatkan dan menyerahkannya ke tujuh departemen terkait, termasuk Kementerian Hukum, Departemen Militer, dan bahkan memberikan salinannya ke Presiden.

Aku juga tidak bisa berbuat apa-apa, tapi aku harus menanganinya secara adil, jika tidak, aku tidak bisa mempertanggungjawabkannya. Tentu saja, kalau kamu bisa berpikir terbuka sedikit dan membiarkanku masuk ke Grup Moore, masalah ini akan menjadi masalah keluarga Moore, dan aku pasti akan menggunakan seluruh kekuatanku dan menyelesaikannya untukmu.

Kalau tidak, kamu harus bekerja sama dalam proses penyelidikan!”

Kata-kata ini sungguh memalukan.

Cole Kingsley menaikkan sudut bibirnya dan mengejeknya sambil tersenyum.

Jasper sangat marah dan mengepalkan tinju tangannya.

Lorenzo tidak mengatakan apapun, dia hanya menyipitkan mata dan menatap Ivan dengan dingin.

“Bagaimana kalau kamu pikirkan lagi?”

Ivan masih tetap tidak tahu malu, dia masih memberikan Lorenzo satu kesempatan lagi.

Tapi, Lorenzo sama sekali tidak menghargai niat baiknya, dan berkata, “Kamu yang harus berpikir dengan hati-hati. Kalau kamu bersikeras melakukan ini, aku khawatir kamu akan menyesalinya!!!”

“Hehe….”

Ivan tersenyum mengejek, kemudian bertepuk tangan. Sejumlah besar tentara dengan senjata lengkap, masuk ke dalam.

Komandan prajurit berdiri tepat di depan Lorenzo dan berkata dengan sopan, “Tuan L, silakan!”

“Bagus sekali.”

Lorenzo menyipitkan matanya, menatap Ivan dengan dingin.

Pada saat yang sama.

Ambulans yang ditumpangi Dewi hendak keluar dari gerbang Istana Kepresidenan, dari jendela dia melihat di kejauhan terdapat beberapa kendaraan militer….

Dia merasa sedikit gelisah, apa yang ingin dilakukan Wakil Presiden dengan mengirim begitu

banyak orang?

“Tuan, tebakanmu benar. Wakil Presiden akan berurusan dengan Tuan L. Hari ini Tuan L mungkin akan berada dalam bahaya ….”

Pengawal tamu terhormat itu tiba-tiba mengatakan sesuatu menggunakan Bahasa Emron.

Dewi hanya mengerti sebagian.

Tamu terhormat itu menatap pengawal itu, pengawal itu dengan cepat menutup mulut mereka, tidak berani mengatakan apapun lagi.

Ketika mobil itu masih melaju di luar, tiba-tiba terdengar suara ledakan dari istana, Dewi terkejut, dan segera menoleh untuk melihat

Suaranya datang dari arah ruang pesta!

“Astaga….” pengawal itu terkejut dan berkata dalam Bahasa Emron. “Wakil Presiden itu tidak mungkin membunuh orang, kan? Terlalu kejam kalau membunuh seseorang, karena gagal merebut harta keluarga.”

“Belum tentu….” Kata tamu terhormat itu dengan suara pelan, “Mereka menerima kabar bahwa L akan pergi ke Kota Bunaken Negara Nusantara, mungkin dia ingin bekerja sama dengan keluarga Wallance.

Begitu Moore dan Wallance keduanya bekerja sama, maka ketiga keluarga besar itu akan di asingkan, dan ini akan menjadi ancaman fatal bagi Wakil Presiden yang sangat ambisius itu.

Jadi, mungkin saja dia menyerang terlebih dahulu.”

Dewi tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, jadi dia berbisik dan bertanya pada Bibi Lauren, “Apa yang mereka bicarakan?”

Raut wajah Bibi Lauren sangat serius, dia ragu sejenak, kemudian dia mengartikan kata-kata itu dan berkata, “Ternyata Wakil Presiden mengira Lorenzo pergi ke kota Bunaken untuk bekerja sama dengan keluarga Wallance untuk menghadapi mereka, jadi malam ini dia melakukan serangan terlebih dahulu….”

“Itu semua karena aku.” Hati Dewi tiba-tiba menjadi kacau, “Sebenarnya, dia ingin membawaku berobat, sama sekali bukan untuk bertemu dengan Keluarga Wallance.”

“Semuanya hanya kebetulan ….” Bibi Lauren merasa sedikit bersalah.

“Apa yang kalian bicarakan?” Pengawal itu tidak mengerti bahasa yang mereka ucapkan.

“Tidak ada apa-apa….”

“Berhenti.”

Bibi Lauren belum selesai bicara, tiba-tiba Dewi berteriak dalam bahasa Inggris, “Cepat hentikan mobilnya.”

“Dewi, apa yang kamu lakukan?” Bibi Lauren buru-buru membujuknya, “Kita sudah susah payah melarikan diri, kalau kamu kembali sekarang, itu sama saja cari mati….”

“Dia dapat masalah karena aku, aku tidak bisa diam saja!” Dewi sangat bersikeras, “Kalau sesuatu terjadi padanya, aku akan menyesalinya seumur hidupku!!!”

“Tapi…”

“Bibi Lauren duluan saja, jangan ikuti aku.”

Setelah mengatakan kata-kata tersebut, Dewi langsung membuka pintu mobil dan melompat

keluar.

Bab 1956
“Dewi … Dewi….”
Bibi Lauren teriak beberapa kali dari jendela, tapi Dewi lari tanpa menoleh ke
belakang.
Di dalam mobil, tamu terhormat dan pengawalnya tercengang.
Melihat kelincahan Dewi, mereka baru menyadari bahwa dokter ini bukan orang
biasa….
Dewi melompat keluar dari mobil, dan dengan cepat naik ke kendaraan militer,
kemudian mengikuti kendaraan militer kembali ke Istana kepresidenan.
Pada saat itu, pertarungan di Istana sudah dimulai….
Dari awal Ivan tahu bahwa Lorenzo orang yang dingin, tapi dia tidak
menyangka Lorenzo begitu keras kepala.
Dia tidak hanya bertindak kejam, malah memimpin orang-orangnya melawan
Prajurit Militer.
Dia juga meledakkan ruang perjamuannya!!!
Benar-benar membuat Ivan malu dan mendapatkan penghinaan yang luar
biasa!!!
Pada awalnya, Ivan menggunakan Juliana untuk mengancam Lorenzo, tetapi
dia sama sekali tidak tergerak dan bahkan membawa tunangannya ke acara ini.
Kemudian, Ivan langsung menggunakan otoritas resmi untuk mengancam
Lorenzo, mencoba memberikan ancaman dan membuatnya menyerah, tapi dia
tidak menyangka Lorenzo malah melawannya….
Sekarang, semua orang yang datang ke pesta tahu bahwa Wakil Presiden Ivan
sengaja mengadakan perjamuan Hongmen untuk menggertak Lorenzo dan
memaksa Lorenzo untuk melawan ….
Jika masalah ini sampai tersebar, akibatnya pasti akan sangat fatal.
Ivan segera meminta bawahannya untuk menenangkan para tamu, dan pada
saat yang sama, secara pribadi memimpin orang untuk menyerang Lorenzo
Juliana mengetahui situasinya dan bergegas bertanya, “Tuan Ivan, apa yang
terjadi? Kenapa jadi begini?”
“Lorenzo terlalu sombong, dia menganggapku enteng.” Ivan sangat marah,
“Hari ini aku harus memberinya pelajaran!”
“Jangan ….” Juliana membujuknya dengan cemas, “Masalah ini terjadi karena
aku, biar aku yang
membujuknya.”
Juliana mengira Ivan dan Lorenzo berkelahi karena dia.
Faktanya, Ivan sama sekali tidak menyebutnya, jika Lorenzo tidak peduli pada
Juliana, maka rencananya ini akan kehilangan makna aslinya.
“Minggir!”
Ivan mengabaikan Juliana dan memimpin anak buahnya untuk mengejarnya.
“Tuan Ivan….” Juliana masih ingin menghentikannya, tapi Michael malah
menghentikannya, “Jangan ikut campur, situasi saat ini sudah jadi seperti ini,
kamu tidak bisa mengubahnya.”
“Masalah ini terjadi karena aku, bagaimana mungkin aku tidak ikut campur?”
Juliana berjuang ingin menyusul, tapi Michael malas meladeninya dan
menyuruh bawahannya untuk menahannya.
Winston membungkuk dan bertanya dengan cemas, “Masalahnya sudah sangat
besar, mungkin tidak akan berakhir dengan baik.”
“Aku benar-benar tidak menyangka, Lorenzo begitu keras kepala!” Michael juga
bingung, “Pantas saja, kenapa Tuan Ivan ingin membujuknya, aku tidak pernah
menyangka… Ugh….”
“Kalian berdua, kali ini terlalu keterlaluan.” Cole tersenyum dingin, “Tidak peduli
siapa yang kalah dan menang, tidak ada untungnya untuk kalian. Lagipula
kalian salah bertaruh, Ivan sama sekali tidak bisa mengalahkan L!”
“Apa?” Michael tampak curiga, “Kamu tidak salah? Ini adalah tempat Wakil
Presiden. Ada begitu banyak tentara di luar. Ivan pasti bisa mengalahkan
Lorenzo. Paling-paling hanya tekanan opini publik saja yang sedikit
merepotkan!”
“Benar.” Winston ikut menambahkan.
“Tunggu dan lihat saja!”
Setelah mengatakan kalimat itu, Cole langsung pergi melihat pertempuran itu
tanpa mengatakan apapun lagi….
“Apa maksudnya?” Michael bertanya dengan cemas.
“Jangan pedulikan dia.” Winston tidak peduli, “Tapi orang ini benar-benar
keterlaluan, bukankah seharusnya dia berada di pihak kita?”
“Aku pikir dia sangat licik.” Michael berkata dengan dingin, “Dia tidak ingin rugi,
dia akan melihat pihak mana yang lebih unggul, dan dia akan berdiri di sisi itu.”
“Tunggu sampai Wakil Presiden menyingkirkan Lorenzo, lalu kita bereskan dia.”
Winston berkata
tidak dengan marah, “Saat itu, keluarga Moore akan terbagi menjadi tiga, ada
satu orang yang
dapat!”
“Oke!” Bab 1957 Orang Munafik

Keduanya bersembunyi di aula untuk berdiskusi, sementara di luar, pertarungan berlangsung dengan sengit….

Ivan sedikit frustrasi, dia jelas mengirim begitu banyak tentara militer, tapi mereka tidak bisa menangani Lorenzo dan beberapa anak buahnya.

Pertama, aula perjamuan diledakkan, dan sekarang dua kendaraan militernya juga diledakkan.

Itu membuat semua orang panik.

Okky datang dan melapor dengan tergesa-gesa, para tamu sudah hampir tidak bisa menahan diri. Jika terus seperti ini, dikhawatirkan masalah hari ini akan menyebar luas ….

Sebelumnya Ivan memang selalu ingin menangkap Lorenzo hidup-hidup, jadi bawahannya sangat berhati-hati dalam bertindak.

Tetapi sekarang situasinya sudah kacau, dia tidak bisa lagi berpikir terlalu banyak, dan langsung memerintahkan, tidak peduli hidup atau mati, pertarungan ini harus diselesaikan dalam waktu setengah jam.

Okky tercengang ketika mendengar perkataannya, dan buru-buru mengingatkan, “Tuan, jika Lorenzo benar-benar mati di sini, kita tidak akan bisa menjelaskannya

Η

“Menjelaskan? Menjelaskan pada siapa?” Ivan mencibir. “Ketiga keluarga besar berada di pihakku, keluarga Moore semua sudah mati, hanya tersisa Sammy Moore yang tidak berguna itu, orang yang tidak berguna itu akan berlutut memohon belas kasihan didepanku!”

“Ini….” Okky berpikir, meskipun keluarga Moore kaya dan berkuasa, tapi mereka tidak harmonis. Begitu Lorenzo meninggal, keluarga Moore akan runtuh dan jatuh ke tangan Ivan.

“Hanya saja, kemampuan Lorenzo sangat kuat.” Ivan merasa kecewa, “Tiga keluarga besar ditambah Sammy Moore tetap tidak bisa mengalahkannya, oleh sebab itu, aku baru. menggunakan cara ini, tapi dia tetap tidak mendengarkanku, jadi jangan menyalahkanku!”

“Tapi, bagaimana dengan Pak Presiden ….” Okky dengan hati-hati mengingatkan, “Bahkan jika orang lain tidak bertanya, Pak Presiden pasti akan bertanya.”

“Orang tua itu cepat atau lambat akan segera turun tahta, apa aku masih perlu takut padanya?”

Sorot mata Ivan sangat dingin dan ambisius, dia sama sekali tidak memandang siapa pun.

Okky masih ingin mengatakan sesuatu lagi, tetapi akhirnya ia hanya bisa menelan kata-katanya kembali, dia tahu bahwa dia tidak akan dapat membujuknya, jadi dia membiarkannya.

Militer mulai meningkatkan tenaga mereka untuk menghadapi Lorenzo, dan suara tembakan di

luar masih terus berlanjut.

Ivan sedang berdiri di depan aula perjamuan yang sudah diledakkan, menyaksikan pertarungan itu dengan tatapan mata dingin

Sorot matanya membawa keyakinan bahwa dia pasti menang!

“Minta seseorang untuk menyalakan semua lampu, aku ingin melihat Lorenzo mati di depan mataku!”

Ivan sudah membayangkan adegan menginjak-injak Lorenzo di bawah kakinya.

Okky segera memberi perintah.

Tidak lama kemudian, semua lampu di dalam dan di luar Istana menyala. Pemandangan malam Istana yang semula bertabur bintang, sekarang jadi terang benderang, bagaikan siang hari!

Karena perbedaan jumlah orang yang sangat besar, ditambah lagi ini adalah Wilayah Ivan, akhirnya orang-orang Lorenzo dengan cepat terkalahkan….

Lorenzo, Jasper, Jeff, Sonny, Wezo dan yang lainnya terjebak di tempat parkir.

Prajurit mengepung mereka dengan senjata lengkap, dan mereka dikelilingi oleh kendaraan. tempur militer.

Mereka dikepung dengan formasi yang sangat rapat.

Bahkan orang hebat pun akan sulit melarikan diri dari formasi ini.

“Lorenzo!”

Ivan memegang toa dan berteriak merendahkan Lorenzo.

“Kamu telah melanggar hukum di Negara Maple, membunuh orang tak bersalah tanpa pandang bulu, menggelapkan uang orang lain. Kamu dituntut sampai ke tujuh departemen oleh serikat organisasi perdagangan Negara Maple.

Aku sebagai Wakil Presiden, memerintahkanmu untuk bekerja sama dalam penyelidikan, kamu bukan hanya menghinaku, tapi juga sudah meledakkan aula perjamuanku, kamu telah melanggar hukum dan bertindak sembrono.

Letakkan senjatamu sekarang dan bekerja samalah dalam penyelidikan. Aku masih bisa menyelamatkan hidupmu, jika tidak, aku akan merigeksekusimu di tempat

Kata-kata yang dia ucapkan memang sangat masuk akal.

Orang yang tidak tahu akan mengira bahwa Wakil Presiden adalah orang yang sangat jujur.

Hanya orang-orang seperti Jasper dan yang lainnya yang sangat marah setelah mendengar kata-

kata ini.

“Sialan, munafik sok suci.”

Jeff sangat marah dan berkata, “Tuan kami pergi ke Negara Maple untuk memperluas pasar komersial, apa maksudmu menggelapkan uang orang lain? Mereka yang terus-terusan menyerang kami, kami hanya melindungi diri kami sendiri.”

Bab 1958 Penyelamat

“Benar.” Jasper juga sangat marah, “Sebagai Wakil Presiden Negara Emron, bajingan ini tidak melindungi rakyatnya sendiri, tapi malah mengatakan bahwa kami membunuh orang yang tidak bersalah tanpa pandang bulu dan melanggar hukumn???”

“Jebakan!” Lorenzo sangat tenang,

sangat tenang, “Dia hanya ingin menjebakku untuk melindungi dirinya

sendiri.”

“Tuan, kami akan melindungimu, Tuan pergi saja dulu.”

Sonny memegang pistol dan sekuat tenaga melindungi Lorenzo.

“Tenang saja, tidak akan ada yang berkurang satu pun!!”

Lorenzo mengucapkan kata-kata ini dengan tenang, mendorong mereka menjauh, dan berjalan. lurus ke depan..

“Berhenti!”

Prajurit di depan berteriak dengan keras.

Lorenzo tidak menghentikan langkahnya, dan terus melangkah maju….

“Jika kamu maju lagi, kami akan menembakmu!”

Pria itu mengancam dengan pistol, dan semua Prajurit di sekitarnya mengarahkan senjata mereka ke Lorenzo.

Jasper, Jeff, Sonny dan yang lainnya segera melangkah maju untuk melindunginya.

Situasi sekarang benar-benar sangat serius, Lorenzo dapat ditembak oleh orang-orang itu kapan saja….

Para tamu terhormat itu, serta orang-orang dari tiga keluarga besar, semuanya menonton, dan semuanya sangat khawatir.

Winston dan Michael tidak berani menghembuskan napas, juga tidak berani berkedip.

Cole menyipitkan matanya, menatap Lorenzo dan bergumam pada dirinya sendiri, “Lorenzo, jangan kecewakan aku, aku tidak percaya kamu dapat dikalahkan semudah itu!!!!”

“Tuan Ivan, apa kamu benar-benar ingin membunuh mereka semua?” Okky mengingatkannya dengan cemas, “Tuan pikirkan baik-baik, ekonomi Negara Emron sekarang sedang tidak baik, semuanya bergantung pada Grup Moore, dan Grup Moore sepenuhnya bergantung pada Tuan L, Jika dia mati. Itu ….”

“Diam.” Ivan menyela kata-kata Okky, dan berkata dengan dingin, “Aku tidak percaya, Negara Ermon dipenuhi dengan orang berbakat, bagaimana mungkin tidak ada orang seperti Lorenzo lagi di sini. Bahkan kalau tidak bisa menemukannya, kita bisa mendidiknya. Kalau benar-benar tidak bisa mendidiknya, aku bisa mengambil orang berbakat dari luar negeri untuk datang ke Negara Emron.”

“Ugh….”

Okky melihat Ivan yang terus bersikeras, dia tidak dapat membujuknya, jadi dia tidak mengatakan apa-apa lagi.

Pada saat ini, Juliana yang berhasil melarikan diri dari aula belakang, bergegas dengan kaki telanjang, dengan cemas menarik Ivan dan memohon, “Tuan Ivan, aku mohon, tolong biarkan L pergi, selama kamu bersedia melepaskannya, aku bisa melakukan apa saja ….”

Ivan mengerutkan kening, dan memberi isyarat dengan dingin.

Beberapa pengawal melangkah maju dan menyeret Juliana pergi.

Juliana masih meronta dan memohon tiada henti, “Tuan Ivan, Tuan Ivan ….”

“Diam!” Ivan kesal, “Berdiri di sini dan lihat Lorenzo mati di tanganku dengan mata kepalamu sendiri, jadi kamu tidak perlu memikirkannya lagi di masa depan.”

“Kamu ….

Juliana terkejut, pada saat ini dia menyadari bahwa keinginan untuk menikahinya hanyalah sebuah alasan, dan niat sebenarnya dari Wakil Presiden adalah untuk merebut harta Grup Moore dan memaksa Lorenzo.

Jika cara baik-baik tidak berhasil, maka dia akan menggunakan kekerasan!

Tapi, Lorenzo tidak tertipu olehnya, dia langsung melawan, dan menghadapi mereka semua…..

“Serang!”

Ivan memberi isyarat.

Prajurit itu mengerti maksudnya, dia segera mengangkat tangannya, dan bersiap memberi perintah….

“Lorenzo, di kehidupanmu selanjutnya, jangan terlalu sombong!”

Ivan mengangkat sudut bibirnya, sorot matanya dipenuhi keyakinan akan kemenangan.

Lorenzo menyipitkan matanya, menatap jauh ke depan

Dia melihat orang-orang itu akan menembak, pada saat itu, sebuah truk militer besar menuju ke

arah pengepungan dengan sangat cepat ….

Secepat kilat.

Sebelum semua orang bereaksi, mobil itu telah menerobos celah dan bergegas masuk ke tengah pengepungan!

“Apa itu?”

Okky tiba-tiba berteriak.

Ivan melihat lebih dekat dan mengerutkan kening. “Apa-apaan ini?”

“Semuanya turunkan senjata!!!”

Dalam sekejap mata, Dewi sudah keluar dari ruang kemudi dan berdiri di atap mobil.

Dia langsung merobek terpal di truk, mengeluarkan seluruh bom, memegang pistol di tangannya, menunjuk ke bom itu, dan berkata dengan dingin.

“Bom ini cukup untuk meledakkan seluruh Istana Presiden. Kalau kalian tidak percaya, bisa coba menembaknya!”

Bab 1959 Arogan

Kata-kata arogan ini, dan juga sorot mata yang tidak terkendali itu … terlihat sangat familiar!!!

“Tabib Dewi, itu Tabib Dewi!!”

Sonny berteriak terlebih dahulu, dia sangat bersemangat sampai suaranya tersedak, matanya. merah, dan dia memandang Dewi yang merupakan idolanya dengan tatapan kagum!!!

“Nona Wiwi….

Jeff dan Wezo menatap Dewi dengan bingung, sorot mata mereka penuh dengan ketidakpercayaan.

“Itu benar-benar Nona Wiwi, rupanya Nona kembali.”

Jasper tahu bahwa Dewi sudah pergi, dan kali ini, Lorenzo tidak menghentikannya, dia ingin melihat apakah Dewi benar-benar akan pergi…..

Ketika dia melihat Dewi berpura-pura menjadi Kelly, masuk ke ambulans dan melihatnya pergi dengan matanya sendiri, hatinya benar-benar sangat kecewa….

Dia mengira hubungan mereka akan segera berakhir, tetapi dia tidak pernah menyangka bahwa

Dewi akan kembali.

Lorenzo mengerutkan kening dan menatap Dewi dengan sorot mata yang rumit.

Wanita ini, mengenakan seragam perawat, telah menghapus riasan di wajahnya, dan seluruh wajahnya sangat kotor….

Dikepalanya masih mengenakan wig emas Kelly, orang yang berdiri jauh, tidak akan tahu dia siapa.

Hanya Lorenzo dan rekan dekatnya yang dapat mengenalinya dalam sekilas, ini adalah calon Nyonya mereka!!!

Tapi pada saat ini, Dewi tidak terpikir untuk menyapa mereka, dia hanya berpikir untuk menyelesaikan masalah terlebih dahulu….

“Ha, hahaha….” Prajurit itu menengadah ke langit dan tertawa, “Kamu bercanda? Dengan bom ini, kamu bisa meledakkan seluruh Istana Presiden?? Orang gila!!!”

Dewi tidak mengatakan apa-apa, dan langsung menembakkan pistol ke langit.

Segera, terdengar “Duar” bunyi ledakan yang keras, ledakan terjadi di taman yang tidak jauh dari sana, seluruh gudang diledakkan, dan tanah di dekatnya juga ikut terangkat.

Api menyala dan asap mengepul ….

Semua orang terkejut, bahkan Ivan juga terkejut.

“Ini….” Prajurit itu terkejut dan berkata, “Apa yang terjadi?”

“Truk bermuatan bom ini, tentu saja tidak cukup untuk meledakkan Istana Kepresidenan.”

Dewi menodongkan pistol ke Prajurit itu, dan berkata dengan arogan.

“Tapi aku telah menempatkan bom di setiap sudut Istana, dan orang-orangku sudah menunggu di sana, jika mereka menerima aba-aba dariku, mereka akan segera meledakkan bom itu….”

Setelah mengatakan hal itu, dia menoleh dan melihat Ivan yang berdiri di pintu aula yang sudah hancur, kemudian dia berteriak, “Tuan Ivan, menurutmu, apa ledakan berikutnya aka nada. ditempatmu?”

Setelah mendengar kata-kata itu, semua tamu terhormat yang berada di dekat aula terkejut, mereka ketakutan dan berkata pada Ivan dengan cemas, “Tuan Ivan, Anda tidak boleh mengabaikan keselamatan kami.”

“Ya, ya, Anda dan Tuan L punya dendam pribadi, tapi tidak perlu menarik kami sebagai kambing

hitam.”

“Benar ….”

“Dendam pribadi apa?” Okky segera menjelaskan, “Tuan L sudah melanggar hukum, Tuan Ivan sedang menangani kasus ini.”

“Jangan berpura-pura, kami bukan orang bodoh.” Seorang tamu berkata dengan marah, “Siapa pun dapat melihat apa yang terjadi, tapi itu bukan urusan kami, kami tidak ingin ikut campur, kalian ingin bertarung, itu urusan kalian. Biarkan kami keluar dari sini.”

“Benar, biarkan kami pergi dari tempat ini.”

Semua tamu-tamu terhormat itu sangat cemas dan mereka berteriak bersama-sama hingga membuat Ivan sakit kepala.

Raut wajah Ivan sangat dingin dan kesal. Jamuan makan malam ini sudah direncanakan sebelumnya, jadi dia mengundang orang-orang yang biasanya selalu mendukungnya.

Dia berpikir bahwa meskipun sesuatu yang tidak terduga terjadi, orang-orang ini tidak akan membocorkan rahasianya.

Tapi sekarang, begitu situasinya berubah, orang-orang itu segera memberontak, dan mereka semua berbalik melawan satu sama lain

Bukankah ini tidak setia??

Cole melihat semua ini dari tempat yang tidak jauh, kemudian dia mencibir, dia tahu bahwa Ivan pasti bingung sekarang, orang-orang ini biasanya adalah pendukungnya, kenapa sekarang mereka semua berubah?

Sebenarnya ini sangat mudah, semua ini karena Lorenzo terlalu hebat!

Bab 1960 Kamu Kalah

Semua orang tahu bahwa Lorenzo tidak mudah dihadapi, jika mereka tidak dapat membunuhnya malam ini, kelak setiap orang harus membayar akibatnya…..

Oleh karena itu, mereka terus menunggu dan melihat pertarungan itu, begitu Lorenzo memiliki kesempatan untuk bangkit, mereka akan segera berpindah, bahkan mereka mungkin akan berdiri di sisi Lorenzo.

Terlebih lagi, sekarang hidup mereka dalam bahaya, mereka semua kebingungan….

“Aku tidak punya kesabaran untuk menunggumu lagi.” Dewi menodongkan pistol ke Ivan, dan memerintahkan dengan arogan, “Aku akan menghitung sampai sepuluh, suruh bajingan-bajingan ini pergi, kalau tidak, aku tidak akan sungkan lagi!!!”

“Tabib Dewi keren!!!”

Sonny ingin bertepuk tangan untuk Dewi.

“Nona Dewi kamu adalah idolaku!!”

Wezo juga sangat bersemangat, sebelumnya dia telah ditindas oleh orang-orang Ivan, dan sekarang dia benar-benar lega.

“Dia memang benar-benar seorang idola. Aku mengagumi Nona Dewi.”

Jeff sangat bersemangat, dia merasa bahwa Dewi adalah wanita paling hebat di dunia.

“Setelah melewati kesusahan bersama, baru bisa menemukan teman sejati….”

Jasper mengerti suasana hati Lorenzo sekarang, ia menghela napas lega.

Lorenzo menatap Dewi tanpa mengatakan apapun, tapi bibirnya sedikit melengkung, matanya berbinar….

“Aku tidak percaya, kamu memiliki kemampuan untuk meletakkan bom di setiap sudut Istana kepresidenanku???” Ivan melihat sekilas trik dari Dewi, “Kamu hanya menempatkan satu atau dua hanya untuk menakuti-nakutiku, ‘kan?”

“Kamu yakin?” Dewi tersenyum, dan melepaskan dua tembakan ke langit.

Segera, terdengar dentuman “Duar, duar, duar” yang luar biasa, gudang cadangan senjata dan gudang makanan meledak pada saat bersamaan, terdengar suara gemuruh, dan terlihat nyala api di seluruh langit.

Asap tebal naik dan menyebar ke sekitarnya..

Kabut asap segera menyelimuti semua orang.

Semua orang terkejut, termasuk Perwira dan Prajurit, mereka semua panik, menatap Dewi dengan tak percaya, dan mereka mundur tanpa sadar.

Di sisi aula perjamuan, para tamu kehormatan itu menjadi lebih terkejut dan ketakutan. Sekarang mereka sudah tidak berpikir panjang lagi, mereka semua bergegas ke Ivan, meneriakinya dan memintanya untuk melepaskannya….

Bahkan Winston dan Michael juga cemas, mereka berdua benar-benar bingung sekarang, kemudian berkata dengan panik, “Gawat, kali ini benar-benar gawat.”

“Benar ‘kan apa yang aku bilang? Lorenzo bukan lawan yang mudah.”

Cole selalu menjadi orang yang paling tenang, dia menyipitkan matanya, menatap Dewi dengan dingin, kemudian dia menghela napas.

“Sekarang aku akhirnya mengerti, kenapa Lorenzo sangat ingin menikahi wanita biasa itu!!!!”

Dia tidak menyelesaikan kalimat terakhirnya, tapi dia sangat yakin di dalam hatinya bahwa wanita ini pasti memiliki keahlian lebih dari ini.

Masih muda, latar belakangnya sederhana, tapi bisa menghadapi masalah besar, tidak peduli bertemu dengan siapa ataupun masalah apapun, dia bisa menghadapinya dengan baik dan

tenang.

Sekarang, pada saat kritis seperti ini, dia datang untuk menyelamatkan Lorenzo dari bahaya….

Wanita seperti ini tidak bisa dibandingkan dengan wanita kaya dan terkenal mana pun!!!

Jangankan Juliana, bahkan selebritas terkenal di seluruh dunia juga tidak bisa dibandingkan dengannya

Pantas saja Lorenzo yang sombong itu bisa terus melekat padanya!

Ini seperti menemukan harta karun.

Dan di sudut tembok, Pangeran Willy yang sejak tadi tidak bersuara, hanya bisa menunduk dengan menahan senyum pahit di bibirnya

Dia menyaksikan semua ini, melihat keberanian dan tak terkalahkannya Lorenzo, dan juga melihat ketulusan cinta Dewi pada Lorenzo!

Tiba-tiba, dia merasa cemburu pada Lorenzo, dia cemburu pada kekuatannya, kemampuannya, dan bahkan dia lebih cemburu lagi, karena Dewi ada di sisinya!!!

Kekacauan telah terjadi di aula perjamuan, tapi Ivan tetap menolak untuk menyerah. Sekarang situasinya sudah menjadi seperti ini, jika Lorenzo diizinkan pergi, maka dia yang akan celaka.

212

Bab 1961 Benar-benar Hebat

Ivan sangat kesal pada para tamu terhormat itu, kemudian dia mengarahkan pistol ke Lorenzo berniat untuk membunuhnya ….

Pada saat ini, nampak sebuah helikopter datang dari kejauhan, helikopter itu berwarna perak dan terdapat logo ular emas, itu adalah pasukan Prajurit Kepresidenan.

Okky bergegas menarik Ivan dan berkata dengan cemas, “Presiden ada di sini, kita tidak boleh bertindak gegabah lagi.”

Ivan melihat helikopter yang ada di langit, kemudian melihat Lorenzo.

Pada saat yang sama, Lorenzo juga menatapnya dengan tatapan mengejek, berkata dengan dingin, “Kamu kalah!!!”

Ivan menghentikan langkahnya dan menyadari bahwa Perjamuan Hongmen malam ini bukan direncanakan olehnya untuk Lorenzo, tetapi ini jebakan yang dibuat oleh Lorenzo untuknya!!!

Lorenzo sengaja memperburuk keadaan, dia sengaja memprovokasinya, kemudian berbalik menggunakan metodenya untuk mencelakainya… sekaligus!!!!

“Tipuan yang bagus!”

Melihat pemandangan ini, Pangeran Willy menyipitkan matanya, dan dia baru menyadari bahwa selama ini dia telah meremehkan Lorenzo.

Dia selalu berpikir bahwa Lorenzo memang memiliki kemampuan, tetapi temperamennya sulit diatur, dan dia tidak memiliki strategi yang baik.

Sekarang ia baru menyadari bahwa Lorenzo dapat menyusun strategi tanpa direncanakan, mengubah kekalahan menjadi kemenangan, dan sikap arogannya tidak ada yang bisa menandingi!!!

“Hebat sekali!”

Cole sangat bersemangat, pada saat ini, dia melihat ke arah Lorenzo lagi, dan dia merasa lebih. kagum padanya dari sebelumnya…

Ketika dia melawan Lorenzo di masa lalu, surat dari Bella Moore yang telah membantu Lorenzo. menyelesaikan masalah itu, mereka berdua tidak pernah berkesempatan untuk saling berhadapan secara langsung!

Dapat dikatakan bahwa beberapa tahun-tahun ini, selain keterampilan berbisnisnya, Cole belum. pernah melihat trik Lorenzo yang sebenarnya, tetapi hari ini, dia akhirnya dapat melihatnya!

Hebat, benar-benar hebat!

1/2

Selain kemunculan tunangannya yang tidak direncanakan, semua kejadian merupakan rencana. Lorenzo.

Ivan, Wakil Presiden yang bermartabat, seorang ahli strategi yang ambisius, begitu dia melakukan serangan, dia langsung dikalahkan oleh Lorenzo, tanpa diberikan kesempatan untuk melawannya!

Sekarang dia sudah tidak mungkin bisa untuk melarikan diri ….

“Cole, apa kamu mengerti? Apa, apa yang terjadi di sini?” Michael bertanya pada Çole dengan panik, “Kenapa pasukan helikopter Presiden datang? Mungkinkah ….”

Setelah mengatakan itu, Michael tiba-tiba membuka matanya lebar-lebar, “Mungkinkah Lorenzo telah membuat kesepakatan dengan Presiden terlebih dahulu, dan sengaja memprovokasi Ivan untuk mengalahkannya?”

“Akhirnya, kamu mengerti.” Cole tersenyum dingin, “Aku sudah pernah bilang, jangan bertarung dengan L., kamu tidak akan tahu apa yang akan terjadi.”

Mendengar kalimat ini, kaki Michael jadi lemas dan dia hampir jatuh ke lantai ………

Winston bergegas memapahnya, dan berkata dengan bingung. “Cepat pikirkan jalan keluarnya. kalau tidak, keluarga kita akan mati.”

“Kamu ingin aku berpikir bagaimana lagi? kali ini, aku sudah mengambil segala resiko, aku, aku… Michael hampir menangis, “Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan?”

“Masih ada kartu AS lain.” Winston menatap Michael.

Pada saat ini, Juliana masih berdiri di sana dengan linglung, memandang ke langit dengan tatapan kosong, dia sepertinya memahami semuanya, dan juga teringat apa yang dikatakan Lorenzo padanya…..

Jika dia menyukai Wakil Presiden, Lorenzo tidak akan menghentikannya untuk menikah. dengannya, tapi jika itu demi bisnis keluarga, dirinya tidak perlu melakukannya.

Sekarang, Juliana akhirnya mengerti bahwa Lorenzo sejak awal sudah mengetahui semuanya.

Dia cukup hebat untuk bersaing dengan siapa pun, dia tidak perlu mengorbankan cinta untuk melindungi kepentingan keluarga. Dia telah melakukannya

Sayangnya, dia tidak menyadarinya lebih cepat.

“Ya, putrimu masih bisa menyelamatkan hidupmu.” Cole mencibirnya, “Karena di saat-saat terakhir, Juliana memohon pada Ivan untuk melepaskan L, L pasti akan membalas kebaikannya!”

Michael menghela napas lega setelah mendengar kata-kata ini, untungnya masih ada jalan. keluar

2/2

Bab 1962 Idolaku

Ivan telah dikalahkan.

Selain pasukan yang ada di helikopter, Presiden juga mengutus pasukan lain berjaga di luar

Istana.

Begitu dia berteriak, Prajurit langsung masuk dan menaklukkan anak buah Ivan.

Dalam sekejap, semua tamu terhormat yang hadir di sana bersaksi untuk Lorenzó, mereka mengatakan bahwa Wakil Presiden gagal merebut harta keluarga Grup Moore, jadi dia menuntut Lorenzo dengan tuduhan yang tidak beralasan, dan bahkan mencoba membunuhnya….

Singkatnya, Presiden yang sudah lama tidak senang dengan Ivan, memanfaatkan kesempatan ini untuk melepas jabatan Ivan!

Sedangkan Lorenzo sudah membawa tunangan dan pasukannya keluar dari Istana Wakil Presiden

“Kali ini, apa aku datang dengan sia-sia lagi?”

Dewi melihat formasi di luar jendela, pasukan Prajurit berdiri tegak di kedua sisi jalan dan memberi hormat pada rombongan keluarga Moore.

Dia merasa sedikit kesal, mengingat bahwa dia telah dua kali menyelamatkan Lorenzo di Negara Maple, tetapi pada akhirnya, dia menyadari bahwa Lorenzo telah mengatur segalanya….

Kali ini, juga sama.

Dia melepaskan kesempatan untuk melarikan diri, kembali untuk menyelamatkannya, dan menarik perhatian orang lain, dia pikir kali ini dia akan menjadi pahlawan wanita sungguhan ….

Tetapi pada akhirnya, dia menyadari bahwa meskipun dia tidak kembali, Lorenzo juga dapat menyelamatkan dirinya sendiri!

Sebenarnya, semuanya ada dalam rencana Lorenzo, hanya dia yang tidak termasuk di dalamnya!

“Tuan, kali ini Tuan telah menyembunyikannya dari kita semua.” Jeff merasa sedih, “Masalah sebesar ini, bahkan aku pun tidak tahu.”

“Jangankan kamu, aku juga tidak tahu.” Jasper menghela napas, “Oh, aku benar-benar sakit hati, aku sampai tidak tidur semalaman.”

“Aku juga.”

“Aku juga.”

Sonny dan Wezo juga ikut menanggapi.

“Aku pergi menemui Presiden seorang diri.” Lorenzo berkata dengan datar, “Mata Ivan sangat jeli, Kalau menunjukkan sedikit kelemahanmu, dia bisa segera menyadarinya.”

“Benar.” Para pengawal tidak berani berkata lebih banyak.

Tapi, Dewi punya pendapat lain, “Kalau aku tahu dari awal, aku tidak akan kembali, susah payah. aku melarikan diri, huh!”

“Kamu ingin melarikan diri lagi?” Lorenzo mencubit wajah kecilnya dan mendekatinya, “Kamu mau melarikan diri kemana? Hm?”

“Aku….”

Saat Dewi ingin berbicara, Lorenzo sudah mencium bibirnya.

Yang lainnya bergegas memalingkan wajah, tidak berani melihat lagi.

“Apa yang kamu lakukan.”

Dewi sedikit malu dan wajahnya memerah.

“Apa kamu benar-benar menyembunyikan bom di setiap sudut Istana Kepresidenan?” Lorenzo mengangkat wajahnya dan bertanya dengan rasa ingin tahu, “Tidak mungkin secepat itu, ‘kan.”

“Hanya tiga dan semuanya sudah meledak.”

Dewi menjawab dengan bangga.

“Hahaha, begitu rupanya.”

Beberapa orang yang mendengarnya juga ikut tertawa.

“Tampaknya tebakan Ivan benar, Nona menggunakan ketiga bom itu untuk menimbulkan kekacauan, dan membuat tamu terhormat itu terus menekan Ivan….” Jasper mengaguminya, “Trik ini benar-benar sangat hebat!*

“Benar.” Jeff bertanya dengan penuh semangat, “Nona Dewi, bagaimana Anda bisa menaruh bomnya? Dan siapa yang Anda suruh untuk meledakkan bomnya?”

“Mungkinkah perawat itu?” Jasper juga penasaran.

“Tentu saja bukan, bi….”

Dewi hampir mengatakan bahwa Bibi Lauren-lah yang pergi terlebih dahulu, tetapi di saat yang tepat, dia menarik kembali kata-katanya.

“Tidak sulit untuk menempatkan bomnya, ketika kembali dengan kendaraan Militer, aku tidak menyangka bahwa kendaraan Militer itu akan langsung menuju gudang penyimpanan senjata, jadi aku segera meletakkan bom di taman dalam dan gudang bahan makanan.

Sedangkan untuk gudang penyimpanan senjata, hanya perlu memasang detonator. Selain itu, ada banyak anjing pemburu di Istana, aku memanggil mereka untuk membantuku menekan detonator….”

“Jadi, yang membantumu adalah anjing-anjing pemburu itu?” Sonny sangat bersemangat, “Tabib Dewi, kamu luar biasa!!!!”

“Ya, aku sangat mengagumimu.” Wezo berkata dengan jujur, “Kamu adalah idolaku!!!”

*Hahaha, idolaku juga….

Sekelompok orang itu mengungkapkan kekaguman mereka pada Dewi, terutama Wezo yang begitu menyanjungnya.

Bahkan mereka tidak pernah mengagumi Lorenzo seperti itu.

Bab 1963 Semoga Kamu Bahagia

Namun, Lorenzo tidak marah, hanya menatap Dewi sambil tersenyum. Tatapan matanya penuh dengan kebanggaan..

Walaupun tidak mengatakan apa-apa, ia sangat merasa bangga. Lihat, inilah wanita Lorenzo!!!

Dewi sangat tersanjung hingga membanggakan dirinya. Dia bersandar di pelukan Lorenzo, tertawa tanpa henti. Benar-benar lupa akan masalah melarikan diri….

Setelah mobil kembali ke kastil Keluarga Moore, Dewi baru tiba-tiba teringat. Gawat, kembali terkurung lagi. Sekarang, benar-benar sulit untuk melarikan diri!!!

“Kring….”

Tiba-tiba, ponsel Lorenzo bergetar. Dia melirik nama penelepon, dan menjawab panggilan, “Halo!”

Tidak tahu apa yang dikatakan oleh orang di ujung telepon, Lorenzo mengerutkan keningnya, diam selama beberapa detik, dan berkata dengan dingin.

“Pak Presiden, aku pergi ke Kota Bunaken untuk mengurus urusan pribadi. Keluarga Wallance berseteru dengan Keluarga Moore. Bagaimana mungkin aku bekerja sama dengan mereka?”

Bapak Presiden ini, berbeda dengan Ivan. Dia baik hati dan berbicara dengan nada lembut, selalu. menegur Lorenzo dengan kata-kata yang baik.

Menghadapi sikap seperti itu, Lorenzo tidak bisa marah, namun juga tidak mau berkompromi, “Aku harus pergi. Ada masalah apa, tunggu aku kembali baru dibicarakan!”

“Lorenzo, masalah sudah di puncaknya sekarang. Kekuatan Wakil Presiden tidak bisa diremehkan. Meskipun kali ini kita memegang kelemahannya, tapi kalau kamu tidak hadir di sidang pengadilan, akan sulit bagiku untuk menekannya sendirian.

Di saat kritis ini, kamu harus hadir. Masalah lainnya, apa tidak bisa ditunda dua hari? Kalau benar-benar perlu diurus, bisa minta bawahan yang mengurusnya. Aku juga bisa mengirim orang untuk membantu.

Aku bahkan bisa menghubungi pihak Negara Nusantara untuk meminta bantuan. Selama dirimu. bisa tinggal, semuanya akan lebih mudah….”

Nada suara Presiden seperti memohon. Sulit bagi Lorenzo untuk menolaknya.

Dia mengerutkan kening, merasa kesulitan….

“Urus masalah penting dulu.”

Meskipun Dewi tidak mengerti bahasa Emron, tapi mungkin mengerti apa yang sedang terjadi.

Sekarang, menyelesaikan sisa masalah Ivan sudah ada di depan mata. Dan pada saat ini, hanya Presiden yang dapat membuat Lorenzo menjawab telepon dan menempatkannya dalam posisi dilema.

“Biarkan aku sendiri bebas selama beberapa hari. Jangan terus menempel padaku. Aku kembali ke Kota Bunaken sebentar, dan mungkin saja bisa menemukan Tabib Legendaris itu lebih cepat.”

Dewi tampak seperti tidak menyetujui Lorenzo.

“Tuan, aku bisa menemani Nona Dewi ke sana. Anda jangan khawatir, kami pasti akan melindunginya!” Jeff buru-buru mengusulkan.

“Benar. Kita pergi dulu, dan kamu menyusul setelah urusan selesai juga bisa.” Dewi menambahkan, “Jangan menunda masalah penting karena aku. Aku akan merasa bersalah.”

“Baiklah.” Akhirnya Lorenzo terbujuk, ia setuju dengan Presiden, “Besok aku akan ke sana dari bandara.”

“Oke, aku akan menunggumu.” Pak Presiden sangat senang, “Sampaikan salamku pada Nona Wiwi, dan sampaikan terima kasihku!”

“Oke.”

Setelah menutup telepon, Lorenzo mencubit dagu Dewi, memperingatkan dengan sungguh- sungguh, “Sembuhkan penyakitmu dengan patuh, dan berhenti berpikir untuk melarikan diri, mengerti?”

“Aku tahu.”

Dewi menjawab tanpa berpikir, dan sedikit terkejut setelah dia menjawabnya. Ternyata, dirinya bisa menyetujui Lorenzo begitu saja ….

Apa dia benar-benar tidak berencana untuk melarikan diri?

Tapi, jika tidak melarikan diri, pasti akan menikah.

Memikirkan hal ini, Dewi merasa sedikit emosional, dan kepalanya mulai sakit lagi..

Kembali ke kastil, Lorenzo menggendong Dewi kembali ke kamarnya, menyuruh Nola untuk menjaganya dengan baik, lalu pergi ke ruang kerja.

Masih banyak yang perlu ia urus. Tidak hanya Ivan, tapi juga tiga keluarga besar harus diberi pelajaran pada kesempatan ini.

Nola menyuruh pelayan mengisi air mandi untuk Dewi, melayaninya mandi dan berganti pakaian. Dewi makan malam di kamar, kemudian tertidur di tempat tidurnya

2/2

la sangat lelah dan ingin tidur. Tapi pada saat ini, Bibi Lauren meneleponnya, “Dewi, bagaimana kabarmu?”

“Aku baik-baik saja. Bibi Lauren ada di mana?”

Dewi terbangun dari tidurnya.

Bab 1964 Panas Membara

“Aku masih di Kota Snowy. Baguslah Bibi tidak apa-apa. Aku khawatir.” Bibi Lauren menghela napas lega, “Di luar aku melihat ada ledakan besar di istana Presiden, lalu ada kendaraan militer dan juga helikopter. Seperti berperang saja, menakutkan orang.”

“Masalahnya sudah selesai.” Dewi berkata dengan suara rendah, “Rupanya, Lorenzo sudah mengatur rencana.”

“Dia lebih tenang dari yang kukira.” Bibi Lauren menghela napas dengan tulus. “Ketika aku melihat deretan helikopter, aku tahu semuanya ada dalam rencananya. Bahkan kalau kamu tidak. kembali, dia akan baik-baik saja.”

“Benar….” Dewi tersenyum pahit, “Setiap kali aku maju membantunya, akhirnya tetap tidak ada gunanya!”

“Jangan berkata begitu.” Bibi Lauren tertawa, “Akhirnya, kamu bisa memahami perasaanmu sendiri dengan jelas ….”

“Perasaan?” Dewi tertegun.

“Kamu sudah jatuh cinta padanya, apa kamu tidak sadar?” Bibi Lauren menghela napas, “Dewi, kamu tidak boleh mengabaikan apa yang aku katakan padamu sebelumnya. Lakukan apa yang bisa membuatmu senang. Bibi hanya berharap kamu bahagia!”

Dewi sangat tersentuh dengan perkataan Bibi Lauren.

“Dewi, kamu harus segera kembali ke Kota Bunaken dan mencari gurumu untuk melakukan operasi. Hal lainnya, nanti saja dibicarakan. Masalah ini tidak bisa ditunda lagi, mengerti?”

Bibi Lauren mengingatkannya dengan sungguh-sungguh.

“Baiklah.” Dewi mengangguk, “Oh ya, Brandon, aku akan segera mencari Jeff dan minta mereka untuk melepaskan Brandon. Nanti Brandon harus ke mana untuk bertemu Bibi?”

“Hotel Alila!”

“Mengerti.”

Setelah menutup telepon, Dewi pergi mencari Jeff dan memintanya untuk melepaskan Brandon.

Jeff menyuruh orang untuk melakukannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun, bahkan tanpa mengajukan pertanyaan.

Sebaliknya, Dewi yang jadi penasaran, “Kamu setuju begitu saja, tidak takut Lorenzo akan memarahimu?”

1/2

“Sebelum pergi, Tuan sudah memerintahkan, kami harus melakukan apa yang Nona minta.” Jeff berkata sambil tersenyum, “Termasuk melepaskan kakak mantan itu!”

“Pfft!” Dewi tidak tahu harus tertawa atau menangis ketika mendengar julukan ini, “Sudah, cepat lepaskan dia. Antar dia ke…”

“Hotel Alila, aku tahu.” Jeff memotong kata-katanya

“Bagaimana kamu bisa tahu?”

Dewi sedikit terkejut. Mereka bahkan tahu tempat persembunyian Bibi Lauren?

“Hehe….” Jeff tersenyum malu, lalu menundukkan kepalanya dan berkata, “Aku akan mengantarnya ke sana sendiri. Nona tenang saja.”

Segera, dia pergi dengan tergesa-gesa ….

Dewi menatap punggungnya dengan perasaan yang rumit. Sepertinya, sejak awal Lorenzo tahu bahwa Bibi Lauren dan dirinya adalah rekan. Kalau begitu, apa dia juga tahu identitas Brandon?

Mungkinkah masalah Saint Foundation dan Panti Asuhan Zambe, telah ia selidiki juga?

Dewi kembali ke kamar dengan cemas sambil terus berpikir

Dia harus mengakui bahwa hatinya memang sedikit tersentuh….

Awalnya, dia sangat yakin bahwa seumur hidupnya dia tidak akan pernah menikah, tidak terikat dengan apa pun. Dia ingin menyelesaikan misinya dalam kehidupannya yang terbatas!!!

Tapi sekarang, dia tiba-tiba menyadari bahwa dia tidak ingin meninggalkan Lorenzo.

Dia sudah terbiasa dengan kedekatannya, terbiasa dengan melihatnya setiap pagi saat membuka

matanya.

Ketika dalam bahaya, Dewi akan merasa khawatir, cemas, dan mengerahkan segalanya untuk menyelamatkannya.

Apa yang dikatakan Bibi Lauren barusan, membuatnya memikirkan kembali hubungannya dengan Lorenzo.

Sepertinya, dia benar-benar menyukainya….

Dewi berbaring di tempat tidur sambil berpikir, lalu tertidur.

Tidak tahu dia tertidur berapa lama, dalam keadaan linglung, dia merasa ada seseorang yang sedang menciumnya….

Ciuman lembut dari dahi berlanjut ke bawah. Mata, pipi, bibir, leher, lanjut ke bawah dengan

2/3

pancaran panas membara….

Aroma yang familiar ini, Dewi tahu bahwa Lorenzo telah kembali.

Malam ini dia sepertinya minum anggur, aroma anggur yang pekat menyebar di antara napasnya, dengan penuh gairah yang membara.

Seperti akan menyalakan hasratnya

Bab 1965 Kebenaran dan Keadilan

Dewi membuka matanya yang mengantuk dan menatap Lorenzo.

Lorenzo membuka kancing bajunya sambil menciumnya. Tindakannya yang emosional ini, membuat orang jatuh cinta dan juga takut.

Dewi mendorong bahunya dengan gugup. Saat hendak berbicara, tangan Lorenzo langsung masuk ke bawah roknya….

“Aaa-”

Dewi tertegun dan membelalakkan matanya. Seluruh tubuhnya menjadi tegang, ia mendorongnya dengan panik. Tapi ciumannya yang bergairah, bagaikan badai yang datang menyerang….

Membuatnya lengah!!

Awalnya Dewi ingin menolak, tapi tubuhnya dengan jujur tenggelam di bawahnya. Lemas seperti genangan air. Tidak ada ruang untuk melawan lagi…..

Api ini, membakar dengan intens

Butir-butir keringat mengalir dari dahi Lorenzo. Jatuh setetes demi setetes di tubuh Dewi.

Dewi menutup matanya dengan gugup, menggigit bibir bawahnya, tidak berani menatapnya.

Ketika Lorenzo hendak menguasainya, pada saat ini, terdengar sirene mobil di luar. Seolah-olah dikejutkan oleh sesuatu, semua sirene mobil berbunyi bersamaan. Suaranya memekakkan telinga.

Dewi tiba-tiba tersadar dan buru-buru mendorong Lorenzo.

Lorenzo juga terganggu, mengenakan celananya, dan berjalan ke jendela untuk memeriksa. Raut wajahnya tiba-tiba menjadi muram ….

Dia mengambil bajunya dan berjalan keluar sambil mengenakannya…..

Ketika dia membuka pintu, bawahannya datang untuk melapor, “Tuan, itu Brandon!”

“Di mana orangnya?” Lorenzo bertanya dengan dingin.

“Sudah ditangkap.” Bawahan itu menundukkan kepalanya dan melaporkan.

“Bawa masuk.” Lorenzo melangkah turun ke bawah.

“Baik.

Begitu Dewi mendengarnya, dia buru-buru berpakaian dan mengikutinya.

Brandon dipukuli lagi, meringkuk seperti burung puyuh, terlihat menyedihkan.

Lorenzo emosi begitu melihatnya, lalu menendangnya….

“Hentikan!!!”

Dewi berteriak dengan panik.

Meskipun Lorenzo kesal, tapi dia masih menahan kekuatannya dan menendang Brandon ke

lantai.

Dewi berlari ke bawah seperti angin, dan dengan cemas membantu Brandon berdiri. Melihat darah di wajahnya, dia tertegun, “Brandon, kenapa kamu….

Dia menoleh dan bertanya, “Siapa yang memukulnya?”

Wezo melangkah maju dengan lemah, “Maaf, Tabib Dewi, aku!”

“Kenapa kamu memukulnya?” Dewi memelototi Wezo dengan marah, lalu berbalik dan bertanya pada Jeff, “Bukankah kamu bilang, kamu sendiri yang mengantarnya ke Hotel Alila?”

“Nona Dewi, begini masalahnya

Jeff buru-buru menjelaskan.

“Dua jam yang lalu, aku menawarkan untuk mengantarnya pergi, tapi dia tidak mau. Bersikeras bilang dia terluka parah dan akan mati di jalan, harus ke dokter dulu. Aku pun memanggil dokter untuk mengobatinya dan mengajaknya ke mobil. Tapi dia malah mengambil kesempatan ini untuk lari, menghancurkan mobil tanpa alasan, dan membuat keributan….”

“Brandon.” Dewi mengerutkan kening dan bertanya padanya, “Kenapa kamu tidak pergi? Apa yang ingin kamu lakukan?”

“Pergi bersama, mati bersama!!”

Brandon memegang erat tangan Dewi. Meskipun dia dipukuli seperti anak kecil, tapi tatapannya

sangat tegas.

Penampilannya yang penuh kepolosan dan ketekatan, benar-benar membuat dirinya sendiri sangat tersentuh!

Seolah-olah, Dewi adalah tawanan yang ditangkap. Demi dia, Brandon rela hidup dan mati bersamanya, tidak akan pergi seorang diri.

Dewi terdiam, tidak tahu harus berkata apa.

“Ingin mati ya?” Lorenzo menatap tangan Brandon, dan memerintahkan dengan garang, “Akan ku kabulkan permintaanmu!”

“Lorenzo….”

“Pengawal.”

“Baik.”

“Potong tangannya!!!”

Lorenzo menunjuk tangan Brandon yang memegang Dewi.

“Baik!”

Brandon ketakutan hingga wajahnya pucat pasi, namun ia tetap melindungi Dewi di belakangnya, dan berteriak dengan penuh emosi, “Kalau ingin memotong tanganku, potong saja. Tapi, jangan sentuh dia ….”

“Ayo, sini kamu!”

Jeff langsung menariknya dan menendangnya ke lantai.

Beberapa bawahan menginjak tubuhnya, membuatnya tidak bisa bergerak. Jeff hendak bertindak. dengan mengayunkan pisau besar….

“Beraninya kalian!” Dewi berteriak dengan marah, “Mundur semuanya!!!”

2/

Bab 1966 Brandon yang Sering Dipukuli

Kali ini, semua orang tidak berani bergerak. Mereka semua memandang Lorenzo.

Lorenzo mengerutkan kening dan hendak berbicara. Dewi memelototinya dengan marah, “Kenapa? Kata-kataku tidak ada gunanya?”

Hati Lorenzo dipenuhi amarah, tapi masih mengertakkan gigi dan mengangguk, “Ada!”

“Lepaskan.” Dewi berteriak.

Jeff dan yang lainnya pun mundur.

Brandon terbaring di lantai seperti kura-kura yang terbalik, menatap Dewi dengan linglung….

Apa yang terjadi?

Kenapa sohibnya ini tampak seperti pemilik tempat ini?

“Bawa kotak obat ke sini.” Dewi langsung memerintahkan Kelly.

Kelly memandang Lorenzo dengan takut.

Lorenzo tidak menanggapi. Jasper memberi isyarat, dan Kelly buru-buru berkata “baik”, lalu bergegas mengambil kotak obat.

Dewi mengobati luka Brandon dengan tangannya sendiri di hadapan Lorenzo.

Tindakan itu, sangat intim.

Mata Lorenzo hampir menyemburkan api, terus memelototi Brandon.

Brandon meliriknya dengan lemah, lalu buru-buru menarik pandangannya. la gemetar karena

gugup.

Keringat terus mengalir di dahinya, bercampur dengan darah.

“Kenapa kamu berkeringat begitu banyak?”

Dewi menyeka keringatnya dengan handuk basah,

Tangan Lorenzo yang memegang cangkir sedikit mengencang “Prang”, cangkir itu langsung pecah berkeping-keping….

Brandon sangat ketakutan hingga hampir mati.

Dewi mengerutkan kening, berbalik menatap Lorenzo, “Kembalilah ke kamarmu.”

Lorenzo menoleh dengan ekspresi tidak percaya. Beraninya wanita ini memerintahnya??

“Aku bilang kembali ke kamarmu.” Dewi menendangnya, “Aku akan kembali sebentar lagi.”

Kalimat terakhir, diucapkan dengan nada yang lebih lembut.

Meskipun Lorenzo tidak senang, dia tetap menurutinya.

Sebelum pergi, dia memelototi Brandon dengan tatapan seperti ingin memakannya.

Brandon ketakutan hingga gemetar.

Dewi mengobati luka Brandon, dan berkata padanya dengan suara rendah, “Sudah selesai. Sekarang, aku akan menyuruh seseorang untuk mengantarmu ke Hotel Alila, bertemu Bibi Lauren. Patuh dan berhentilah membuat masalah”

“Dewi, kamu tidak pergi bersamaku?”

Brandon buru-buru menariknya, takut dia akan menghilang.

“Aku….” Dewi berpikir sejenak dan menjawab dengan serius, “Aku tidak pergi. Kalian tidak perlu mengkhawatirkan aku.”

“Kalau begitu, masalah pengobatan

“Kami akan terbang ke Kota Bunaken besok untuk mengurus masalah pengobatan.” Dewi menyelanya dan berkata dengan penuh arti, “Kamu bekerjalah dengan baik. Jangan khawatir tentang hal lain.”

Maksudnya adalah, kamu rawat panti asuhan dengan baik. Jangan peduli dengan urusanku.

“Kamu ini, benar-benar ingin bersama dengannya?

Ketika Brandon mengatakan ini, dia melihat sekeliling dengan lemah.

Lebih dari selusin pasang mata menatapnya, seolah berkata, jika kamu berani menghasut nyonya kami pergi lagi, kami akan menghabisimu.

“Ya.” Dewi mengangguk dan berkata sambil tersenyum, “Sekarang, aku adalah nyonya di rumah ini. Apa kamu tidak lihat? Mereka semua menurutiku.”

“Sepertinya iya…”

Brandon memang menemukan bahwa tidak hanya orang-orang ini yang menurutinya, bahkan Lorenzo si iblis itu juga menurutinya.

Sekarang, sobatnya ini sudah jadi orang hebat.

Sepertinya, dia tidak akan menderita kemanapun dia pergi, karena dia bahkan bisa menaklukkan

Lorenzo Moore!

“Pergilah.” Dewi menepuk pundaknya dan mengingatkan Jeff. “Antar dia sampai tempat tujuan. Kalau terjadi sesuatu, aku akan meminta pertanggungjawabanmu.”

“Baik, Nona Dewi.”

Jeff menundukkan kepalanya dan menerima perintah. Bersikap hormat sama seperti pada

Lorenzo.

“Kamu harus jaga dirimu dengan baik. Kalau kamu diusik atau putus, ingat beri tahu aku….”

Brandon menasihati dengan tidak rela.

“Tidak ada yang berani mengganggu nyonya kami. Ayo cepat pergi.”

Jeff langsung mengangkat Brandon dan menyeretnya ke dalam mobil. Takut dia akan berkata

omong kosong lagi, memicu amarah tuannya.

Brandon masuk ke dalam mobil, menjulurkan kepalanya ke luar jendela dan berteriak, “Hei, sobat, jangan lupa, lakukan operasi secepat mungkin. Selesai operasi, kabari keadaanmu….”

“Banyak omong!!!” Jeff memutar matanya, “Tidak heran sering dipukuli!!!”

3/3

uan yang Malang

Dewi berdiri di depan pintu, memperhatikan mobil Jeff pergi.

Setelah mengantar Brandon pergi, dia pun sudah menyelesaikan satu masalah….

Nola telah membuat camilan malam, ia bertanya pada Dewi ingin makan di kamar atau di ruang. makan. Dewi merasa perutnya sedikit tidak enak, berterima kasih padanya, lalu naik ke atas.

Kembali ke kamar, begitu pintu ditutup, sepasang tangan yang kuat memeluknya’dari belakang…

“Aaa….”

Dewi terkejut. Saat hendak menoleh ke belakang, Lorenzo menciumnya dari belakang dan mendorongnya ke dinding. Membuatnya tidak bisa melawan.

“Uh….”

Dewi tidak bisa bergerak sama sekali. Hanya bisa menerima dengan paksa ciuman dari Lorenzo yang tidak terkendali.

Dia seperti binatang buas. Dengan aura yang tak tergoyahkan, menyerangnya dengan kuat, ia pasti akan memilikinya malam ini….

Dewi meronta beberapa kali, lalu tidak bergerak lagi. Tubuhnya terkulai lemas di pelukannya, membiarkan dia merabanya.

Lorenzo meniru penampilan dalam film cinta, mengangkat roknya dan ingin menyerang. Pada saat ini, dia tiba-tiba menyadari sesuatu, buru-buru menghentikan gerakannya

“A… apa ini?” Lorenzo buru-buru melepaskan Dewi dan menatapnya, “Kamu terluka?”

“Apa?” Dewi menatapnya dengan bingung.

“Kenapa ada darah di bokongmu?”

Lorenzo mengangkat tangannya. Tadi dia menyentuhnya, lalu menemukan ada darah.

“Eh….” Dewi tersipu dan bergegas ke kamar mandi.

“Wiwi, kamu baik-baik saja?” Lorenzo lekas mengerjarnya dan bertanya, “Perlu panggil dokter?”

“Tidak perlu!”

Dewi benar-benar ingin mencari lubang di lantai dan masuk ke dalamnya. Tadi dia merasa sedikit tidak enak badan, dan ingin kembali ke kamar untuk memeriksa. Tapi begitu pintu ditutup, dia ditahan dan terus dicium oleh Lorenzo

1/3

Cepat siapkan pembalut untukku!”

“Eh….”

Nola dan kedua pelayan itu membeku.

“Cepat, cepat siapkan.” Nola bereaksi dengan cepat dan mendesak pelayan untuk menyiapkannya, “Dan minta koki buatkan suplemen penambah darah.”

“Baik.”

Para pelayan bergegas melakukannya.

“Nona Wiwi, aku akan siapkan air mandi. Anda mandilah dengan air hangat. Semuanya akan siap saat Anda keluar nanti.”

“Terima kasih, Bibi Nola.”

Setelah Nola menyiapkan airnya, dia pun keluar dari kamar mandi, menggelengkan kepalanya dan mendesah, “Tuan yang malang, sampai sekarang masih perjaka. Duh….”

010

Dewi tertegun dan membelalakkan matanya. Seluruh tubuhnya menjadi tegang, ia mendorongnya dengan panik. Tapi ciumannya yang bergairah, bagaikan badai yang datang menyerang….

Membuatnya lengah!!

Awalnya Dewi ingin menolak, tapi tubuhnya dengan jujur tenggelam di bawahnya. Lemas seperti genangan air. Tidak ada ruang untuk melawan lagi…..

Api ini, membakar dengan intens

Butir-butir keringat mengalir dari dahi Lorenzo. Jatuh setetes demi setetes di tubuh Dewi.

Dewi menutup matanya dengan gugup, menggigit bibir bawahnya, tidak berani menatapnya.

Ketika Lorenzo hendak menguasainya, pada saat ini, terdengar sirene mobil di luar. Seolah-olah dikejutkan oleh sesuatu, semua sirene mobil berbunyi bersamaan. Suaranya memekakkan telinga.

Dewi tiba-tiba tersadar dan buru-buru mendorong Lorenzo.

Lorenzo juga terganggu, mengenakan celananya, dan berjalan ke jendela untuk memeriksa. Raut wajahnya tiba-tiba menjadi muram ….

Dia mengambil bajunya dan berjalan keluar sambil mengenakannya…..

Ketika dia membuka pintu, bawahannya datang untuk melapor, “Tuan, itu Brandon!”

“Di mana orangnya?” Lorenzo bertanya dengan dingin.

“Sudah ditangkap.” Bawahan itu menundukkan kepalanya dan melaporkan.

“Bawa masuk.” Lorenzo melangkah turun ke bawah.

“Baik.

Begitu Dewi mendengarnya, dia buru-buru berpakaian dan mengikutinya.

Brandon dipukuli lagi, meringkuk seperti burung puyuh, terlihat menyedihkan.

Lorenzo emosi begitu melihatnya, lalu menendangnya….

“Hentikan!!!”

Dewi berteriak dengan panik.

Meskipun Lorenzo kesal, tapi dia masih menahan kekuatannya dan menendang Brandon ke

lantai.

Dewi berlari ke bawah seperti angin, dan dengan cemas membantu Brandon berdiri. Melihat darah di wajahnya, dia tertegun, “Brandon, kenapa kamu….

Dia menoleh dan bertanya, “Siapa yang memukulnya?”

Wezo melangkah maju dengan lemah, “Maaf, Tabib Dewi, aku!”

“Kenapa kamu memukulnya?” Dewi memelototi Wezo dengan marah, lalu berbalik dan bertanya pada Jeff, “Bukankah kamu bilang, kamu sendiri yang mengantarnya ke Hotel Alila?”

“Nona Dewi, begini masalahnya

Jeff buru-buru menjelaskan.

“Dua jam yang lalu, aku menawarkan untuk mengantarnya pergi, tapi dia tidak mau. Bersikeras bilang dia terluka parah dan akan mati di jalan, harus ke dokter dulu. Aku pun memanggil dokter untuk mengobatinya dan mengajaknya ke mobil. Tapi dia malah mengambil kesempatan ini untuk lari, menghancurkan mobil tanpa alasan, dan membuat keributan….”

“Brandon.” Dewi mengerutkan kening dan bertanya padanya, “Kenapa kamu tidak pergi? Apa yang ingin kamu lakukan?”

“Pergi bersama, mati bersama!!”

Brandon memegang erat tangan Dewi. Meskipun dia dipukuli seperti anak kecil, tapi tatapannya

sangat tegas.

Penampilannya yang penuh kepolosan dan ketekatan, benar-benar membuat dirinya sendiri sangat tersentuh!

Bab 1968 Menyebalkan

Dewi pun mandi lagi, berganti piyama yang bersih dan nyaman, minum sup bergizi yang disiapkan oleh Nola, dan berbaring dengan nyaman di tempat tidur, bersiap untuk tidur. Lalu, pintu kamar pun terbuka….

Pria itu datang lagi!!!

“Aku lagi mens, kamu masih mau?”

Dewi duduk, mengambil bantal dan melemparnya ke arahnya.

Lorenzo menangkap bantal dan berbaring miring di sampingnya. Begitu dia mengulurkan tangannya, dia merangkul tubuh mungilnya ke dalam pelukannya. Mengusapnya seperti anak kucing.

“Jangan main-main denganku.”

Dewi menghindarinya dengan gelisah, takut akan sifat buasnya menyebabkan pertempuran

darah.

“Aku hanya ingin peluk.” Lorenzo berbisik sambil menggigit telinganya, mencubit bokongnya dengan tangannya yang besar, “Kalau kamu bergerak lagi, aku tidak bisa menahannya lagi.”

Lalu, Dewi menurutinya, meringkuk di pelukannya dengan patuh, tidak bergerak sama sekali.

“Apa perutmu sakit?”

Telapak tangan panas Lorenzo terulur ke dalam piyamanya, membelai perutnya dengan lembut, memberinya kehangatan yang berbeda.

“Tidak sakit lagi.”

Dewi mendongak dan menatapnya, wajahnya yang tegas terlihat sangat tampan di bawah cahaya redup. Meski dalam kegelapan, mata yang berwarna coklat muda itu masih bersinar terang.

Dia mengerutkan bibirnya, merasakan adanya dorongan untuk menciumnya

“De… wi!” Lorenzo tidak menanggapinya, membisikkan namanya dengan lembut dan bergumam, “Nama ini bagus. Tapi, aku masih lebih suka memanggilmu Wiwi!”

“Dulu, aku memanggilmu apa?”

Dewi masih belum sepenuhnya mengingat beberapa detail di masa lalu. Dia hanya ingat bahwa mereka memang memiliki hubungan cinta pertama yang indah…..

Kepingan itu sering muncul di benaknya, tapi dia tidak bisa mengingat beberapa detail.

1/3

“Sikapmu tidak sopan!” Lorenzo memutar matanya, “Setiap kali, kamu memanggilku hei!”

“Hahaha. Itu gayaku.” Dewi tertawa, “Lalu, kenapa kamu memanggilku Wiwi?”

“Kamu yang mengatakannya sendiri. Aku tanya siapa namamu, kamu bilang Wiwi!”

Lorenzo mencubit hidungnya.

“Itu salah….” Dewi menyipitkan matanya, mengingat dengan hati-hati, “Nama Wiwi ini agak familiar. Tapi sepertinya, itu bukan namaku.”

“Jangan bicara omong kosong.”

Lorenzo terlalu malas untuk memikirkan hal sepele ini, lalu dia mendekat dan menggigit. bibirnya yang lembut…

“Ugh….”

Dewi membelalakkan matanya karena panik. Kedua tangan menahan pundaknya, takut pria ini akan lepas kendali.

Namun, ciuman Lorenzo menjadi semakin dalam. Dengan napas yang bergairah dan membara, seolah ingin melelehkannya

Dewi sangat gugup hingga seluruh tubuhnya tegang. Kedua lengannya memukul punggungnya dengan panik.

Tapi, tubuhnya sekokoh tembok besi. Tidak bergerak sama sekali.

Setelah sekian lama, akhirnya dia melepaskannya, menggigit dagunya dan berkata, “Jangan khawatir, aku hanya menciummu. Tidak akan menyentuhmu….”

“Tapi, ugh….”

Seluruh tubuh Dewi mati rasa. Tidak mampu menahan antusiasnya, hanya bisa memejamkan mata dan diam-diam menerimanya.

Malam yang sunyi dan indah seperti air yang mengalir. Di luar, kepingan salju yang besar berjatuhan satu demi satu. Jatuh di dalam kastil, menumpuk menjadi sebuah dunia yang putih.

Seperti dua hati yang murni itu….

Tidak tahu berapa lama, Dewi sudah tidak tahan dicium olehnya. Tapi, Lorenzo dengan enggan melepaskannya. Tiba-tiba dia bangkit dan bergegas ke kamar mandi.

Dewi memeluk bantal dan menatap pintu kamar mandi dengan heran, tidak tahu apa yang akan dia lakukan.

2/3

Setelah beberapa saat, Lorenzo keluar dengan aura dingin di sekujur tubuhnya. Masih ada tetesan air di tubuhnya yang belum dikeringkan, terlihat sedingin es.

“Kamu mandi? Astaga, kamu mandi air dingin?”

Dewi merasa seluruh tubuhnya sedingin es. Dia memukuli dadanya dengan marah, “Kamu tidak takut masuk angin.”

“Ini salahmu!”

Lorenzo menariknya ke dalam pelukannya, menekan kepala kecilnya di dadanya, “Tidur!”

“Menyebalkan.”

3/3

Bab 1969 Cemburu

Tidak tahu apakah karena ada di dalam pelukan Lorenzo, Dewi merasa sangat tenang.

Malam ini, Dewi tidur nyenyak….

Tidak bermimpi sepanjang malam, bangun secara alami di pagi hari.

Dewi merasa fisk dan mentalnya sangat nyaman, berbaring seperti biasanya, menguap, dan berguling di tempat tidur, seperti kucing kecil yang malas.

Tiba-tiba, dia menyadari bahwa orang di sampingnya sepertinya telah menghilang.

Dia melihat sekeliling, benar-benar tidak ada!!!

Juga tidak ada suara di kamar mandi.

“Lorenzo, Lorenzo!!!” Dewi berteriak dua kali, “Pria Brengsek?? Kamu ada tidak???”

Masih tidak ada suara.

Baiklah, mungkin dia bangun pagi.

Tadi malam, Dewi merasa bahwa Lorenzo tidak tidur nyenyak. Meskipun tidak ada pergerakan di tengah malam, tapi tubuhnya terus kaku dan tegang. Kondisinya tidak rileks sama sekali.

Tapi, dirinya malah tidur nyenyak. Seolah-olah, merasa dia bisa menghipnotisnya.

Suasana hati Dewi sangat baik, lalu bangun untuk mandi. Pada saat ini, terdengar ketukan di pintu, lalu suara Nola terdengar, “Nona Wiwi, bolehkah aku masuk?”

“Silakan masuk!”

Dewi masih menyikat giginya, mulutnya dipenuhi dengan busa.

Nola masuk bersama dua pelayan untuk merapikan kamar, dan membawakan Dewi teh jahe gula merah untuk menghangatkan perutnya….

“Nona Wiwi, turunlah setelah minum teh. Tuan sedang menunggumu untuk sarapan.”

“Ya.”

Dewi merapikan dirinya dan turun bersama Nola.

Lorenzo duduk tegak di ruang makan, sedang sarapan. Meja penuh dengan sarapan lezat. Semuanya masakan Nusantara, dan itu makanan favorit Dewi.

“Pagi!”

Dewi berjalan ke meja makan dengan energik, duduk dan mulai makan.

Tingkah lakunya ini, benar-benar seperti anak kecil.

“Pagi!” Lorenzo menatapnya sambil tersenyum. Sorot matanya terlihat sangat memanjakannya, “Makan pelan-pelan. Tidak ada yang merebutnya darimu.”

“Enak, yang ini juga enak ….” Mulut Dewi penuh makanan, dan berkata sambil makan, “Hmm… aku ingat. Sepertinya, aku tidak makan apa-apa tadi malam.”

“Haha….” Lorenzo tidak bisa menahan tawa, “Berarti, kamu di perlakukan dengan tidak baik!”

Dewi tidak membalasnya, dan terus makan.

Lorenzo menyesap tehnya dengan anggun dan melihatnya makan sambil tersenyum. Seolah, ini juga semacam kenikmatan….

Tuan, Nona Juliana ingin bertemu Anda!”

Pada saat ini, bawahan datang untuk melapor.

“Beri tahu dia, aku tidak punya waktu sekarang.” Lorenzo melihat jam tangannya, “Suruh dia datang lagi saat malam.”

“Baik.” Bawahan segera pergi untuk menyampaikan.

Datang lagi saat malam….

Keempat kata kunci ini, seperti dua tulang ikan yang menusuk di tenggorokan Dewi.

Dia tidak bisa makan lagi, meletakkan peralatan makan, menyeka mulutnya dan menatap dingin

ke arah Lorenzo.

“Hm? Kenapa tidak makan lagi?” Lorenzo menatapnya sambil mengangkat alisnya.

“Karena aku sedang tidak bisa, kamu langsung suruh orang lain datang?” Dewi menyipitkan mata dan bertanya dengan marah, “Perencanaan ini, dilakukan dengan baik ya!”

“Eh….” Lorenzo tertegun sejenak, lalu tertawa “haha”, “Kamu cemburu?”

“Cih!” Dewi memelototinya, bangkit dan hendak pergi.

Lorenzo buru-buru menahannya, lalu memerintah bawahannya, “Katakan padanya, tidak perlu datang lagi saat malam. Sore minta Jasper pergi mencarinya dan sampaikan pesanku.”

“Baik. Bawahan itu segera menyusul keluar.

“Sekarang sudah oke?” Lorenzo menatap Dewi sambil tersenyum.

Dewi duduk dan merasa dirinya sedikit tidak masuk akal. Sebenarnya, Lorenzo seharusnya tidak tertarik pada Juliana, jika tidak, ia tidak mungkin berkata demikian di hadapannya…..

Mungkin saja, mereka hanya membicarakan bisnis?

Memikirkan hal ini, dia pun berubah pikiran dan berkata, “Sebenarnya, aku tidak bermaksud begitu. Kalau kamu ingin menemuinya, temui saja. Aku tahu, kalian mungkin membicarakan bisnis.”

“Bisnis apa yang aku bicarakan dengannya?” Lorenzo berkata dengan santai, “Membicarakan bisnis, tidak dengan dia”

“Jadi maksudmu, membicarakan masalah pribadi?”

Dewi bertanya dengan tidak senang.

Bab 1970 Keuntungan Menikah Dengannya

“Mungkin.” Jawab Lorenzo dengan santai.

Wajah Dewi muram lagi, mengerutkan bibirnya.

“Coba ini ….” Lorenzo menaruh sepotong kue ketan untuknya, “Koki baru yang membuatnya.”

Dewi telah kehilangan nafsu makannya. Saat hendak berbicara, bawahannya datang untuk melapor lagi. “Tuan, pesawat pribadi sudah disiapkan.”

“Ya.” Lorenzo menjawab, menoleh dan berkata pada Dewi, “Saat kembali ke Kota Bunaken, patuh dan jangan sembarangan pergi. Jeff akan bertanggung jawab untuk mencari Tabib Hansen itu. Ketika dia menemukannya, urusanku juga mungkin sudah selesai dan akan segera ke sana.”

“Baiklah Dewi berpikir akan segera berpisah, hatinya sedikit enggan, “Kamu urus masalahmu. sendiri dulu. Jangan khawatirkan aku. Sebenarnya, aku ….

Tuan, panggilan dari Pak President

Awalnya, Dewi ingin memberi tahu Lorenzo bahwa Tabib Hansen adalah gurunya. Tapi saat ini, Jasper bergegas datang dengan membawa ponsel.

Lorenzo menjawab telepon, “Pak Presiden! Aku akan segera ke bandara. Oke, tiba di sana jam sepuluh. Apa mendesak? Baiklah, aku akan secepat mungkin.”

Setelah menutup telepon, Lorenzo melirik jam tangannya, tapi dengan santai berkata pada Dewi. “Makan lagi. Tidak usah buru-buru.”

“Tidak. Ayo, berangkat.”

Dewi tahu bahwa Lorenzo harus mengurus banyak hal penting. Insiden Ivan menyebabkan banyak masalah dan perlu ditangani dalam segala aspek. Masih ada tiga keluarga besar yang juga perlu diselesaikan pada kesempatan ini.

Di saat ini, dia tidak boleh mengganggunya.

“Baiklah. Aku akan minta koki pergi bersamamu. Kamu tidak akan lapar di pesawat.”

Lorenzo mencium keningnya dan memerintahkan para bawahannya bersiap-siap untuk berangkat.

Nola mengambilkan ransel Dewi dari atas. Dewi memeriksanya, semua perhiasan dan dokumen ada di dalam.

Lorenzo memperhatikannya sedang memeriksa perhiasan, tidak bisa menahan tawa dan berkata, “Lihatlah sikapmu. Menikah denganku, kamu bisa mendapatkan setengah dari semua hartaku.

Apa gunanya perhiasan kecil ini?”

“Benar juga.” Dewi tiba-tiba menyadarinya, “Jadi, berapa banyak harta yang kamu miliki?”

“Untuk sementara, tidak tahu. Aku belum pernah menghitungnya.” Lorenzo benar-benar memikirkannya dengan serius, “Tapi perhiasan ini, kamu bisa membelinya setiap hari ….”

“Miliaran perhiasan, aku boleh membelinya setiap hari? Beli sampai tua?” Dewi membelalakkan matanya dengan heran, “Jadi, seberapa kaya kamu???”

“Aku menghasilkan uang setiap hari.” Lorenzo tiba-tiba menyadari sesuatu. “Tapi, kalau keinginan belanjamu sangat tinggi, mungkin aku masih harus bekerja ketika sudah tua nanti….

“Saat tua nanti, masih ada anak. Saat itu, anak-anak yang akan menghasilkan uang untuk kita.” Ucap Dewi tanpa banyak berpikir.

“Boleh juga.” Lorenzo mengangkat alisnya, “Kalau begitu, kamu harus melahirkan beberapa anak laki-laki untukku. Untuk mewarisi harta keluarga!]

Kenapa anak laki-laki?” Tanya Dewi penasaran.

“Di Negara Emron, warisan keluarga diwariskan oleh anak laki-laki bukan anak perempuan.” Lorenzo berkata dengan sungguh-sungguh, “Kalau tidak, dengan kemampuan bibiku saat itu, dia seharusnya sudah berkuasa sejak lama. Bagaimana mungkin dia bisa disingkirkan?”

“Ternyata, masih ada pemikiran seperti itu.” Dewi marah, “Ngomong-ngomong, apa ada yang namanya kekayaan pranikah di Negara Emron?”

“Tidak ada.” Lorenzo menggelengkan kepalanya, “Di Negara Emron, selama istri dari pernikahan resmi, statusnya sangat tinggi!”

“Benarkah?” Dewi sangat gembira. Tiba-tiba merasa, menikah dengan Lorenzo bukanlah hal yang buruk….

“Pikirkan baik-baik.” Lorenzo memanjakannya dengan mengusap kepalanya, “Ketika kamu sembuh, cepat menikahlah denganku. Menjadi Nyonya Moore, berarti sejajar denganku sebagai pemegang saham utama Grup Moore!”

“Hahaha. Bagus sekali….”

Dewi

sangat senang dan bahkan mulai berangan-angan di saat dia telah menjadi pemegang saham utama Grup Moore…..

Saat itu, dia akan mendirikan yayasannya sendiri. Dengan begitu, panti asuhannya tidak perlu lagi khawatir akan masalah kekurangan dana.

Melihatnya tersenyum bahagia, Lorenzo tiba-tiba menemukan cara, Sejak awal bertindak dari sisi ini, mungkin akan berhasil…..

Bab 1971 Firasat Buruk

Dalam perjalanan ke bandara, Lorenzo memeluk Dewi, enggan untuk berpisah. Meskipun hanya berpisah selama beberapa hari, tapi hatinya merasa tidak tenang.

Malah, Dewi yang tidak berperasaan. Dia masih berencana ingin kulineran setelah kembali ke Kota Bunaken, juga berkata ingin bertemu dengan beberapa teman lamanya.

Intinya, dia sama sekali tidak mengkhawatirkan Lorenzo, dan juga tidak memikirkan kapan mereka bisa bertemu lagi…..

Lorenzo berinisiatif untuk mengatakannya lagi, “Aku akan mencarimu begitu selesai. Tunggu

aku!”

“Tidak usah buru-buru. Kamu urus dengan baik urusanmu.” Dewi tidak terlalu peduli.

Hati Lorenzo agak sedih. Wanita bodoh ini, mengapa tidak memikirkannya sama sekali?

Tanpa sadar, mereka telah tiba di landasan pesawat.

Setelah turun dari mobil, salju telah berhenti. Semua personel bandara sudah melakukan persiapan. Jasper sedang membicarakan situasi pada mereka dan membawa semua barang bawaan ke dalam pesawat.

Lorenzo merapikan kerah Dewi, memegang wajahnya dengan tangannya dan berkata dengan lembut, “Ingat, jangan pergi sembarangan. Tunggu aku!”

Sebuah kalimat yang sederhana, mengandung kasih sayang dan nasihat.

Lorenzo biasanya tidak suka banyak bicara. Tapi hari ini, dia selalu mengingatkannya beberapa kali di sepanjang jalan…..

“Aku tahu!”

Dewi berjinjit dan menciumnya.

Lorenzo tercengang. Ini adalah pertama kalinya dia berinisiatif untuk menciumnya.

Kegembiraan meledak di hatinya. Dia dengan semangat ingin membalas ciumannya, tapi Dewi

telah melarikan diri ….

Seperti seekor kelinci, dia menaiki tangga dan langsung berlari ke pintu kabin, baru berbalik dan. melambai padanya, “Pergilah!”

Lorenzo menatapnya dengan penuh kasih sayang. Dia mengatupkan bibirnya, memikirkan ciuman tadi, hatinya dipenuhi dengan kebahagiaan ….

“Sangat romantis! Iri!!!”

Jasper memandang mereka dengan iri, merasa bahagia untuk tuannya dari lubuk hatinya. Dia merasa bahwa Tuan akhirnya berhasil karena terus bertahan dan pantang menyerah.

Dewi masuk pesawat dengan wajah merah dan melihat keluar melalui jendela.

Lorenzo berdiri di depan mobil, enggan untuk pergi….

Keduanya melambaikan tangan melalui jendela pesawat. Pada saat ini, Dewi merasa sangat tidak rela. Dia mulai mengetahui dengan jelas posisi Lorenzo di hatinya!

Tidak tahu kenapa, Lorenzo merasa agak khawatir. Mungkin khawatir karena Dewi yang masih ingin melarikan diri, atau mungkin khawatir tentang apa yang mungkin terjadi.

Dia berulang kali memperingatkan Jeff, “Harus lindungi dia dengan baik. Tidak boleh terjadi masalah.”

“Tuan, Anda jangan khawatir. Aku akan melindungi Nona dengan nyawaku.” Jeff bersumpah.

“Juga awasi dia. Jangan biarkan dia kabur.”

Lorenzo menambahkan lagi.

“Haha. Baik, Anda tenang saja!”

Jeff memberi hormat pada Lorenzo dan membawa orang-orang naik ke pesawat.

Lorenzo dengan enggan masuk ke mobil dan pergi. Jasper dengan bercanda berkata, “Tuan, ini pertama kalinya aku melihat Anda berbicara begitu banyak.”

Bahkan dalam hal bisnis, Lorenzo juga singkat dan jelas, tidak pernah berbicara terlalu banyak.. Tapi hari ini, dia telah mengulangi satu kalimat hingga berkali-kali….

Sampai sekarang, masih ada kegelisahan di hatinya.

Dia bahkan sedikit menyesal, seharusnya tidak berjanji pada Presiden untuk tinggal. Dia seharusnya menemani Dewi ke Kota Bunaken dulu. Setelah selesai operasi, dia akan membawa Dewi kembali bersamanya, baru menangani masalah lain.

Setelah berkelana menjelajahi dunia, mereka akhirnya bertemu. Akhirnya, Dewi juga membuka hatinya dan jatuh cinta padanya….

Sekarang malah berpisah begitu saja.

Dirinya bahkan memiliki firasat buruk, selalu merasa bahwa perpisahan kali ini adalah untuk selamanya….

Pikiran ini melintas di benaknya. Hati Lorenzo semakin gelisah, ia mengerutkan keningnya.

Melihatnya seperti ini, Jasper segera menghiburnya, “Tuan, jangan khawatir, tidak akan terjadi apa-apa. Negara Nusantara adalah negara hukum. Jauh lebih aman daripada Negara Emron. Jeff membawa begitu banyak orang, pasti bisa melindungi Nona Dewi dengan baik.

Selain itu, Nona Dewi sendiri juga memiliki kemampuan yang hebat. Setiap dalam keadaan darurat, dia tetap datang menyelamatkan Anda. Apa yang bisa terjadi padanya?”

“Aku justru khawatir kemampuannya terlalu hebat, Jeff tidak akan bisa mengawasinya….” Lorenzo menghela napas, “Mungkin aku yang terlalu banyak berpikir. Dia seharusnya tidak akan melarikan diri lagi, ‘kan?”

“Tidak akan. Kurasa, dia sudah jatuh cinta pada Tuan.”

Bab 1972 Rupanya Ini Rasanya Jatuh Cinta

Mendengar kata-kata Jasper dan mengingat Dewi yang mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkannya kemarin. Juga mengingat keintimannya semalam dan ciuman perpisahan tadi ….

Hati Lorenzo berangsur-angsur menjadi tenang. Dia meyakinkan dirinya sendiri jangan berpikir yang tidak-tidak, harus percaya padanya!

Dewi bersandar di kursi dengan linglung. Jelas sebelumnya dia masih terlihat tenang, juga tidak merasa sedih karena perpisahan, bahkan dia juga tidak memeluknya sebelum berpisah.

Tapi sekarang, ia seorang diri, hatinya terasa hampa….

Sosok Lorenzo memenuhi pikirannya, juga wajahnya yang tampan, pelukannya yang hangat dan lengannya yang kuat…..

Saat ada disisinya, ia tidak merasakan apa-apa. Sekarang ia tidak disisinya, ia merasa sangat kehilangan.

Ternyata, begini rasanya menyukai seseorang.

“Nona Dewi, ingin makan sesuatu?”.

Terdengar sebuah suara yang familiar.

Dewi mendongak, ternyata Sonny, ia sangat gembira, “Sonny, kamu juga ikut?”

“Iya. Tuan menyuruhku untuk mengikuti Kak Jeff melindungi Anda.”

Setiap kali Sonny bertemu dengan Dewi, bintang-bintang bersinar di matanya, penuh dengan kekaguman.

“Haha. Bagus, bagus.” Dewi tiba-tiba tertawa, “Jadi, Wezo tinggal di Kota Snowy bersama Jasper?”

“Iya.” Sonny mengangguk lagi, “Akhir-akhir ini, Wezo sangat mendapat perhatian. Jadi, Tuan selalu membawanya di sisinya.”

“Ya, kamu juga bagus. Semangat.” Dewi tersenyum padanya.

T

“Hehe….” Sonny menggaruk kepalanya karena malu. Wajahnya pun memerah.

“Nona Dewi, apa Anda ingin istirahat di kamar? Penerbangan akan memakan waktu 14 jam.” Jeff bertanya dengan khawatir.

“Oke, aku tidur sebentar. Saat hampir tiba, kalian panggil aku.”

Dewi benar-benar sedikit mengantuk, mungkin karena sedang menstruasi.

Jeff memantau rute perjalanan. Meski kemungkinan kecelakaan sangat kecil, tapi dia tetap sangat berhati-hati….

Dia tahu jelas posisi Nona Dewi di hati Tuan, tidak boleh membiarkan apapun terjadi pada nyonya masa depan ini.

Pesawat pribadi melewati awan. Setelah penerbangan 14 jam, mereka tiba di Kota Bunaken, Negara Nusantara.

Orang-orang mereka yang ada di Kota Bunaken datang untuk menjemput. Jeff mengantar Dewi menaiki mobil dan langsung melaju ke vila di Laut Selatan.

Sepanjang jalan, Dewi melihat pemandangan di luar jendela dan ia langsung merasa senang. Dibandingkan dengan negara lain, dia tetap lebih menyukai Negara Nusantara dan Kota Bunaken.

Kekayaan alamnya berlimpah dan maju, perikemanusiaan juga tetap ada. Mulai muncul bayang- bayang kenangan.

Gedung tinggi di kedua sisi jalan. Iklan produk teknologi Grup Sky Well, ditampilkan di layar elektronik besar. Terlihat bahwa industri Grup Wallance telah berkembang pesat di Negara

Nusantara.

Grup Smith yang awalnya merupakan perusahaan terkemuka di Kota Bunaken, kini telah kehilangan jejak. Seperti perahu layar yang menghilang di laut. Seolah-olah, keberadaannya tidak. pernah ada.

Sebaliknya, iklan Keluarga Sandya dan Keluarga Caledon sesekali muncul di beberapa tempat. Meski tidak semenarik Grup Sky Well, tapi masih ada kedudukannya….

Hanya dalam waktu sebulan, pasar Kota Bunaken telah mengalami perubahan yang mengejutkan.

Kehidupan juga sama. Berjuang keras menghadapi bahaya, tidak dapat diprediksi ….

Hati Dewi sedikit emosional. Saat sedang berkhayal, ponselnya berdering, dia buru-buru menjawabnya, “Halo!”

“Sudah sampai?” Suara Lorenzo lembut dan ramah.

“Ya, baru saja tiba, masih di mobil.” Dewi juga tidak seangkuh dan sedingin sebelumnya, malah sedikit lebih lembut, “Bagaimana kamu bisa tahu nomor ponselku?”

“Jika ingin tahu, pasti akan tahu.” Lorenzo berkata dengan dingin dan bangga, “Sudah sampai, tapi tidak mengabariku. Posisi pemegang saham utama Grup Moore, masih mau atau tidak?”

“Hahaha ….” Dewi tertawa keras, “Mau. Tentu saja mau.”

“Mulai sekarang, harus telepon dan kirim pesan setiap hari. Mengerti?” Lorenzo seperti memerintah dan juga meminta.

“Hehehe. Oke.”

Wajah Dewi sedikit memerah. Rupanya, ini rasanya jatuh cinta ….

Bab 1973 Kekhawatiran

“Tuan Lorenzo….” Sebuah suara memanggil dari ujung telepon, “Pak Presiden sedang menunggu balasanmu.”

“Kamu masih kerja?” Dewi bertanya, “Ini sudah larut malam ‘kan di Kota Snowy?”

“Ya.” Lorenzo menjawab, “Seharusnya di Kota Bunaken masih sore. Setelah tiba, kamnu istirahat yang baik. Aku mau rapat.”

“Baiklah. Pergi bekerjalah.” Dewi segera berkata.

“Kamu cium …

Awalnya, Lorenzo ingin dia menciumnya. Tapi sebelum dia selesai berbicara, Dewi langsung menutup teleponnya.

Dia menghela napas. Wanita ini, benar-benar tidak berperasaan.

Dewi sedang memegang ponselnya, bersandar di kursi dan berangan-angan. Rupanya, perasaan jatuh cinta itu begitu indah, selalu ada seseorang yang memikirkannya dan dirinya juga selalu memikirkannya di dalam hati…..

Kebahagiaan dan perasaan manis seperti ini, belum pernah ia rasakan sebelumnya.

“Setelah sekian lama mengikuti Tuan, aku belum pernah melihat Tuan peduli pada seseorang seperti ini.” Jeff menghela napas dengan tulus, “Nona Dewi, Anda yang pertama!”

“Dan juga yang terakhir!”

Kata Dewi tanpa berpikir, lalu ia tertegun setelah selesai mengatakannya.

Ternyata dia punya pemikiran seperti itu, mulai merasa posesif. Yang artinya, dia benar-benar jatuh cinta…..

Setibanya di vila pinggir pantai, semuanya yang ada di sini sangat spesial.

Gaya Lorenzo yang biasanya mengutamakan keindahan, sederhana, dan kenyamanan. Dia tidak pernah mengejar kemewahan dan kemegahan. Setiap tempat tinggalnya, memiliki gayanya sendiri.

Dewi sangat menyukai tempat ini. Laut dapat terlihat dari balkon kamar.

Saat itu adalah sore hari. Matahari terbenam seperti darah, memercik di laut, berkilau, benar- benar indah di pandang.

Setelah Jeff dan bawahannya selesai beres-beres, mereka datang dan melapor pada Dewi, “Nona

Dewi, aku siap-siap pergi ke Kota Tua sebentar. Sonny dan delapan bawahan lainnya ada di sini untuk melindungi Anda. Coba lihat, apa Anda masih kekurangan sesuatu?!”

“Kota Tua?”

Dewi berpikir dalam hati, tampaknya mereka benar-benar telah menemukan tempat persembunyian gurunya. Hanya saja, tidak tahu apakah mereka dapat mengundang pria tua itu.

Dia ragu untuk memberi tahu Jeff dengan jelas tentang hubungannya dengan gurunya. Tapi setelah memikirkannya, dia memutuskan untuk melupakannya. Mungkin jika mengatakannya, Tabib Hansen tidak akan datang.

Anggap saja mengundangnya sebagai orang asing. Mungkin saja Tabib Hansen akan datang ke Kota Bunaken dengan melihat ketulusan Jeff.

Lagi pula, Kota Tua dan Kota Bunaken tidak terlalu jauh. Dulu, Tabib Hansen punyai teman dekat di sini.

Walaupun kepribadiannya keras kepala, tapi dia juga seorang dokter yang adil dan bijaksana

“Benar. Kami menemukan Tabib Legendaris itu di Kota Tua. Namun, lokasi pastinya masih. diselidiki. Jadi, aku perlu membawa orang ke sana memeriksanya sendiri.” Kata Jeff.

“Tabib Legendaris seperti ini, biasanya mungkin mengasingkan diri di pegunungan. Kamu bisa coba memeriksanya….

Dewi memberi sedikit petunjuk.

“Anda benar. Aku akan segera menyelidikinya.” Jeff tiba-tiba menyadarinya, “Kalau begitu, aku berangkat sekarang. Kalau ada sesuatu, katakan pada Sonny kapan saja.”

“Oke, pergilah.” Dewi mengangguk.

Jeff pergi dengan tergesa-gesa. Dewi memikirkan sesuatu lagi, buru-buru memanggilnya, “Tunggu sebentar….”

Jeff menghentikan langkahnya dan melihat ke arahnya, “Nona Dewi masih ada pesan?”

“Kalau kamu sudah bertemu dengan Tabib itu, jangan beri tahu dia siapa aku….” Dewi memberitahunya dengan serius, “Juga jangan beri tahu dia nama dan asalku. Cukup bilang saja usia dan lukaku.”

“Mengerti.” Jeff mengangguk, “Tuan juga bilang begitu. Lagi pula, saat ini Anda berstatus khusus. Dalam banyak hal, lebih baik bersikap sederhana saja.”

“Ya, pergilah.”

“Baik.”

Jeff pergi bersama beberapa orang.

Dewi berpikir bahwa dia akan segera bertemu gurunya. Dalam hatinya, dia berharap dan juga gelisah ….

Dia berharap bertemu dengan gurunya, mendapatkan persetujuan darinya. Namun juga khawatir gurunya akan mengenalinya dan masih menyimpan kebencian terhadapnya. Dewi tidak tahu harus bagaimana menghadapi gurunya….

Bab 1974 Orang Gila

Dewi bersandar di kursi malas. Saat sedang berpikir, ponselnya bergetar lagi. Kali ini, telepon dari Bibi Lauren, dia menjawab dengan cepat, “Bibi!”

“Dewi, kamu sudah sampai di Kota Bunaken?” Ketika Bibi Lauren berbicara, Brandon juga berteriak di samping. “Biar aku yang bicara, biar aku yang bicara….”

Bibi Lauren berteriak, “Diam.“

“Baru saja tiba.” Dewi berkata sambil tersenyum. “Aku sedang di tepi pantai. Di sini sangat.

indah….”

“Kamu sudah menemukan gurumu? Kapan operasinya?”

Apa yang Bibi Lauren tanyakan, selalu langsung ke intinya.

“Jeff sudah pergi mencarinya. Aku beri tahu sedikit petunjuk padanya. Dia seharusnya dapat segera menemukannya….”

“Jangan segera, harus secepatnya.” Bibi Lauren berkata dengan panik, “Aku dapat kabar bahwa orang itu telah dibebaskan dari penjara.”

“Apa?” Ekspresi wajah Dewi berubah, “Bukankah dia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup? Bagaimana bisa keluar begitu cepat?”

“Siapa yang tahu. Lagipula, ada kekuasaan organisasi.” Bibi Lauren berkata dengan suara rendah, “Orang itu adalah orang gila, sangat berbahaya. Dia pasti akan balas dendam padamu. Kamu harus berhati-hati!”

Mendengar kata-kata ini, Dewi terdiam ….

“Dewi, apa kamu mendengarku?” Bibi Lauren bertanya dengan cemas, “Sekarang, ada Keluarga Moore yang melindungimu. Aku masih bisa tenang. Di situasi genting ini, kamu tidak boleh berpikir untuk melarikan diri lagi.

Bergeraklah dalam area perlindungan mereka dengan tenang. Ketika berhasil mengundang Tabib Hansen, kamu jalani perawatan dengan baik. Hal lainnya, tunggu sampai kamu pulih. Mengerti?”

“Aku tahu….” Dewi menghela napas, “Tapi, tetap saja aku berhutang nyawa padanya….”

“Jangan berpikir begitu. Kejadian itu adalah kecelakaan.” Bibi Lauren buru-buru membujuk, “Di dunia ini, tidak ada dokter yang tidak terlepas dari kesalahan sama sekali. Tidak. Kejadian itu juga bukan kesalahanmu.

Sejak awal kamu sudah memberitahunya, bahwa peluang keberhasilan operasi adalah 80%. Meskipun 80%, tapi juga ada kemungkinan gagal 20%.

Operasinya gagal, kamu juga tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan Tabib Legendaris juga tidak bisa menjamin 100% akan berhasil.”

“Aku kira, aku bisa menyelamatkan anak itu. Aku jelas bisa menyelamatkan anak itu ….

Dewi memegang dahinya, merasa sangat sedih.

“Kalau dia tidak memberiku permen, dia tidak akan tertembak. Dia terluka karena aku.

Aku bersumpah harus bisa menyembuhkannya, tapi akhirnya aku malah membuat kesalahan. Aku melihatnya meninggal di meja operasi. Aku, aku….

Anak itu begitu lucu, masih kecil. Senyumnya polos seperti bidadari kecil. Tapi, aku malah melibatkannya..

“Dewi, kamu tidak boleh berpikir begitu. Itu adalah kecelakaan.” Bibi Lauren panik, “Kalau kamu tidak terluka, orang di dunia ini juga tidak akan bisa menyakitimu. Tapi, kalau kamu punya rasa bersalah pada orang gila itu, maka kamu akan dalam bahaya….”

“Dia menjadi seperti itu, juga karena kematian putrinya.” Dewi menghela napas dalam-dalam,

“Mungkin, aku harus membantunya!”

“Apa kamu gila? Sadarlah!” Bibi Lauren tiba-tiba menjadi emosi, “Sejak awal, dia adalah seorang pembunuh dan orang-orang itu mengejarnya. Bahkan kalau mereka tidak bertemu denganmu di hari itu, Tania juga akan tetap mengalami kecelakaan.

Hanya saja saat itu, kamu kebetulan sedang bersama Tania. Kamu membantunya, dia memberimu permen, dan pada saat itu dia tertembak. Kamu merasa bersalah dan ingin menyelamatkan anak itu. Aku paham.

Setelah itu, kesalahan saat operasi. Ini juga kecelakaan dan tidak ada hubungannya denganmu. Tapi, karena kematian putrinya, orang gila itu menjadi brutal dan membunuh 13 orang di rumah sakit. Kalau hari itu kamu tidak melarikan diri, kamu juga akan mati

“Jangan katakan lagi ….”

“Aku harus mengatakannya!” Bibi Lauren memaksanya untuk menghadapi kenyataan, “Anak itu benar-benar tidak bersalah. Aku juga simpati dan menyesal. Tapi masalah ini, bukan salahmu. Kamu tidak boleh terlalu berbaik hati!”

Bab 1975 Persiapan

“Juga orang gila itu, tindakannya sudah diluar kendali. Dia percaya bahwa kamu yang membunuh putrinya. Dia tidak akan melepaskanmu. Orang seperti ini, tidak berpikir logis. Kalau kamu. bertemu dengannya secara kebetulan, kamu benar-benar tidak boleh bersimpati!!!

Kalau kamu kasihan padanya, itu berarti kejam pada dirimu sendiri. Pikirkanlah, kalau kamu mati, bagaimana dengan Lorenzo? Bagaimana dengan kami? Bagaimana dengan anak-anak itu? Sedangkan orang itu masih hidup, hanya akan terus membunuh….

“Oke, oke. Aku tahu.” Dewi menyela Bibi Lauren, memegangi kepalanya yang seakan pecah karena kesakitan, ia berkata dengan menderita, “Aku sakit kepala. Aku tutup teleponnya …..

“Oke, aku tidak mengganggumu lagi.” Bibi Lauren juga merasa kasihan, “Kamu istirahat yang baik. Ingat kata-kataku….”

“Ya.”

Setelah menutup telepon, Dewi memegang kepalanya dan berbaring di kursi. Dia ingin tidur, tapi tidak bisa. Adegan kecelakaan Tania muncul lagi di benaknya….

Masa lalu, seperti peluru yang tiba-tiba ditembakkan ke kepalanya, membuatnya kesakitan…

Dia memegangi kepalanya, kembali ke kamar dengan susah payah, mencari kotak obat dan mengeluarkan tas jarum. Dia menusuk satu jarum pada dirinya sendiri, dan memaksa dirinya untuk tertidur secara perlahan, tidak memikirkannya lagi….

Pada saat ini, dia sama sekali tidak menyadari bahwa di vila lain dari kejauhan, ada seseorang yang sedang mengawasinya melalui teleskop, mengawasi setiap gerakannya

“Kenapa tidak membiarkanku bicara?”

Saat ini, Bibi Lauren dan Brandon yang baru saja pulang ke rumahnya di Swedoland, sedang mengkhawatirkan masalah Dewi.

Brandon tidak senang karena dia tadi tidak bisa berbicara dengan Dewi di telepon.

“Bocah, apa kamu bodoh? Di saat genting ini, masih membiarkanmu bicara omong kosong?”

Bibi Lauren memukul belakang kepalanya. Tenaga yang dikeluarkan terlalu kuat, langsung membuatnya tersungkur ke lantai.

Brandon bangun dengan malu dan berteriak dengan wajah merah, “Lorenzo pukul aku, Bibi juga pukul aku, kalian semua pukul aku, pukul saja sampai mati.”

“Bicara omong kosong lagi, aku akan mengusirmu.”

Bibi Lauren sedang dalam suasana hati yang buruk dan emosinya naik.

Brandon mendengus dengan mengerucutkan bibirnya, menahan air mata di matanya, menarik napas, menenangkan emosinya dan berkata dengan hati-hati, “Aku juga peduli padanya dan ingin membujuknya….”.

“Kamu membujuknya ada gunanya? Ucapanmu semua omong kosong. Apa kamu bisa mengatakan intinya?”

Ekspresi dan sorot mata Bibi Lauren merendahkan dan meremehkannya.

“Bibi….” Brandon sangat marah, “Anda ini menjatuhkan mental. Sejak kecil sampai sekarang, aku bukan siapa-siapa di matamu!”

“Sudah, jangan bicara omong kosong.” Bibi Lauren sedikit kesal, “Cepat lakukan panggilan video ke Paman Joshua. Suruh dia segera kembali. Aku harus diskusi dengannya, lihat bagaimana cara menghadapinya.

Orang gila itu bukanlah orang gila biasa. Dia adalah seorang pembunuh kelas atas, juga didukung oleh organisasi pembunuh nomor satu di dunia. Jika dia benar-benar menemukan Dewi, Dewi akan sangat berbahaya.”

“Aku akan segera telepon.” Brandon bergegas melakukannya..

Bibi Lauren duduk di balkon sambil merokok, teringat akan adegan dua tahun lalu, hatinya terasa sangat berat….

Hatinya muncul satu ide yang berani. Jika dia memberi tahu Lorenzo semua hal ini, apa akan lebih baik dengan adanya perlindungan dari Lorenzo?

Tapi ide ini, dengan cepat ia hilangkan dari pemikirannya.

Meskipun Lorenzo saat ini terlihat tulus pada Dewi, tapi tidak ada yang bisa mengatakan dengan jelas tentang hal perasaan. Bila terjadi sesuatu di masa depan, masalah masa lalu ini juga akan menjadi sebuah kelemahan.

Lebih baik tidak mengambil risiko itu.

Selesaikan saja sendiri.

Memikirkan hal ini, Bibi Lauren mulai memeriksa jalur khusus ke Kota Bunaken, mungkin dia sendiri harus pergi ke sana. Tapi, masih harus menunggu orang tua itu kembali dan mendiskusikannya terlebih dahulu….

Brandon dengan cepat menyelesaikan panggilan video, dan kembali untuk memberi tahu bibinya, “Paman Joshua akan segera kembali. Dia akan tiba malam nanti.”

“Orang tua itu, bekerja lamban seperti kura-kura.” Bibi Lauren mulai mengutuk lagt, “Kamu.

“Baik!”

Bab 1976 Peringatan

Saat Brandon hendak memesan tiket pesawat, telepon pun berdering. Paman Joshua menelepon dan berkata dengan histeris bahwa ada ledakan di panti asuhan…..

Brandon sangat kaget dan buru-buru memberi tahu Bibi Lauren tentang berita itu.

Bibi Lauren segera pergi ke sana bersama dengan Brandon.

Untungnya, tidak ada anak yang terluka di panti asuhan. Hanya dua anggota staf yang terluka. Salah satunya luka parah dan dikirim ke rumah sakit untuk perawatan medis….

Polisi setempat tiba dan sedang menyelidiki situasinya.

Bibi Lauren terus menerima telepon. Kecelakaan terjadi di beberapa panti asuhan lainnya satu demi satu. Keracunan makanan, ada orang sakit jiwa mendobrak masuk dan melukai anak. Dan satu lagi yang lebih keterlaluan, sebuah truk besår langsung menabrak panti asuhan….

Mendengar kabar tersebut, Bibi Lauren sangat cemas, ia, Brandon dan Paman Joshua masing- masing bergegas ke panti asuhan untuk memeriksa situasi dan mengurus masalah

Selama beberapa jam, ketiganya melakukan panggilan video untuk bertukar informasi. Sejauh ini, tidak ada anak yang terluka. Meski ada beberapa staf yang terluka, tapi tidak dalam bahaya. Itu termasuk sebuah berkah!

Paman Joshua membuat keputusan yang tegas, “Ini adalah kekacauan yang terorganisir dan terencana. Tujuannya adalah untuk mengancam kita. Menurutku, ini mungkin ada hubungannya. dengan orang gila itu.”

“Tapi, bagaimana dia tahu bahwa panti asuhan ini adalah milik Dewi, dan bagaimana dia tahu alamat panti asuhan ini?” Bibi Lauren buru-buru bertanya, “Dewi selalu merahasiakan sesuatu dengan baik. Saat itu, dia bertemu dengan kita hanya sekali saja. Seharusnya dia tidak tahu tentang ini.”

“Organisasi Dark Night bersembunyi di seluruh dunia, dan memiliki departemen informasi. profesional. Kemampuannya jauh melebihi FBI. Oleh karena itu, tidak sulit bagi mereka untuk menyelidiki seseorang.”

Paman Joshua menganalisis dengan logis.

“Untungnya, Dewi mendengarkan kata-kata kita saat itu, selalu merahasiakan identitas dan urusan panti asuhan. Jadi, agak sulit untuk diselidiki. Oleh karena itu, empat panti asuhan yang terlibat dalam kecelakaan ini, semuanya berada di Swedoland. Tempat lainnya, untuk sementara tidak masalah.”

“Kalau begitu, mereka hanya menemukan sebagian dari informasi Dewi. Dan ada sebagian yang belum sepenuhnya mereka tahu?” Tanya Bibi Lauren.

“Seharusnya begitu.” Paman Joshua mengangguk, “Selain itu, pihak lain mengeluarkan peringatan. Mungkin untuk mengalihkan perhatian kita, sehingga kita tidak bisa ikut campur dalam urusan Dewi.”

“Juga ada arti lain, yaitu untuk memperingatkan kita.” Nada suara Bibi Lauren sangat serius, “Tidak ada anak yang terluka dalam ledakan ini. Tapi begitu membuatnya marah, lain kali, tidak akan seberuntung ini lagi….”

“Benar. Jadi, kita tidak bisa pergi. Panti asuhan membutuhkan perlindungan kita.” Paman Joshua juga berpikir demikian, “Selain itu, bahkan jika kita pergi ke Kota Bunaken, mungkin juga tidak

bisa membantu.”

“Jadi, bagaimana dengan Dewi? Tidak memedulikannya?” Brandon menjadi cemas.

“Sekarang Dewi ada perlindungan dari Keluarga Moore, jadi dia aman.” Paman Joshua sangat logis, “Tidak ada yang bisa kita lakukan jika kita pergi ke sana. Selain itu, yang paling dia pedulikan adalah panti asuhan. Jika dia tahu panti asuhan terjadi masalah dan kita masih pergi mencarinya, dia malah akan menyalahkan kita.”

“Tapi…”

“Aku akan menelepon Dewi dan menanyakan pendapatnya.”

Bibi Lauren hendak menutup panggilan video dan menelepon Dewi.

“Tunggu.” Paman Joshua segera menghentikannya, “Jangan beri tahu Dewi tentang masalah ini dulu. Dengan temperamennya, jika tahu panti asuhan terjadi sesuatu, takutnya, operasinya tidak akan ia lakukan, dan akan langsung kemari.”

“Benar juga….” Bibi Lauren agak cemas, “Lalu, bagaimana? Aku sangat khawatir dia sendirian di

sana.”

“Kamu telepon lagi besok, beri tahu dia untuk tidak meninggalkan kawasan perlindungan Keluarga Moore. Selama tetap di sana, dia akan baik-baik saja.”

Paman Joshua memberi saran.

“Hari ini aku sudah memberitahunya tentang ini, tapi aku masih khawatir.” Bibi Lauren sangat gelisah, “Bahkan dengan adanya perlindungan Keluarga Moore, orang gila itu tidak bisa mendekat, tapi bagaimana jika ada bantuan dari orang-orang Dark Night?

Dark Night adalah organisasi pembunuh kelas atas dunia. Orang-orang Keluarga Moore, mungkin tidak akan bisa menghadapinya.”

Bab 1977 Tidak Berhasil

“Kamu berpikir terlalu jauh.” Paman Joshua sangat yakin. “Meski Organisasi Dark Night sangat hebat, tapi juga tidak mungkin menyinggung Grup Moore.”

“Lalu, kenapa Organisasi Dark Night mau membantu orang gila itu memeriksa identitas Tabib Dewa?” tanya Bibi Lauren, “Apa dia tahu orang yang melindungi Dewi adalah orang Grup Moore? Hubungan Tuan Lorenzo dan Dewi tidak terlalu dipublikasikan, selama ini Grup Moore juga tidak terlalu menonjolkan diri ke publik….”

“Setelah bertarung sekali, baru tahu.” Paman Joshua sangat jelas, “Begitu tahu di belakang Dewi adalah Tuan Lorenzo, Organisasi Dark Night pasti tidak akan ikut campur. Kalau begitu, hal ini akan menjadi dendam pribadi orang gila itu.

Dia seorang diri, tidak bisa melukai Dewi. Yang dikhawatirkan adalah Dewi yang tiba-tiba emosional, keluar tanpa pengawasan, ditambah dengan rasa bersalahnya pada Tania, lalu Dewi merasa kasihan padanya, itu malah berbahaya….”

“Kalau begitu, aku segera peringatkan dia.” Bibi Lauren sedikit buru-buru.

“Besok baru bicarakan lagi saja. Sekarang mungkin sudah tidur!” Kata Paman Joshua. “Urusanku di sini sudah hampir selesai, aku akan segera kembali. Kamu ceritakanlah padaku soal Dewi dan Tuan Lorenzo. Kalau Tuan Lorenzo sungguh tulus padanya, aku justru sangat setuju mereka

bersama.”

“Tulus apanya? Orang seperti itu mana punya cinta sejati? Aku rasa dia hanya suka sesaat…. Desak Brandon, “Bahkan Lorenzo juga orang yang berbahaya. Saat di Negara Maple, dia menabrak Dewi, kemudian Dewi tertembak juga karena dia

“Ada hal seperti ini?” Tanya Paman Joshua.

“Sepertinya iya, tapi aku belum tahu detailnya….”

“Aku tahu, aku yang paling tahu jelas. Lorenzo ini sungguh berbahaya, dia tidak cocok untuk Dewi, Dewi juga tidak menyukainya. Dewi selalu berpikir ingin kabur, Lorenzo-lah yang mengurung Dewi di sisinya secara paksa

“Baiklah, kita bicara lagi saat bertemu.”

Paman Joshua dan Bibi Lauren memutuskan panggilan video secara bersamaan.

Brandon sangat cemas, dia segera menyelesaikan urusannya, lalu buru-buru kembali dan siap- siap bertemu Paman Joshua ….

Dia merasa perlu memberi tahu Paman Joshua dan Bibi Lauren tentang segala tindakan jahat Lorenzo yang menindas Dewi. Selain itu, dia ingin buru-buru ke Kota Bunaken untuk melindungi Dewi.

Pada saat ini, Dewi tertidur sangat lelap, sedikit pun tidak menyadari ada sesosok orang yang diam-diam memasuki vila.

Orang ini sangat gesit, dia langsung lompat melalui tembok halaman, lalu lompat hingga ke balkon lantai 2. Saat dia hendak masuk ke kamar Dewi, tiba-tiba terdengar suara dari bawah, “Siapa?”

Kemudian, ada cahaya yang sangat terang menyorotinya, dua pengawal segera mengejarnya….

Orang itu tidak sempat bertindak, sudah ketahuan, dia pun terpaksa kabur terlebih dulu.

Kedua pengawal segera mengejarnya.

Kedua pengawal wanita, Hana dan Sharon, segera masuk ke kamar untuk memeriksa kondisi Dewi. Melihat Dewi tidur lelap dengan tenang, barulah mereka berdua merasa lega.

Tapi, mereka tidak berani meninggalkan kamar, Satunya menjaga di balkon, satunya menjaga di belakang pintu…

Setengah jam kemudian, pengawal yang mengejar orang itu kembali dan melapor pada Sonny, “Kak Sonny, orang itu sudah kabur.”

“Lihat CCTV. Lihat siapa dia sebenarnya.” Perintah Sonny.

“Baik.”

“Yang lain, waspada penuh, tetap hati-hati dan lindungi Nona Dewi.”

“Siap.”

Setelah semuanya bubar, Sonny melapor kondisi malam ini pada Jasper dan Jeff.

Ketiganya melakukan panggilan telepon. Setelah mengetahui situasi, Jeff bingung, “Aneh, sebenarnya siapa yang mau menyerang Nona Dewi? Apa Ivan? Atau orang dari tiga keluarga besar?”

“Kalau mereka, tidak mungkin hanya satu orang.” Kata Jasper dengan tenang, “Mungkinkah musuh Nona Dewi?”

“Kenapa Nona Dewi bisa punya musuh?” Jeff merasa aneh, “Dia hanya seorang Tabib, selain itu. identitasnya sangat dirahasiakan.”

“Benar juga…”

“Sonny, jaga Nona Dewi baik-baik. Aku utus beberapa orang lagi ke sana.” Kata Jasper.

“Baik.”

Setelah menutup teleponnya, Sonny berencana untuk berpatroli lagi di sekitar vila untuk berjaga- jaga.

Bab 1978 Permen

Dewi tertidur sangat lelap, sama sekali tidak tahu apa yang terjadi semalam….

Saat bangun di pagi hari, dia sedikit tertegun melihat Hana dan Sharon di kamar.

Hana buru-buru menjelaskan, “Nona Dewi, semalam ada orang yang ingin menerobos masuk ke kamarmu, tapi ketahuan oleh Kak Sonny. Kami takut terjadi sesuatu, jadi kami menjaga Nona di kamar, semoga tidak mengganggu istirahat Nona.”

“Tidak….” Dewi tertegun mendengarnya. “Kamu bilang, ada orang yang ingin menerobos masuk ke kamarku? Siapa?”

“Jika melihat bayangannya, dia pria. Hal lainnya masih sedang diselidiki.” Kata Hana, “Kak Sonny sudah minta orang mengejarnya, tapi tidak berhasil ditangkap.”

Mendengar hal ini, Dewi mengerutkan dahinya, sebenarnya siapa?

“Tok, tok!”

Saat ini, dari luar terdengar suara ketukan pintu. Kelly meminta pelayan, melayani Dewi mandi dan berganti pakaian.

Hana dan Sharon pamit, Dewi berterima kasih dan berpesan pada mereka untuk beristirahat.

Setelah mandi, saat sarapan di balkon, dia tidak sengaja menemukan permen di bawah kursi

Dia memungut permen itu, melihat bungkusan yang familier. Dalam sekejap, raut wajahnya. menjadi murung, ingatannya kembali ke dua tahun lalu….

Saat Dewi dan Bibi Lauren turun dari pesawat di bandara Tokyo, ketika hendak berjalan menuju pintu keluar, tiba-tiba dia melihat seorang anak perempuan menangis di depan toilet.

Anak ini sangat menggemaskan, menangis hingga wajahnya merah, ia tampak hampir kesulitan bernapas….

Dewi buru-buru memberikan obat pada anak ini. Setelah kondisinya stabil, dia bertanya pada. anak ini, “Adik, kenapa kamu di sini sendirian? Mana Papa dan Mamamu?”

“Aku tidak punya Mama. Papa yang membawaku pulang. Tadi saat aku keluar dari toilet, Papaku hilang. Huhu….”

Anak ini sedikit ketakutan, tubuh kecilnya gemetaran.

“Jangan takut. Kakak bawa kamu cari Papamu, ya.”

Dewi hendak mengantarkan anak ini ke staf bandara, tapi tidak lama kemudian, tiba-tiba

terdengar suara dari belakang, “Tania!”

“Papa!!” Anak perempuan itu langsung berlari ke arah pria itu.

Pria itu menggendong anaknya dengan satu tangan dan menatap Dewi dengan waspada.

Pertama kali Dewi melihat pria ini, dia langsung merasa tatapan matanya punya aura pembunuh.

“Papa, tadi waktu asmaku kambuh, kakak inilah yang menolongku. Dia juga mengajakku mencari Papa.” Tania buru-buru menjelaskan.

“Benarkah?” Tatapan membunuh pria itu perlahan memudar dan mengucapkan “Terima kasih”, lalu membawa anak itu pergi.

“Orang ini sangat aneh.”

Dewi melihat punggung pria itu, dia merasa pria itu sedikit aneh, tapi anak itu sangat patuh dan menggemaskan, dia masih melambaikan tangan mengucapkan selamat tinggal padanya, sepasang matanya yang jernih penuh ketulusan.

Bibi Lauren berkata dengan suara pelan, “Pria itu sangat berbahaya. Kita harus menjauh darinya.”

“Berbahaya?” Dewi sangat penasaran.

“Benar.” Bibi Lauren tampak serius, “Tatapan matanya penuh aura membunuh, ada tingkat kepekaan yang tajam. Kalau aku tidak salah tebak, dia adalah pembunuh profesional.”

“Pembunuh profesional bisa punya anak selucu itu?” Dewi mengerutkan keningnya. “Apa anak itu anak kandungnya? Harusnya bukan diculik olehnya, ‘kan?”

“Anak itu bergantung dan akrab dengannya, selain itu, perhatian dan perlindungannya terhadap anak itu juga tidak seperti berpura-pura, harusnya anak kandungnya….” kata Bibi Lauren sambil menghela napas, “Orang jahat seperti ini tidak seharusnya punya anak. Kalau anaknya ikut dengannya, cepat lambat akan mendapat masalah

“Barangkali dia bisa berhenti demi anaknya.” Dewi sedikit tidak tega.

“Profesi seperti ini ibarat hutan. Sekali kamu masuk ke dalamnya, maka tidak ada jalan mundur.” Bibi Lauren menganalisis, “Kamu lihat saja tampangnya yang waspada tadi, pasti ada yang sedang mengejarnya.”

“Semoga anak itu baik-baik saja!” Dewi berdoa untuk anak itu.

Semoga.”

Bab 1979 Tertembak

Keduanya berjalan ke luar bandara, hendak naik taksi.

Di saat itu, terdengar suara anak-anak, “Kakak!”

Dewi menoleh, anak yang barusan lagi. Dia memeluk sebuah boneka dan duduk dengan patuh di atas bola batu.

“Adik, kita bertemu lagi!”

Dewi menyapa anak itu.

“Kakak, namaku Tania. Siapa nama Kakak?”

Tania melihatnya sambil tersenyum manis.

“Namaku Dewi.” Dewi tersenyum melihatnya, “Mana Papamu?”

“Papa sedang ambil mobil, aku disuruh tunggu di sini.” Tania sangat patuh.

Dewi dan Bibi Lauren saling memandang, merasa ada yang tidak beres.

Kalau pria itu sungguh pergi mengambil mobil, seharusnya ia membawa anaknya bersamanya. Ini adalah jalur taksi, mobil pribadi tidak bisa masuk ke sini, kenapa dia menyuruh anaknya menunggu di sini?

Mungkinkah terjadi sesuatu?

“Taksinya sudah datang, ayo kita pergi.”

Bibi Lauren tidak mau menambah masalah, dia menarik Dewi masuk ke dalam taksi.

“Kakak sudah mau pergi?”

Tania melihat Dewi dengan berat hati.

“Iya.” Dewi melihat Tania duduk di atas bola batu seorang diri, dia sedikit tidak tega, “Tania, kamu sendirian menunggu Papamu di sini, apa takut?”

Tania menganggukkan kepalanya, dalam sekejap matanya menjadi merah ….

Dewi melihat tampangnya yang kasihan, hatinya pun tertekan, lalu dia membuat sebuah keputusan, “Jangan takut, Kakak temani kamu.”

“Benarkah? Terima kasih, Kakak.”

1/2

Tania sangat gembira, dia buru-buru menghampirinya dan menggandeng tangan Dewi.

“Dewi!” Bibi Lauren berniat menghalangi Dewi.

“Bibi Lauren, tidak apa-apa, aku temani anak ini dulu. Tunggu Papanya datang, kita segera naik taksi.” Kata Dewi pelan.

Bibi Lauren sangat tidak berdaya, ia terpaksa ikut menemani dan menunggu.

Tania memperkenalkan bonekanya pada Dewi, juga bilang bahwa dia punya permen yang enak, ada di saku Papanya. Tunggu Papanya kembali, dia akan mengambil permennya dan memberikannya pada Dewi.

Dewi gembira dan mengucapkan terima kasih. Melihat rambut Tania basah karena keringat, dia jongkok untuk mengepang rambutnya, bahkan menyobek tali pakaiannya untuk mengikat kepangannya.

Tania mengeluarkan cermin kecil, melihat kepang yang sudah selesai dibuat, dia tersenyum

manis.

Sejak meninggalkan rumah, dia tidak pernah mengepang rambut lagi.

Keduanya bercanda tawa, sangat gembira.

Bibi Lauren melihat sekitar, tidak terlihat bayangan pria itu.

Di pintu masuk bandara ada banyak orang lalu-lalang, tenang seperti biasanya, tapi dia selalu. merasa ada yang tidak beres….

Pada saat itu, tiba-tiba ada yang berteriak, “Tania!”

“Papa!” Tania berbalik, Papanya segera kemari dari tengah kerumunan. Tania dengan gembira berkata pada Dewi, “Kakak, Papaku sudah kembali!”

“Baguslah kalau begitu.” Dewi berdiri dan berbicara serius dengan pria itu, “Pak, Tania masih kecil. Mohon jangan tinggalkan dia sendirian, itu sangat berbahaya.”

Pria itu melihatnya, tidak bicara, menggandeng Tania, lalu pergi.

“Kamu….”

Dewi masih ingin mengatakan sesuatu, tapi dia malah mendapati tangan kanan pria ini sedikit tidak beres. Meski dia memasukkan tangannya ke dalam saku celana, berusaha menutupinya, tapi emosi yang perlahan meluap malah memperlihatkan lukanya.

“Jangan ikut campur, ayo kita pergi!”

Bibi Lauren juga menyadarinya, dia menarik tangan Dewi dan bersiap untuk pergi.

2/3

Saat itu, Dewi menyadari di tengah kerumunan ada beberapa orang berpakaian hitam dan memakai masker hitam, mereka berjalan ke arah ayah Tania dengan langkah cepat, dengan satu tangan disembunyikan di dalam lengan baju….

Dewi berbalik, ingin mengingatkan pria itu.

Di saat itu juga, tiba-tiba Tania melepas tangan Papanya, mengambil beberapa permen, berbalik dan berlari ke arah Dewi, “Kakak, permen ini untukmu!”

“Tania ….”

Pria itu buru-buru menarik Tania, tapi sudah terlambat.

“Dor, dor, dor, dor!”

Tiba-tiba terdengar suara tembakan, semuanya mengarah pada pria itu.

Tania yang malang tanpa sengaja menghalangi satu tembakan untuk ayahnya, tubuhnya yang kecil terbaring di genangan darah….

Bab 1980 Kematian Tania

“Tania ….”

Pria itu mulai berkelahi seperti orang gila, dia menghadapi orang-orang berpakaian hitam itu.

Dewi segera ke sana menggendong Tania, dia mendapati Tania masih bisa tertolong, dia segera memberi pertolongan pertama untuk menghentikan pendarahan.

Saat pria itu menghabisi semua pembunuh berpakaian hitam itu, dia menodongkan pistol ke kepala Dewi, minta Dewi bertanggung jawab atas Tania.

Saat Bibi Lauren mau melawannya, Dewi buru-buru berkata, “Tania masih bisa diselamatkan, aku Tabib, aku bisa menyelamatkannya, kita harus segera membawanya ke rumah sakit.”

“Benarkah?”

Pria yang awalnya mengira anaknya sudah tiada, begitu mendengar perkataan Dewi, harapannya. kembali bangkit, dia segera menghentikan sebuah mobil dan membawa Dewi, serta anaknya ke

rumah sakit.

Dewi segera mengoperasi Tania.

Tania kehilangan banyak darah, selain itu darahnya sangat langka, rumah sakit tidak memiliki plasma darahnya. Bibi Lauren buru-buru minta pihak rumah sakit untuk menyiapkannya.

Pria itu terus berada di dalam ruang operasi menunggu dengan khawatir, juga mengancam Kepala Rumah Sakit dengan pistol. Jika terjadi sesuatu pada anaknya, dia ingin semua orang membayarnya dengan nyawa.

Termasuk Dewi!

Seharusnya operasinya sangat lancar, tapi Dewi mendapati anak ini tidak hanya memiliki penyakit asma, bahkan sebelumnya pernah melakukan operasi jantung. Kali ini dia tertembak, mengakibatkan jantungnya kambuh, sungguh sangat bahaya.

Selain itu, plasma darah datang terlalu lambat, ditambah berbagai macam faktor, hingga operasinya gagal

—-

Pada akhirnya, Tania tidak terselamatkan.

Sebelum Tania meninggal, tangannya terus menggenggam permen yang yang ingin dia berikan pada Dewi. Hingga jantungnya berhenti berdetak, barulah genggamannya terlepas, permennya jatuh ke lantai

Saat itu, Dewi tumbang

Ayah Tania lebih seperti orang gila, bertanya pada Dewi, “Bukankah kamu bisa

menyelamatkannya? Bukankah kamu bilang dia akan baik-baik saja? Kenapa tidak berhasil?

Kenapa??

Kalau bukan karena ingin memberimu permen, Tania tidak akan tertembak. Kalau keahlian medismu tinggi, operasinya tidak akan gagal. Semua ini karena kamu, karena kamu….”

Dewi tidak punya tenaga untuk membantah, dia hanya bisa menerima raungannya.

Pria itu menjadi gila, dia mulai membantai para dokter dan perawat di ruang operasi….

Dia juga ingin membunuh Dewi, ingin Dewi dimakamkan bersama dengan Tania.

Bibi Lauren melukai tangannya dan menarik Dewi keluar ruangan.

Pihak rumah sakit sudah lapor polisi, tapi sebelum polisi datang, pria itu sudah membunuh 13 nyawa, baru kemudian ditundukkan oleh polisi dan dipenjarakan ….

Dewi yang mengurus pemakaman Tania.

Setelah selesai mengurusnya, dia juga pergi ke penjara menengok pria itu dan mengetahui bahwa namanya adalah Denny dari Negara Richie, dia juga pembunuh peringkat pertama di dunia.

Denny merantau di sepanjang hidupnya, saat ini dia ingin membawa anaknya kembali ke negara asalnya dan hidup bersembunyi dari kejaran orang-orang, tapi musuhnya tidak melepasnya. terus mengejarnya. Sepanjang jalan, dia terus melindungi anaknya dan melarikan diri.

Di bandara, saat anaknya ke toilet, dia menghabisi dua orang mata-mata, kemudian dia cepat- cepat membawa anaknya pergi. Di pintu keluar, dia bertemu orang-orang itu lagi, dia takut melibatkan anaknya, maka minta Tania menunggunya di bola batu….

Dia diam-diam menghabisi beberapa orang sendirian, lalu kembali mencari anaknya, dan bertemu dengan Dewi lagi. Dia hanya ingin secepatnya membawa Tania pergi, tapi Tania tiba- tiba terpikir ingin memberikan permen pada Dewi, lalu melepas genggaman tangannya dan berlari ke sana

Kebetulan musuhnya mengejarnya lagi, menembakinya, sehingga berubah menjadi tragedi.

Dipisahkan oleh kaca penjara, Dewi meminta maaf padanya, hatinya merasa sangat bersalah. Jika Tania tidak kembali untuk memberinya permen, tidak akan terjadi masalah….

Selain itu, Dewi tidak mengerti, jelas-jelas dirinya bisa mengobati Tania, kenapa operasinya bisa gagal? Sebenarnya ada apa dengan jantung Tania? Dia ingin tahu segalanya, sayangnya sudah tidak ada kesempatan lagi….

Setelah kejadian itu, dia ingin ke kantor polisi untuk mengambil jenazah Tania, tapi pihak polisi sudah mengkremasinya, Dewi hanya bisa mengadakan upacara pemakaman dengan membawa abu anak itu, lalu ke penjara untuk menyerahkan alamat dan informasi batu nisan pada Denny.

Bab 1981 Ingat!

Terhadap niat baik Dewi, Denny sama sekali tidak menghargainya, bahkan menatapnya dalam- dalam dan berkata, “Tania di surga seorang diri. Dia begitu menyukaimu, tunggu aku keluar dari sini, aku akan membunuhmu untuk menemani Tania di sana!!!”

Dewi sama sekali tidak memedulikan ancamannya, karena Denny dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.

Namun, kematian Tania merupakan pukulan yang sangat besar baginya, bahkan dia mulai meragukan kemampuan medisnya, jadi dua tahun setelah itu, Dewi menutup diri dan tidak lagi melakukan praktik medis.

Hingga Pangeran Willy menemukannya, memintanya sepenuh hati dan berulang kali, ditambah dengan Yayasan yang kekurangan dana, panti asuhan membutuhkan dana yang sangat besar, barulah dia ke Denmark….

Dia mengira masalah tahun itu sudah berakhir. Tak disangka. Denny sudah keluar dari penjara. dan mencarinya hingga ke sini…..

“Nona Dewi, Nona Dewi, Nona Dewi!!!”

Seruan Kelly menghentikan pikiran Dewi, dia sadar dari lamunannya, menggenggam permennya, mendongak dan menatap Kelly, “Ada apa?”

“Wajahmu terlihat pucat, Nona baik-baik saja?”

Kelly menatapnya dengan khawatir.

“Tidak apa-apa.” Dewi menggelengkan kepalanya, “Kalian kembalilah bekerja, aku sarapan pagi

sendiri.”

“Baik.” Kelly keluar bersama pelayan.

Dewi melihat sarapan mewahnya, tapi ia malah tidak berselera sama sekali. Dia berbaring di kursi malas, menghirup angin laut. Melihat permen itu, ia teringat pada Tania yang meninggal, hatinya rumit sulit diucapkan dengan kata-kata….

Ponsel di atas ranjang bergetar, dia pun tidak menyadarinya.

Sepanjang hari, Dewi mengurung dirinya di dalam kamar, tidak ingin kemana-mana, makan sedikit langsung tidur, ponselnya pun tidak dilihat.

Lorenzo menelepon dua kali, dia pun tidak menjawabnya, juga tidak membalas pesan teksnya…

Suasana hati Lorenzo sangat terpengaruh olehnya, ia juga tidak semangat melakukan apa pun, makan pun tidak berselera.

Malam hari, setelah menyelesaikan kesibukannya, Lorenzo langsung menelepon Sonny.

Sonny menjawab telepon Lorenzo, dia kaget hingga ponselnya hampir jatuh ke lantai, dia menerima telepon dengan panik, “Halo, Tuan!”

“Dewi sedang apa?”

Lorenzo bertanya langsung.

“Eh. Nona….”

Sonny mendongak melihat balkon lantai dua. Dewi sedang bersandar di kursi malas, melamun memandangi laut, dia sudah duduk di sana seharian…..

“Nona Dewi sedang melamun di balkon.” Kata Sonny buru-buru, “Aku akan segera ke sana

“Tidak perlu.” Kata Lorenzo dingin, “Jaga dia baik-baik.”

“Baik. Tuan….”

Baru saja Sonny selesai bicara, Lorenzo langsung mematikan panggilannya, terdengar suara “tut, tut”. Sonny merasa gelisah, dia merasa sepertinya tuannya marah.

Dia berpikir, apa dia harus naik dan bicara dengan Nona Dewi?

Namun, begitu terpikir Tuan bilang tidak perlu, maka tidak perlu..

Dewi duduk di balkon hingga larut malam, baru kembali ke kamar untuk beristirahat. Ada beberapa panggilan tidak terjawab di ponselnya. Ada 2 panggilan dari Lorenzo dan beberapa panggilan dari Bibi Lauren dan Brandon.

Dewi buru-buru menelepon Bibi Lauren. Dengan segera, Bibi Lauren menjawab teleponnya…

“Dewi!”

“Bibi Lauren, ada apa?”

“Di sini lumayan baik. Aku mengkhawatirkanmu. Sebelumnya kamu tidak mengangkat teleponku, aku kira terjadi sesuatu padamu….”

“Ponselku kutaruh di kamar, tidak mendengarnya

“Yang penting tidak apa-apa… membuatku takut saja.” Bibi Lauren merasa lega, “Dewi, apa orang itu sudah muncul?”

“Harusnya sudah. Semalam masuk ke vila, tapi tidak terjadi apa-apa….”

“Sepertinya kemampuan pengawal Keluarga Moore lumayan tangguh.” Kata Bibi Lauren senang.

“Dewi, kamu patuhlah, jangan pergi dari wilayah perlindungan Keluarga Moore. Ingat!”

“Aku mengerti….” Dewi paham betul, jika dia pergi sekarang, Denny akan segera menemukannya. Tiba saatnya, dia akan berada dalam bahaya.

Meski kemampuan menyetirnya sangat hebat, juga memiliki kemampuan memanggil binatang, tapi itu baru bisa berguna di saat tertentu.

Apalagi, dia tidak pernah membunuh orang, tidak mungkin bisa bersikap kejam. Sedangkan Denny, pembunuh profesional yang mencari nafkah dengan membunuh…

Bab 1982 Menghindari Tanggung Jawab

“Selain itu, aku ingin tahu lebih banyak hubungan antara kamu dan Lorenzo, apa dia sungguh tulus padamu? Apa dia sungguh ingin menikahimu?”

“Seharusnya iya ….” Saat ini Dewi tidak terlalu ingin mendiskusikan masalah ini, “Tapi, ini bukan saatnya untuk mendiskusikan hal ini.

Kalau ada kesempatan, aku berharap bisa menelepon Denny. Dari awal, aku merasa kondisi kesehatan Tania sedikit aneh….”

“Dewi, kamu jangan bodoh.” Bibi Lauren buru-buru memotong kata-katanya, “Orang itu sudah gila, mentalnya juga bermasalah, kamu tidak akan bisa membicarakan sesuatu yang masuk akal dengannya.

Jangan coba-coba menyelamatkan orang yang hatinya sudah bermasalah, itu seperti sakit parah. yang tidak bisa diobati.

Kita harus menerimanya, tidak peduli betapa hebatnya kamu, di dunia ini pasti ada hal yang tidak bisa kamu lakukan, tidak ada orang yang sempurna.”

“Aku mengerti, perkataan Bibi benar….” Dewi menghela napas, “Tapi, kematian Tania selalu terbayang-bayang di pikiranku.”

“Dewi….”

“Sudahlah, Bibi Lauren.” Dewi mengalihkan pembicaraan, “Aku juga hanya asal bicara saja. Aku punya batasan, kalian tidak perlu mengkhawatirkanku, ada begitu banyak orang yang melindungiku, tidak akan terjadi apa-apa.”

“Baiklah.” Bibi Lauren tahu, tidak ada gunanya mengatakan apa pun lagi, “Kalau begitu, jagalah dirimu, setiap hari harus menelepon untuk memberi kabar.”

“Oke.”

Setelah memutuskan teleponnya, Dewi melihat langit gelap di luar. Dia berpikir, apa malam ini Denny akan datang lagi? Atau, dia akan menggunakan cara lain untuk menghubunginya?

Jika benar, dia tetap ingin bicara baik-baik dengan Denny…

Saat ini, Hana dan Sharon mengetuk pintu dan masuk, memeriksa keadaan, lalu berencana tetap. di dalam kamar seperti kemarin malam, tapi Dewi malah menyuruh mereka keluar.

Meski khawatir, Hana dan Sharon tetap menghormati keinginan Dewi, lalu menunggu di luar dan tidak mengganggunya lagi.

Dewi sengaja mematikan lampu utamanya dan hanya menyisakan lampu dinding, menunggu

Denny menghubunginya.

Ternyata, sangat cepat, ponselnya menerima telepon masuk dari nomor tidak dikenal. Dia melihat-lihat ke luar, menjawab teleponnya, “Halo!”

“Kamu hebat juga, malah dekat dengan Grup Moore.”

Denny bicara bahasa Inggris dengan sangat lancar, suaranya serak, terasa hawa dingin yang menyeramkan.

“Semalam kamu datang, apa ingin balas dendam?

Dewi bertanya langsung ke intinya.

“Kamu sadar diri juga, ya.” Kata Denny tajam, “Jangan kira orang Keluarga Moore melindungimu, membuatku tidak bisa melawanmu. Tunggu saja, aku akan segera menemuimu.”

“Ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu.” Dewi mencoba untuk bicara dengannya.

“Hm?” Denny bingung.

“Sebelumnya Tania pernah melakukan operasi jantung?” Tanya Dewi.

“Apa yang kamu bicarakan?” Mendengar tentang Tania, Denny langsung menjadi emosional.

“Saat Tania tertembak, tidak melukai organ vitalnya. Masalahnya adalah tembakan itu menimbulkan masalah pada jantungnya, ditambah kehilangan banyak darah, jadi ….”

“Jangan mencari alasan untuk menutupi kesalahanmu.” Denny memotong permbicaraannya dengan marah, “Kamu sendiri yang tidak mampu, tidak bisa menyelamatkannya, takut aku balas dendam, maka kamu membuat alasan-alasan ini. Kamu kira aku bisa melepaskanmu begitu saja?”

“Aku hanya ingin menanyakan kondisinya dengan jelas…”

“Kondisi apa? Apa kamu bisa membuat Tania hidup kembali?” Denny sangat marah, “Kalau bukan karena kamu, Tania tidak akan mati!!!”

“Kamu bicara begitu, karena ingin membuat hatimu sendiri lebih lega, ‘kan?” Dewi balik bertanya, “Kalau saja kamu bukan seorang pembunuh, kalau saja kamu hanya seorang ayah biasa, kalau saja tidak ada orang yang mengejar dan ingin membunuhmu, sekarang Tania bisa tumbuh dengan sehat dan gembira….”

“Kamu….”

1

“Kamu melemparkan semua tanggung jawab padaku untuk meringankan rasa bersalahmu.” Kata Dewi dingin. “Masalah ini, pada dasarnya adalah tanggung jawabmu sendiri. Walaupun aku tidak muncul, berapa lama kamu bisa melindungi Tania?”

Bab 1983 Menahan Diri untuk Tidak Menghubunginya

“Cukup!!!” Denny sangat marah.

“Belum cukup.” Dewi bicara dengan penuh amarah, “Iblis sepertimu tidak seharusnya punya anak. Meski punya anak, juga tidak seharusnya kamu membawanya di sisimu.

Kamu sendiri yang mencelakai Tania, malah menyalahkanku dan para perawat, apa salah mereka? Tiga belas nyawa mati begitu saja di tanganmu…..

Kamu pikir itu dengan begitu, kamu bisa membalaskan dendam Tania? Apa kamu pernah berpikir, apa dia bersedia kamu berbuat begitu? Di surga, dia tahu kamu membunuh begitu banyak orang demi dia, dia akan membencimu….”

“Diam, Diam. Diamlah!!!”

Denny berteriak emosi, di saat bersamaan, tidak jauh di luar, terdengar sebuah suara tembakan….

Segera, teleponnya terputus.

Sonny segera mengutus orang untuk memeriksanya, juga menghubungi polisi.

Dewi memegang ponselnya, perasaannya sangat rumit….

Awalnya dia hanya ingin berbincang dengannya, tapi Denny terlalu paranoid, tidak disangka Dewi malah membuatnya marah

Pembunuh kelas atas sepertinya sangat pandai bersembunyi, tidak akan menampakkan dirinya dengan mudah, sungguh sulit menemukannya.

Saat ini, emosinya tidak terkontrol, dia malah menembak, mengungkapkan keberadaannya, Sonny segera bertindak dan melapor polisi.

Meski kali ini tidak tertangkap, tapi dalam beberapa waktu ini, dia tetap tidak bisa mendekati Dewi.

Jadi, ini juga termasuk sebuah keberuntungan.

Kepala Dewi mulai sakit lagi, dia meletakkan ponselnya dan memegang kepalanya dengan erat, berbaring di atas ranjang…..

Ponselnya bergetar, tapi dia tidak mempedulikannya.

Tidak lama kemudian, baterai ponselnya habis dan mati secara otomatis.

Sepanjang hari ini banyak telepon masuk, juga tidak mengisi daya.

Kota Snowy. Mendengar suara sibuk dari seberang sana, Lorenzo menggertakkan giginya dengan kesal. Wanita ini, tidak menjawab telepon, tidak membalas pesan teks, sungguh tidak masuk

akal!!!

Tidak masalah jika mengabaikannya, tapi dia juga tidak mencarinya.

Semakin memikirkannya, Lorenzo semakin kesal, dia langsung melempar ponselnya keluar.

“Apa terjadi sesuatu?”

Jasper buru-buru menelepon Sonny.

Sonny berkata bahwa di sekitarnya ada suara tembakan, mungkin orang yang menyerang diam- diam semalam. Dia sudah mengutus orang untuk melacaknya.

Jasper segera bertanya kabar Nona Dewi, apa baik-baik saja.

Sonny bilang tidak terjadi apa-apa, bahkan ia mengutus orang untuk melindunginya dari dekat, dia meyakinkan Tuannya untuk tenang..

Jasper berpesan beberapa hal, lalu memutuskan teleponnya. Dia menenangkan Lorenzo dengan. hati-hati, “Tuan, Anda sudah dengar, tadi di sekitar vila ada suara tembakan, barangkali Nona. Dewi merasa takut, mungkin sebentar lagi dia akan menghubungimu.”

“Takut?” Lorenzo tertawa, “Dia tidak takut pada apa pun, mana mungkin takut pada suara tembakan?”

“Eh….” Jasper tidak tahu bagaimana membalas perkataannya.

“Mungkin kelembutannya yang sebelumnya itu semua hanya pura-pura, tujuannya agar aku membiarkannya pulang sendiri ke negara asalnya, lalu dia akan mencari kesempatan untuk kabur ….” Semakin berpikir, Lorenzo semakin merasa ada yang tidak beres, “Kalau tidak, kenapa begitu sampai di Kota Bunaken, dia langsung tidak memedulikanku?”

“Tuan jangan berpikir terlalu banyak, mungkin bukan seperti itu….”

“Kenapa tidak? Menurut buku, beberapa bulan di awal adalah masa bulan madu, keduanya akan sangat manis, saling nempel satu sama lain, terutama si wanita. Tapi, bagaimana dengannya? Dia tidak nempel padaku, bahkan tidak memedulikanku

Lorenzo semakin emosi.

“Setelah masalah kita di sini beres, cukup ke sana lebih awal saja.” Hibur Jasper, “Seharusnya beberapa hari lagi, kita hampir selesai.”

“Untuk apa ke sana? Dia bahkan tidak menjawab teleponku.” Jawab Lorenzo dengan emosi, “Utuslah beberapa orang untuk mengawasinya, jangan sampai dia kabur.”

“Siap!”

“Mulai sekarang, aku juga tidak akan memedulikannya, kecuali terjadi suatu hal yang besar

padanya. Kalau tidak, jangan bahas dia di hadapanku, aku mau dia sendiri yang datang memohon padaku.”

Lorenzo cemberut, masih marah.

“Baik.”

Jasper mengangguk, tapi dia malah berpikir, jika Tuannya ini bisa tahan, itu baru aneh….

Diperkirakan dalam waktu kurang dari tiga hari. Tuannya pasti akan berinisiatif menghubungi Nona Dewi duluan.

Bab 1984 Apa Benar-Benar Mau Menikah

Setelah suara tembakan kemarin malam, vila di tepi pantai sangat tenang.

Dewi menghabiskan tiga hari dengan tenang, tidak berhubungan dengan nomor asing, tidak ada orang yang memasuki vila di tengah malam, juga tidak ada suara tembakan apa pun.

Meskipun demikian, Sonny tetap tidak bersantai sedikitpun, ia terus berjaga-jaga.

Terlebih lagi, orang yang diutus Jasper sudah datang, sekarang penjagaan keamarlan vila semakin ketat.

Dewi tinggal dengan patuh selama tiga hari, melihat kedamaian dunia, membuatnya tidak sanggup untuk berdiam diri lagi.

Dia menanyakan Sonny tentang keadaan Jeff di sana.

Sonny berkata, “Kak Jeff sudah dengar kalau Tabib Hansen ada di Bukit Oldish, kemarin dia sudah membawa orang pergi ke Bukit Oldish untuk mencarinya, mungkin sebentar lagi akan membawanya kemari.”

Begitu mendengarnya, Dewi tidak dapat menahan kegembiraannya, “Tidak disangka kinerja Jeff begitu cepat, karena sudah menemukan Bukit Oldish, seharusnya sebentar lagi dia bisa menemukannya.

Tapi tidak tahu, apa Tabib Legendaris itu mau mengikutnya turun bukit, tapi kemampuan kalian. sangat hebat, kalian tidak akan langsung menculiknya ke sini, ‘kan?”

“Haha, itu sangat mungkin!” Sonny tertawa, “Kak Jeff sebelumnya bilang, kalau Tabib Legendaris itu tidak mau ikut, dia bisa menculiknya.”

“Tidak boleh!” Dewi buru-buru memarahi, “Jangan bersikap tidak sopan pada Tabib itu!”

“Eh….” Sonny tercengang, ia hanya bercanda, tidak menyangka Dewi begitu kesal.

“Kamu hubungilah Jeff, katakanlah apa yang aku katakan, harus menghormati Tabib Hansen, kalau dia tidak mau datang, bujuk dia dengan perasaan dan logika, jangan sampai tidak sopan terhadap orang tua.

Orang itu, walaupun dia adalah seorang Tabib legendaris, tapi ia sudah tua, tubuhnya punya berbagai penyakit, kalau kalian menculiknya dan terjadi sesuatu, aku tidak akan mengampuni kalian!!!!”

“Baik, aku akan menyampaikannya pada Kak Jeff.”

Sonny bersiap menghubungi Jeff, tapi setelah jalan beberapa langkah, ia kembali teringat sesuatu, lalu bertanya dengan heran pada Dewi, “Nona Dewi, bagaimana Anda bisa tahu kalau Tabib

Legendaris punya berbagai penyakit?”

“Itu….” Dewi tersedak seketika, dengan cepat ia menemukan alasan, “Apa ini masih perlu ditanya? Orang tua mana yang tidak berpenyakitan? Tabib Hansen itu sudah begitu tua, tidak bisa menghindari hukum alam.”

“Ucapan Nona benar!” Sonny mengangguk-angguk. “Aku telepon Kak Jeff.”

“Pergilah.”

Dewi melihat Sonny pergi, ia merasa bersalah, untungnya orang ini bodoh, dan juga sangat mengaguminya, jadi dia tidak berpikir banyak.

Kalau tidak, dia akan menyadari hubungannya dengan Tabib Hansen ….

Tapi, kalau mereka benar-benar membawa Tabib Hansen kemari, identitasnya juga akan terbongkar, ‘kan?

Mau disembunyikan bagaimanapun juga, dia tetap tidak akan bisa bersembunyi dari orang tua itu, walaupun umurnya sudah tua, tapi dia masih sangat hebat….

Memikirkan kekhawatiran ini, Dewi jadi teringat kembali masalah Tania, kalau gurunya masih. bersedia mengakuinya, dia benar-benar sangat ingin memintanya untuk mengajarinya operasi itu

Sampai sekarang dia masih tidak mengerti, kenapa operasi itu bisa gagal…

Baginya, itu adalah sebuah pukulan yang besar, membuatnya mempertanyakan keterampilan medisnya.

Di saat yang bersamaan, juga membuatnya merasa bersalah atas kematian Tania….

Seperti sebuah duri dan sebuah misteri, yang terus membuatnya ingin memecahkannya.

Saat imajinasinya sedang berkeliaran, ponselnya berbunyi, Brandon menghubunginya.

Dewi buru-buru menjawab, “Brandon!”

“Sobat, bagaimana denganmu? Tidak apa-apa, ‘kan?”

“Cukup baik, ada apa?”

“Aku ingin pergi mencarimu, tapi Bibi Lauren menyita pasporku, tidak mengizinkanku pergi. Dia bilang kalau aku pergi juga tidak akan bisa membantumu, hanya akan merepotkan, aku sangat mengkhawatirkanmu dan sangat merindukanmu….”

“Yang diucapkan Bibi Lauren benar, kamu uruslah Panti Asuhan Zambe dengan tenang, jangan menambah kekacauan.”

“Baiklah, aku tahu kamu akan berkata seperti ini.” Brandon mendesah, “Aku meneleponmu untuk memberitahumu suatu hal.”

“Apa?” Tanya Dewi terus terang,

“Paman Joshua pergi ke Negara Emron, dia ingin menyelidiki Lorenzo, melihat-lihat apa dia adalah seorang pria yang bisa diandalkan. Aku juga ingin tahu, apa kamu benar-benar mau menikah dengan Lorenzo?”

Post navigation

Previous

Bab 1985 Rumor L

Dewi kehilangan kata-kata, saat ini, kenapa Paman Joshua pergi ke Negara Emron untuk menyelidiki Lorenzo …..

Tapi, beberapa hari ini Dewi terus memikirkan masalah Denny dan Tania, benar-benar lupa pada

Lorenzo.

“Dewi. Dewi….” Brandon memanggilnya dua kali, Aku bukannya ingin mengatur hidupmu, aku hanya ingin menasehatimu, pertimbangkanlah dengan baik, kamu beberapa hari ini tidak lihat berita, “kan?”

“Berita apa?” Tanya Dewi.

“Berita internasional, tentu saja berita lokal Negara Emron, sudah menyebar luas di berbagai media besar, mungkin di Negara Nusantara sana juga akan ada ….”

Brandon mengingatkannya, “Ini soal Lorenzo, kamu lihatlah.”

“Lorenzo masuk berita?”

Dewi buru-buru mencari tablet, produk elektronik seperti ini, sangat jarang ia gunakan, ia juga tidak suka menggunakannya, tapi tidak disangka, terkadang juga berguna.

Dia menyalakan tablet dan mengecek link berita, sambil berkata, “Lorenzo tidak mungkin mengumumkan pada media tentang pernikahannya denganku, ‘kan? Benar-benar membuatku kesal, aku bahkan masih belum setuju

Baru saja dia selesai berbicara, tiba-tiba dia terkejut.

Lorenzo memang masuk berita, headline berita utama, tapi bukan mengumumkan pernikahannya dengannya, melainkan rumor dengan Juliana Henderson.

Beritanya sangat detail, juga dilengkapi dengan foto-foto mesra….

Ada foto keduanya yang sedang menghadiri pesta bersama, Juliana menarik lengannya, mendongak dan menatapnya dengan penuh kasih sayang.

Ada juga foto keduanya yang sedang makan malam bersama, Lorenzo bahkan mengendarai mobil sendiri dan mengantar jemputnya.

Selain itu, masih ada satu foto yang lebih intim, di samping kolam air mancur, tampaknya baju Juliana basah, Lorenzo melepaskan mantelnya dan dipakaikan padanya ….

Di foto-foto ini, hanya terlihat samping wajah atau punggung Lorenzo, wajahnya sama sekali

tidak terlihat jelas, malah wajah Juliana yang terlihat sangat jelas.

Sekarang beritanya sudah tersebar dimana-mana, semua orang tahu, ada juga media yang mengungkapkan bahwa mereka berdua adalah teman masa kecil, dua anak kecil yang polos, juga ada yang bilang bahwa keduanya akan segera menikah….

Bahkan ada beberapa akun media pribadi yang menuliskan kisah cinta romantis mereka seperti menulis novel, ditambah foto mereka yang seperti pasangan ideal, dan tercipta untuk satu sama lain, membangkitkan rasa iri para netizen.

Kondisi saat ini adalah, netizen di seluruh dunia semuanya mengucapkan selamat kepada pasangan itu….

Melihat berita-berita ini, otak Dewi langsung meledak, amarah yang membara mengalir langsung dari hati ke otak, sedang terbakar….

Bagus sekali Lorenzo.

Sebelum berpisah, dia masih begitu nempel dengannya, menyayanginya, seperti tergila-gila, baru pergi beberapa hari, dia langsung mulai berhubungan dengan wanita lain.

Sebelumnya, saat di hadapannya, kelihatannya dia tidak tertarik dengan Juliana, ternyata semuanya hanyalah sandiwara!!!!!

“Dewi….” Melalui telepon, Brandon bisa merasakan Dewi sedang marah, dia menghiburnya dengan hati-hati, “Kamu tidak apa-apa, “kan?”

“Tidak apa-apa, memangnya aku harus bagaimana?” Dewi tertawa dingin mengejek, “Lagipula aku juga belum menjawabnya mau menikah dengannya atau tidak, untungnya belum

menikah….”

Dia berkata sambil menggertakkan gigi, sangat ingin terbang ke Kota Snowy sekarang juga, lalu mematahkan leher Lorenzo!!!

“Benar, benar, untungnya belum menikah, sekarang masih sempat menarik diri, intinya, jangan mau dengan pria ini, dari awal aku sudah tahu, pria terpandang dan punya kedudukan sangat tinggi seperti ini, tidak mungkin jatuh cinta pada satu orang saja, aku sudah lihat banyak….

Tunggu kamu sembuh, aku dan Bibi Lauren baru pergi menjemputmu ke Kota Bunaken, sampai saat itu, putuskanlah hubunganmu dengan Lorenzo.

Oh ya, sekarang kamu masih belum boleh keluar dari wilayah perlindungan Keluarga Moore. Bibi Lauren bilang, orang gila itu akan selalu mengawasimu diam-diam, kalau kamu sendirian. akan sangat berbahaya… Halo, halo, Dewi, De….

Belum selesai Brandon berbicara, Dewi sudah mematikan teleponnya, dia langsung menghubungi nomor Lorenzo….

Teleponnya berdering lama, tidak ada yang mengangkat.

Dewi kembali meneleponnya lagi, masih tidak ada yang mengangkat, dia menelepon tiga kali

berturut-turut dan semuanya tidak diangkat, amarahnya semakin membara…..

Bab 1986 Bertengkar

Dewi begitu marah, ia berjalan mondar-mandir di dalam kamar, ponsel di tangannya hampir saja dipatahkannya.

Setengah jam berlalu, Lorenzo masih belum membalas teleponnya, setelah satu jam berlalu masih belum ada balasan….

Dia terus menatap ponselnya, suaranya diaktifkan, menunggu telepon masuk.

Tapi, satu jam, dua jam, lima jam telah berlalu….

Masih belum ada telepon masuk.

pun,

Dewi sudah sangat emosi, dia bersiap menanyakan nomor Jasper pada Sonny, namun saat itu, ponselnya berbunyi, Lorenzo meneleponnya..

Tanpa berpikir, Dewi buru-buru mengangkatnya, “Halo!”

“Kenapa? Ada masalah?”

Suara Lorenzo jelas dan dingin, terasa asing dan acuh.

Dewi semakin marah, ia langsung berkata dengan geram, “Lorenzo, apa maksudmu???”

Lorenzo di ujung telepon sedang menandatangani dokumen, ponselnya diletakkan di atas meja, mode pengeras suara dinyalakan, oleh karena itu, gendang telinganya hampir pecah olehnya, “Kenapa marah seperti ini? Siapa yang mengganggumu?”

“Aku sudah lihat beritanya, sekarang kamu, segera, jelaskan padaku sejelas-jelasnya!!!”

Dewi ingin sekali bergegas ke masuk ke telepon untuk mencekik dan meminta penjelasannya.

Perkataannya yang keras ini, membuat suasana hati Lorenzo menjadi buruk, ia berkata dengan dingin. “Ada apa dengan sikapmu ini? Kenapa kasar sekali?”

“Maksudmu apa? Apa aku tidak punya hak untuk bertanya?”

Dewi menekan jarinya di layar tabletnya, sambil memarahinya dengan kesal.

“Mana bajingan tidak tahu malu yang bilang ingin menikahiku itu? Mana bajingan yang terus nempel padaku itu? Sekarang aku baru pergi beberapa hari, kamu sudah berhubungan dengan wanita lain???”

“Apanya yang nempel padamu terus? Kamu mengatakannya seakan-akan kamu tidak suka!” Lorenzo juga marah, “Mana wanita buruk yang merampas ciuman pertamaku, naik ke tempat tidurku di tengah malam, menggunakan dua identitas untuk mendekatiku? Bahkan menahan

peluru untukku, dan kembali untuk menyelamatkanku tanpa memedulikan hidup dan matinya?”

“Aku memang sudah buta, puas???”

Dewi meraung dengan geram, kemudian langsung mematikan teleponnya.

“Sialan!!!” Di ujung telepon, Lorenzo begitu emosi. “Wanita buruk itu, ternyata berani menutup teleponku???”

“Pria rendah sialan, tidak tahu malu dan sangat rendahan!!!”

Dewi menggertakkan giginya dengan geram, tidak ada tempat untuk melampiaskan amarah di seluruh tubuhnya, tepat di saat itu juga, tanpa sengaja ia melihat lagi foto di dalam berita, yang dipakai Juliana di lehernya ternyata adalah “Pusat Galaksi”!!!

Itu adalah kalung berlian seharga ratusan milyar.

Di awal Lorenzo membelikannya, dia berpura-pura angkuh, dan berpura-pura menolaknya, dalam sekejap dia langsung menyuruh orang lain untuk mengembalikannya, membuat dirinya begitu menyesalinya…

Dia mengira, dia benar-benar telah mengembalikannya.

Tapi sekarang, ternyata Juliana-lah yang memakainya.

Bahkan, di bagian bawah beritanya tertulis, di pesta dansa, Lorenzo memberikan Juliana “Pusat Galaksi”, bahkan ia memakaikan sendiri untuknya….

Dewi hampir gila, saat itu juga, Lorenzo kembali meneleponnya, dia mengangkatnya dengan

kesal.

“Aku meneleponmu untuk memberitahumu, jangan matikan teleponku duluan, aku yang harus

matikan….”

“Lorenzo, dasar bajingan rendahan yang tidak tahu malu, mati saja kamu!!!!!”

Dewi mengutuk marah di telepon, kemudian menutup teleponnya lagi.

Di ujung telepon, Lorenzo tercengang, sialan, wanita itu menutup teleponnya lagi, dua kali berturut-turut, bahkan dia juga mengumpatnya.

Di depan begitu banyak orang!!!!

Di dalam ruangan, Jasper berkeringat dingin, beberapa tamu juga kaget hingga gemetar

Winston yang duduk di atas sofa tercengang, baru pertama kali dia melihat Lorenzo dimaki dengan begitu kasar, sampai tidak dapat membalasnya.

Bahkan Cole yang selalu menganggap dirinya arogan, saat itu juga menjadi tidak tenang, mengusap hidungnya dengan canggung, lalu dengan hati-hati menyelinap keluar.

dia

Bab 1987 Merepotkan Orang yang Tidak Bersalah

Lorenzo hampir gila, dia kembali menelepon Dewi.

Teleponnya langsung dimatikan.

Dia lanjut menelepon dan dimatikan dua kali berturut-turut.

Ia menelepon lagi, namun ponselnya sudah tidak aktif.

Wanita sialan!!!

Lorenzo begitu marah hingga hampir gila, dia langsung melempar ponselnya, mengenai dinding. lalu jatuh ke lantai, dan hancur berkeping-keping.

Para pengawal di dalam ruangan terkejut dan tidak berani keluar.

Winston berkata dengan gemetar, “Ehm, Lorenzo, karena hari ini kamu ada urusan, aku tidak akan mengganggumu, aku pergi dulu….”

Sambil berbicara, dia berlari ke luar ruangan, takut akan dipukul kalau dia berjalan lambat.

Beberapa pengawal di sana juga sangat ketakutan, mereka menundukkan kepala, tidak berani

keluar.

Jasper menenangkannya, “Tuan, jangan marah, Nona Dewi mungkin cemburu karena melihat berita itu, makanya dia ….”

“Apa karena cemburu, lalu bisa menghina dan memerintahku?” Tanya Lorenzo dengan geram, “Karena cemburu, lalu mematikan telepon dariku? Juga berani menghinaku???”

Jasper menunduk, tidak berani berbicara.

Namun, ia berkata dalam hati dengan lemah, ‘Bukan aku yang memaki dan menutup telepon Tuan…. Kenapa malah memarahiku? Kalau bisa, coba maki Nona Dewi!!!!

“Selain itu, jelas-jelas dia yang tidak mengangkat teleponku duluan, tidak membalas pesanku.”. Lorenzo berteriak marah, “Dia punya waktu untuk menghubungi kawannya itu, tapi tidak punya waktu untuk menghubungiku, sebaliknya, dia malah menghinaku???”

Benar, dia menyuruh Kelly untuk mengawasi Dewi, melaporkan setiap gerakannya dan setiap perkataannya, setiap hari berhubungan dengan siapa saja, semuanya dilaporkan.

Jadi, Lorenzo tahu kalau Dewi baru saja menelepon Brandon, setelah itu baru meneleponnya, hatinya terbakar amarah….

“Benar, Tuan tenanglah!” Jasper membujuknya dengan pelan, “Ini sepertinya salah paham,

1/3

mungkin Nona Dewi hanya ….”

“Hanya apa? Apanya yang hanya?” Lorenzo sama sekali tidak mendengarkan perkataannya, ia meraung, “Dia

“Dia yang tidak bisa melupakan kawannya itu, dia sengaja mencari alasan untuk berpisah denganku!!!”

Mendengar perkataan ini, Lorenzo bertambah emosi, “Ya, dia pasti mau berpisah denganku, tidak salah lagi!”

Dia menggertakkan giginya, “Kalau ingin kabur, tidak semudah itu!!!”

“Kamu segera sampaikan perintahku, suruh orang-orang untuk mengawasinya baik-baik, jangan biarkan dia pergi kemana pun. Besok aku akan pergi ke Kota Bunaken, aku ingin lihat, apa ingin mati!”

Lorenzo begitu marah hingga membalikkan meja.

“Baik, aku akan segera menyampaikan perintah Anda.”

Jasper buru-buru mengambil kesempatan untuk keluar dengan alasan mau menelepon.

dia

Lorenzo masih marah di dalam ruang kerjanya, seakan-akan melarang orang asing masuk ke

dalam.

Orang-orang di luar sangat terkejut dan ketakutan, tidak berani mendekat ….

Jasper menghubungi Sonny, menanyakan keadaan di sana.

Sonny berkata dengan cemas, “Nona Dewi benar-benar marah, dia melempar tablet dan ponselnya dari lantai atas ke bawah, semuanya jatuh ke dalam kolam, aku sedang menyuruh orang untuk mengambilnya.”

“Kelihatannya mereka sama-sama sedang dipuncak emosi sekarang, siapa pun juga tidak akan ada yang mau mengalah, tidak ada cara lain, kita semua berhati-hati saja.”

Jasper sangat tidak berdaya.

“Kak Jasper, sebenarnya ada apa? Kenapa mereka bertengkar?” Tanya Sonny tidak mengerti, “Beberapa hari lalu sebelum berpisah, mereka masih romantis, kenapa tiba-tiba….”

“Nona Dewi pasti sudah melihat beritanya, jadi dia memaki Tuan, Tuan juga salah paham padanya, jadi mereka bertengkar.”

Jasper menjelaskan, “Kita tidak bisa ikut campur pada masalah ini, yang harus kamu lakukan sekarang hanyalah menjaga Nona Dewi baik-baik, memastikan keamanannya, jangan biarkan Nona kabur!!!”

“Baik, baik.” Sonny mengangguk berturut-turut.

“Tuan barusan bilang, besok mau berangkat ke Kota Bunaken, tidak tahu benar atau tidak, lagipula masih banyak urusan yang harus diurus di sini, seharusnya beberapa hari ini, Tuan tidak bisa pergi….

Tapi mungkin saja karena marah, dia bersikeras untuk pergi, intinya kamu harus mengawasi Nona Dewi dengan baik, jangan sampai terjadi masalah. Aku hubungi Jeff dulu, lihat bagaimana kondisinya di sana.”

“Baik, mengerti.”

Bab 1988 Menenangkan Diri

Dewi dipenuhi dengan amarah, dia masih ingin melempar barang, tapi melihat semuanya adalah benda mahal, dia menaruhnya kembali.

Tenang, tenang….

Dewi berjalan mondar-mandir di dalam ruangan, memaksakan dirinya sendiri untuk tenang, jangan marah, marah berarti menggunakan kesalahan orang lain untuk menghukum diri sendiri.

Tapi, foto Lorenzo dan Juliana yang begitu intim, berulang kali muncul di dalam pikirannya, semakin dipikirkan semakin membuatnya marah….

Dia sangat ingin terbang ke sana dan menghajar Lorenzo hingga menjadi sebuah serpihan!!!

“Nona Dewi, tenanglah!” Kelly membujuknya dengan hati-hati, “Ini pasti ada kesalahpahaman, terlebih lagi, Tuan begitu menyukai Anda, perasaannya tidak akan berubah….”

“Kamu jangan membelanya, sekarang kenyataannya ada di depan mata.” Dewi berkata dengan kesal, “Bahkan barusan aku menanyainya di telepon, dia tidak membantahnya, malah marah padaku….”

“Itu

….” Kelly tidak berani berbicara, bagaimanapun juga, dia tidak berani menghina Tuannya. terlebih lagi, dia juga tidak mengerti tentang masalah percintaan.

“Nona Dewi, jangan marah, beberapa hari lagi Tuan akan datang, kalau ada masalah, kalian cukup bicarakan dengan jelas.” Sonny juga membujuknya.

“Untuk apa dia datang??” Begitu Dewi mendengarnya, dia tambah geram, “Memamerkan hubungan percintaan antara dirinya dengan Juliana? Atau untuk bertengkar denganku? Mau

bilang kalau aku menutup teleponnya?”

“Itu….” Sonny tidak dapat membalasnya.

“Sudahlah, kalian semua keluarlah.” Dewi tidak ingin melampiaskan kemarahannya pada mereka, “Aku ingin sendirian!”

“Baik.” Kelly berlari, takut dimarahi.

“Nona Dewi, tenangkan diri Anda, aku percaya Tuan bukan orang yang seperti itu. Aku tanyakan kondisi di sana dulu, lalu kembali memberitahu Anda.”

Sonny masih sangat mengkhawatirkan Dewi, selesai berbicara, dia langsung menanyakan kondisi di sana.

Dewi minum beberapa botol air berturut-turut, masih belum bisa menenangkan dirinya. Dia berbaring di atas sofa, di dalam hati ia mengutuk Lorenzo dengan geram.

Saat ini, dia sangat ingin berpisah dengan Lorenzo, tidak mau memiliki hubungan apapun lagi.

Memikirkan hal ini, dia segera membereskan barangnya, bersiap pergi….

Tapi begitu membuka pintu, dua orang pengawal yang menjaga di depan melihatnya, mereka buru-buru menunduk dengan hormat, “Nona Dewi!”

Dewi ingin pergi, tapi kedua orang itu segera mengikutinya dari belakang.

Kemana pun dia pergi, mereka tetap mengikutinya.

Dia berjalan lebih cepat, mereka juga berjalan lebih cepat, seperti sebuah bayangan yang mengikuti di belakang, mereka tidak pernah meninggalkannya satu langkah pun.

Tapi, di saat dia ingin keluar dari gerbang vila, kedua pengawal itu segera mencegatnya, pengawal di pintu juga mencegatnya dari belakang, “Nona Dewi, maaf, Tuan memerintahkan, sebelum Tuan datang. Anda tidak boleh meninggalkan vila,

“Kenapa?” Tanya Dewi sambil mengerutkan alis.

“Di luar sangat berbahaya, Tuan juga melakukannya demi keamanan Anda.” Pengawal menjelaskan.

“Kalau aku benar-benar harus keluar bagaimana?” Dewi agak marah, “Apa kalian pikir, kalian bisa menahanku?”

“Itu….

Para pengawal panik, mereka telah melihat keterampilan ajaib Dewi, walaupun tubuhnya terlihat biasa saja, tapi keterampilannya yang luar biasa itu, bukanlah sesuatu yang bisa dihadapi oleh orang biasa.

Ditambah lagi, dia adalah calon Nyonya, mereka tidak berani melawannya!

“Kenapa?”

Saat itu juga, Sonny buru-buru menghampiri.

Para pengawal bergegas melaporkan keadaan padanya.

Begitu Sonny mendengarnya, dia segera membujuk, “Nona Dewi, saat ini Anda benar-benar tidak boleh keluar, kalau terjadi sesuatu bagaimana?”

Mendengar perkataan itu, Dewi teringat dengan nasihat Bibi Lauren, saat ini dia benar-benar tidak boleh keluar dari wilayah pengawasan Keluarga Moore. Kalau dia menjadi sasaran Denny, pasti akan sangat berbahaya….

Walaupun hatinya tidak nyaman, tapi mengingat masalah keamanan, Dewi pun

stap

berkompromi, dia berkata dengan kesal. “Ya sudah, aku tidak mau mempersulit kalian.”

Kemudian, dia berbalik ….

Begitu kembali ke kamar, Sonny memberikan ponsel baru, berkata dengan pelan, “Aku sudah memasangkan kartu SIM Nona, tenangkanlah diri, aku sudah menanyakannya pada kawan- kawan yang lain, rumor-rumor itu sepertinya sengaja dibuat oleh Keluarga Henderson, Tuan juga marah.

Nona percayalah padanya, aku telah bersamanya selama bertahun-tahun, aku memahaminya, Tuan tidak akan berselingkuh….”

THE

Bab 1989 Pengawalan

Melihat tampang jujur Sonny, amarah Dewi perlahan-lahan mereda.

Ia menoleh dan berpikir, perkataan Sonny benar juga, Lorenzo itu, sifatnya buruk dan keras, satu hubungan saja sulit berhasil, bagaimana bisa menjalin hubungan dengan dua orang di saat yang

bersamaan?

Apa benar ada kesalahpahaman?

Tapi, dia memberikan “Pusat Galaksi” pada Juliana, jadi seharusnya itu benar.

Memikirkan hal ini, hati Dewi menjadi sangat tidak nyaman…..

Sekarang bukan saatnya untuk marah, dia harus menunggu Jeff membawa guru datang, setelah melakukan operasi, barulah dibicarakan lagi.

Dewi kembali berbaring di atas kasur dengan tenang…..

Meskipun ponselnya sudah dipasang kartu SIM, tapi dia masih belum menyalakannya.

Dewi berpikir, kalau menyalakan ponselnya sekarang, apa Lorenzo akan meneleponnya?

Pria itu biasanya tidak banyak bicara, sebaliknya saat bertengkar, dia malah jadi sangat hebat, tidak membiarkannya berbicara sepatah kata pun.

Dewi meletakkan ponselnya, tidak menyalakannya.

Tapi setelah dipikir-pikir lagi, kalau seperti ini, Bibi Lauren tidak akan bisa menghubunginya. takutnya malah membuat Bibi Lauren khawatir….

Akhirnya, Dewi kembali menyalakan ponselnya.

Dia masih berpikir, setelah menyalakan ponselnya, kalau Lorenzo meneleponnya, dia akan memblokir nomornya, dengan begini dia tidak akan bisa bertengkar dengannya….

Tapi, setelah satu jam, dua jam berlalu, Lorenzo tidak meneleponnya, juga tidak ada pesan

apapun.

Sebaliknya malah datang telepon dari Bibi Lauren.

Dewi buru-buru mengangkatnya, “Bibi Lauren!”

“Kamu tidak apa-apa, ‘kan? Masih di dalam vila Keluarga Moore, ‘kan?”

Bibi Lauren menanyainya dengan cemas.

“Masih.” Dewi tertawa pahit, “Bibi sudah tahu Brandon menghubungiku?”

“Si bodoh itu, memang harus dipukul.” Bibi Lauren berkata dengan marah, “Aku sudah bilang padanya untuk tidak memberitahumu dulu, tapi dia tidak mau dengar, malah langsung memberitahumu ….

Dewi, kalau kamu benar-benar menyukai Lorenzo, ingin bersama dengannya, kamu harus mempersiapkan hati, kelak rumor semacam ini akan ada banyak.

Meskipun dia tidak mempermasalahkannya, tapi tetap akan ada banyak wanita yang ingin membuat rumor dengannya, kamu harus tahu, ini adalah kesempatan.

Tapi, karena kamu mau tetap bersamanya, kamu harus berlatih untuk menguatkan hati, harus saling percaya, jangan marah karena hal yang tidak ada buktinya….”

“Aku baru mengerti sekarang, kenapa awalnya bibi tidak mau aku bersama dengannya.”

Dewi sedikit tersentuh, Bibi Lauren sangat berpengalaman, banyak hal yang sudah ia ketahui lebih awal….

“Dewi, kamu sangat pintar, tapi bagaimanapun juga, pengalaman hidupmu masih dangkal.”

Bibi Lauren berkata dengan tulus dan sepenuh hati, “Masalah ini, aku dan Paman Joshua akan membantumu mengurusnya, yang harus kamu lakukan sekarang adalah, menjalani pengobatan dengan tenang, jangan sampai rencana ini berantakan karena seseorang atau suatu masalah, mengerti?”

“Mengerti.” Dewi mengangguk, “Terima kasih, Bibi Lauren, dan juga, Terima kasih Paman. Joshua ….”

Dari kecil, Dewi tidak memiliki orang tua, walaupun ada guru yang membesarkannya, mengajarinya ilmu, tapi mengenai perasaan, mengenai kehidupan, dia tetap tidak terlalu. mengerti.

Meskipun dia pintar dan kemampuannya sangat tinggi, namun dia masih muda, perjalanan. hidupnya baru saja dimulai, ada banyak hal yang belum pernah ia alami, jadi masih kurang berpengalaman ….

Untungnya, ada Bibi Lauren dan Paman Joshua yang mengawal hidupnya.

Sehingga dia bisa sampai pada hari ini.

“Bodoh, kita ini keluarga, untuk apa berterima kasih, kamu harus mengingat perkataan bibi, sekarang jangan pedulikan apapun, laukanlah operasi itu, nanti baru kita bicarakan lagi, mengerti?”

Bibi Lauren kembali menasihatinya.

“Mengerti.” Dewi menjawab dengan sungguh-sungguh.

“Operasinya harus dilakukan secepat mungkin, jangan ditunda lagi, kalau orang dari Keluarga Moore masih belum menemukan gurumu, kamu langsung mengaku saja. Sedangkan Tabib Hansen itu, kamu mengaku salah dengan baik, dia pasti akan memaafkanmu….”

“Seharusnya akan segera ditemukan, nanti coba aku tanya.”

Dewi juga mengkhawatirkan hal ini, terutama dia takut guru tidak bersedia turun bukit, Jeff juga sangat keras, takut ia malah akan menakuti gurunya….

Bab 1990 Setuju

Setelah telepon dimatikan, Dewi pergi mencari Sonny, menanyakan keadaan Jeff di sana.

Sonny baru saja ingin melaporkan padanya, Jeff sudah menemukan Tabib Hansen, hanya saja Tabib Hansen tidak mau turun bukit, sekarang Jeff sedang memikirkan cara untuk membujuknya.

Begitu mendengarnya, Dewi menjadi bersemangat dan tidak tenang…..

Guru benar-benar sudah ditemukan, apakah gurunya akan datang?

Apa Jeff akan membocorkan dan mengungkapkan identitasnya secara tidak disengaja?

Memikirkan hal ini, Dewi bergegas menyuruh Sonny untuk menghubungi Jeff, dia ingin memperingatkannya sendiri….

Sonny buru-buru menghubungi nomor Jeff.

Setelah telepon berbunyi lama, barulah dijawab, “Halo!”

“Kak Jeff, Nona Dewi mencarimu.”

Sonny memberikan ponselnya pada Dewi.

“Nona….” Jeff baru saja ingin bicara, Dewi sudah memotongnya, “Apa di sebelahmu ada orang?”

“Aku ada di rumah Tabib Hansen.” Kata Jeff.

“Pergilah ke halaman belakang, jangan sampai ada orang yang dengar.” Dewi segera berbicara.

“Oke.” Jeff membawa ponsel menuju halaman belakang, “Sekarang sudah tidak ada orang, Nona Dewi bicaralah.”

“Apa kamu sudah bertemu dengan Tabib Hansen?” Tanya Dewi dengan gelisah.

“Sudah.” Lapor Jeff, “Aku sedang berusaha membujuknya untuk turun, dia sangat keras kepala, dibilang bagaimana pun juga tetap tidak mau turun. Dia bilang, ia sudah bertahun-tahun dia tidak melakukan operasi, menyuruhku untuk mencari orang lain….”

“Apa kamu sudah mengatakan padanya, mengenai identitasku?”

Dewi memotong perkataannya, menanyainya dengan cemas.

“Aku hanya bilang, dia adalah calon istri Tuan kami, dan sesuai dengan maksud Anda, aku sudah mengatakan kondisi dan umur Nona, juga tidak ada riwayat penyakit… selain itu aku tidak bilang apa-apa lagi.”

Jeff memperhatikan rumah kayu dengan hati-hati,

“Apa kamu menyebut namaku?” Dewi bertanya lagi.

“Tidak.” Jeff menggeleng.

“Baguslah kalau begitu.” Dewi mendesah lega, ia kembali memberi perintah, “Lain kali saat telepon, jangan sebut namaku, panggil saja Nona, mengerti?”

“Mengerti.” Jeff mengangguk, “Sebelumnya setiap menelepon, aku selalu menelepon di dalam mobil, Tabib Hansen tidak tahu nama Nona.”

“Baguslah kalau begitu, baguslah….” Barulah Dewi tenang, kemudian ia memperingatinya, “Bujuklah dia, jangan selalu membicarakan persyaratan dengannya, katakan saja, menyelamatkan sebuah nyawa lebih baik daripada membangun kekayaan.

Nona kami, juga terluka karena menyelamatkan orang, dia baru berumur 21 tahun, dia masih muda, sayang sekali kalau nyawanya hilang begitu saja. Semoga dia mau menunjukkan belas kasihannya dan menyelamatkannya ….”

“Eh, apa harus bicara seperti itu?”

Walaupun Jeff penurut, tapi dia biasanya selalu mendengar perintah Lorenzo saja, terhadap orang lain, dia hanya bersikap sopan, tidak pernah tunduk.

Sekarang harus merendahkan dirinya untuk memohon pada orang tua, dia tidak terlalu terbiasa, ditambah lagi, dia harus mengucapkan perkataan calon Nyonya-nya yang begitu menyedihkan.

ini….

“Lalu, sikapmu terhadap Tabib Hansen, harus lebih hormat dibandingkan dengan Lorenzo.” Dewi memberikan penekanan yang dalam, “Anggap saja dia ayah Lorenzo, seharusnya kamu mengerti, bagaimana cara membujuknya, ‘kan?”

“Hah????” Jeff tercengang.

“Kenapa hah? Lakukan sesuai perkataanku!”

Dewi memerintahnya dengan keras.

“Oke.”

Karena itu perintah, Jeff tidak berani menolaknya. Sebelum pergi, Lorenzo pernah memberinya perintah, Dewi adalah Nyonya, selama itu tidak bertentangan dengannya, ia harus menuruti perintahnya.

“Aku tunggu kabar baik darimu!”

Dewi membalasnya, lalu mematikan teleponnya.

Sambil memegang ponsel, Jeff masuk kembali ke rumah kayu, ia mengubah sikap kasarnya saat berbicara barusan, membungkuk 90 derajat pada Tabib Hansen dan berkata dengan penuh. hormat-

“Tabib Hansen, saya menyinggung Anda tadi, saya ingin meminta maaf pada Anda.

Barusan Nyonya kami sudah memperingatkanku, dia juga seorang Tabib, sebelumnya dia terluka demi menyelamatkan orang, tapi Tabib tidak bisa mengobati dirinya sendiri….”

Setengah jam kemudian, Dewi menerima telepon dari Jeff.

Di ujung telepon, Jeff berkata dengan semangat, “Tabib Hansen setuju, dia setuju, besok sore kami akan berangkat turun bukit!”

“Baguslah!!!!!”

Bab 1991 Persiapan

Jeff memberitahukan kabar baik ini pada Jasper, dia berkata dengan tersentuh, “Nona Dewi benar-benar hebat, dia mengajariku suatu metode dan Tabib Hansen langsung terbujuk olehku.”

“Sehebat itu?” Jasper sangat penasaran, “Metode apa yang dia ajarkan padamu?”

Jeff menceritakan semua hal yang dikatakan Dewi, setelah setengah berbicara, dia berhenti, tiba- tiba dia menyadari sesuatu.

“Tidak mungkin, bagaimana Nona Dewi bisa tahu kalau di rumah Tabib Hansen ada halaman belakang? Dia langsung menyuruhku untuk bicara di halaman belakang… Terlebih lagi, kata- katanya itu, seakan-akan dia sangat mengenal Tabib Hansen.”

“Bukan hanya mengenal, tapi juga sangat menghormati.” Jasper menganalisanya, “Sepertinya mereka memang saling kenal sejak awal … Tapi, kalau Tabib Hansen dan Tabib Dewi sudah saling kenal, kenapa dia tidak memberitahu kita? Ini semua juga demi menyelamatkan nyawanya sendiri.”

“Benar.” Jeff juga merasa bingung, “Aku tiba-tiba teringat, saat kita baru tiba di Kota Bunaken, aku bersiap berangkat mencari Tabib Hansen, Nona Dewi mengingatkanku, Tabib seperti ini biasanya bersembunyi di atas bukit, lalu setelah aku pergi mencari berdasarkan perkataannya, aku langsung menemukannya….”

“Kalau begitu, berarti ucapan Nona Dewi berguna juga.” Jasper dapat menyimpulkan dengan cepat, “Sepertinya, Nona Dewi benar-benar mengenal Tabib Hansen, mungkin mereka punya hubungan khusus, tapi dia tidak ingin orang lain mengetahuinya.”

“Benar, benar.” Jeff mengangguk berturut-turut, “Nona Dewi juga memperingatkanku tiga kali, jangan sampai Tabib Hansen mengetahui identitasnya, bahkan tidak mau menyebutkan namanya Sedangkan Tabib Hansen langsung setuju untuk mengobatinya, bagaimana menyembunyikan identitasnya?”

“Kamu tidak perlu mengkhawatirkan masalah ini, itu adalah perintah Nona Dewi.” Jasper tertawa, “Karena keadaannya sedang genting, otomatis dia akan memikirkan cara, kamu hanya perlu menuruti semua perintahnya saja.”

“Ya, benar juga.” Jeff mendesah, “Pemikiranmu masih lebih baik dariku, pantas saja Tuan lebih suka kamu ada di sisinya.”

“Haha, perkataan ini menyakitkan sekali.” Jasper tertawa.

“Omong-omong, kapan Tuan datang?” Tanya Jeff, “Aku dengar dari Sonny, dua hari ini Nona Dewi sedang tidak tenang, suasana hatinya juga tidak terlalu stabil….”

“Ternyata mereka berdua masih belum baikan.” Kata Jasper, “Tapi, karena kamu sudah berhasil membujuk Tabib Hansen, seharusnya Tuan akan ke sana, di mulut bilang sangat marah, tapi

kenyataannya Tuan sangat mengkhawatirkan Nona Dewi.”

“Kamu laporlah, aku pergi menyiapkan pesawat pribadi.”

“Oke.”

Jasper menutup telepon dan pergi mencari Lorenzo, melaporkan kabar barusan padanya secara detail.

Setelah Lorenzo mendengarnya, ia segera memberi perintah, “Siapkan pesawat pribadi, kita segera pergi ke Kota Bunaken.”

“Sekarang?” Jasper buru-buru mengingatkan, “Apa Anda lupa kalau sore ini Pak Presiden akan datang memeriksa kantor? Tiga keluarga besar dan Tuan Sammy sudah di sana dan bersiap dari pagi.”

“Aku lupa.”

Lorenzo melirik jam tangannya, sekarang masih pukul setengah sepuluh pagi, hari ini dia mengurus beberapa urusan bisnis di rumahnya, tidak buru-buru ke kantor….

“Sore nanti rapat jam berapa?”

“Jam tiga.” Kata Jasper, “Kemungkinan akan selesai jam empat lewat, dari kantor menuju bandara kira-kira butuh waktu 40 menit, bagaimana kalau, siapkan pesawat pribadi di jam 7.30?”

“Kalau begitu, masih harus menunggu tujuh jam lagi.” Lorenzo mengerutkan alis.

“Saat Ivan datang memeriksa terakhir kali, Anda tidak datang, sehingga memicu serangkaian masalah, kali ini Pak Presiden yang datang, Anda harus hadir.”

Jasper mengingatkannya dengan serius, “Jeff juga butuh waktu beberapa jam untuk membawa Tabib Hansen ke Kota Bunaken, operasi di rumah sakit juga butuh waktu untuk persiapan, seharusnya kita masih keburu ….”

“Baiklah, persingkatlah waktunya sebisa mungkin. Perintah Lorenzo, “Minta Jeff persiapkan dengan baik di sana, tunggu aku datang baru melakukan operasi.”

“Baik.” Jasper bergegas memberitahu Jeff, juga menyiapkan penerbangan malam

Bab 1992 Ledakan Lagi

Sudah larut malam di kota Bunaken.

Dewi tahu, siang hari Jeff sudah membawa Tabib Hansen turun bukit menuju kota Bunaken, sekarang ia jadi susah tidur….

la menantikan, tapi juga merasa gugup, menantikan untuk bertemu gurunya, bagaimanapun juga, sudah lima tahun ia tidak bertemu dengan gurunya, tidak tahu bagaimana kondisinya. sekarang.

Dan yang membuat gugup adalah, dia teringat pemberontakan dan kekeras kepalaannya pada saat itu, membuat hati gurunya terluka, tidak tahu apa gurunya sekarang masih mengenalinya, apa gurunya akan memarahinya atau bahkan hanya akan mengabaikannya dan pergi ketika melihatnya….

Memikirkan hal ini, Dewi merasa gelisah ….

Ketika sedang berpikir, ponselnya tiba-tiba bergetar, Dewi menerima beberapa pesan singkat dari sebuah nomor tidak dikenal, dia membukanya dan wajahnya menjadi pucat karena terkejut…

Pesan tersebut berisikan video ledakan di panti asuhan, di dalam video itu, panti asuhan itu berantakan, banyak anggota staf dan anak-anak yang terluka, anak-anak berdiri di taman bermain tanpa alas kaki, menangis ketakutan….

Tiga pesan singkat berturut-turut, terjadi di panti asuhan Negara Swedoland, waktunya adalah satu jam yang lalu….

Dewi segera menelepon Bibi Lauren, telepon tidak bisa tersambung, kemudian ia menelepon Paman Joshua, tapi teleponnya juga sibuk, akhirnya dia menelepon Brandon, setelah berdering cukup lama, panggilannya akhirnya tersambung.

“Hei, kawan.”

“Brandon, apa yang terjadi di panti asuhan?”

“Ugh, bagaimana kamu bisa tahu terjadi sesuatu di panti asuhan?” Brandon berkata tanpa berpikir, setelah itu ia bergegas mengubah kata-katanya, “Sebenarnya tidak ada apa-apa, hanya masalah kecil, jangan khawatir…

“Ada ledakan, begitu banyak orang terluka, kamu masih bilang padaku hanya masalah kecil??” Dewi sangat marah, “Cepat jujur padaku.”

“Ini …” Brandon sangat terkejut, “Bagaimana kamu bisa tahu terjadi ledakan? Siapa yang memberitahumu?”

“Aku menerima videonya.” Dewi berkata dengan cemas, “Terjadi di tiga panti asuhan 001 002

003??”

“Iya.”

Brandon yang melihatnya sudah mengetahui segalanya, bahkan tahu nomor panti asuhan mana, maka peristiwa itu sudah tidak bisa ditutupi lagi, ia hanya bisa berkata jujur.

“Malam ini terjadi ledakan lagi di tiga panti asuhan ini, ada sebagian staf yang terluka, termasuk beberapa anak-anak, sekarang sudah diantar ke rumah sakit, kamu jangan khawatir….”

“Lagi???” Dewi seketika menangkap kata kuncinya, “Sebelumnya pernah terjadi ledakan??” “Ugh….”

“Cepat beritahu yang jelas padaku.” Dewi berteriak marah.

“Beberapa hari yang lalu sudah terjadi ledakan satu kali, saat itu hanya ada beberapa staf terluka, anak-anak baik-baik saja, tapi kali ini

yang

Brandon berhenti sejenak, lalu bicara dengan pelan. “Tiga panti asuhan, total ada tujuh anak yang terluka, satu diantaranya terluka parah. Bibi Lauren sekarang ada di rumah sakit….”

“Kenapa bisa seperti ini?” Dewi sangat panik, “Ada masalah, kenapa tidak memberitahuku??”

“Bibi Lauren dan Paman Joshua melarangku untuk memberitahumu, mereka bilang, mungkin ini adalah ulah Denny, tujuannya adalah agar kita tidak ikut campur urusanmu, makanya kita tetap di Swedoland, tidak berani pergi.

Hanya Paman Joshua yang pergi sekali ke Negara Maple, tapi keesokan harinya kembali lagi. Kita kira, si gila itu tidak akan menyentuh panti asuhan lagi, tidak disangka malam ini lagi-lagi ….”

Ketika Brandon sedang berbicara, ponsel Dewi mendapatkan sebuah panggilan dari nomor tidak dikenal ….

Dewi segera berkata, “Brandon, tunggu sebentar.”

Setelah berkata, dia mengganti jalur teleponnya, “Halo!”

“Keluarga Moore bisa melindungimu, tapi tidak tahu apa bisa melindungi panti asuhanmu?”

Suara Denny terdengar melalui telepon, membawa hawa dingin yang suram.

“Dasar gila!!!” Dewi berteriak marah, “Anak-anak itu tidak bersalah, kenapa kamu menyentuh mereka?”

“Ya benar, anak-anak itu tidak bersalah….” Denny berkata pelan, “Apa Tania-ku bersalah? Kalau bukan karena kamu, mana mungkin dia mati??”

Post navigation

Previous

Bab 1993 Orang Gila

“Apa yang kamu inginkan sebenarnya??”

Dewi tahu, menjelaskan padanya sekarang juga tidak ada gunanya, jadi dia langsung menanyakan tujuannya.

“Aku sudah bilang, aku ingin kamu membayar nyawa!!!!!”

Denny mengucapkan kata demi kata dengan aura ingin membunuh.

“Polisi Swedoland masih tidak cukup hebat ya, masih ada beberapa bom tersembuyi di dalam panti asuhan, mereka bahkan tidak bisa menemukannya. Kalau suasana hatiku tidak baik, mungkin akan muncul ledakan kedua kalinya di panti asuhan, ketika itu terjadi, bukan hanya ada beberapa anak-anak saja yang terluka.”

“Dasar gila, gila!!!!!”

Dewi berteriak marah, ia hampir melompat dari tempat tidurnya…

“Ini juga disebabkan olehmu.” Denny bersikap santai, “Kalau Tania-ku masih hidup, bagaimana. mungkin aku bisa jadi seperti ini?

Dia sangat kesepian sendirian di surga, dia butuh beberapa teman kecil untuk menemaninya, tentu saja, termasuk kamu kakak baik hatinya….”

“Kamu ….”

“Cepat keluar dan temui aku, kalau tidak, aku tidak bisa menjamin apa yang akan terjadi nanti. Ingat, datang sendiri, kalau kamu bawa orang lain, bawa satu, maka aku akan membunuh satu

anak!”

Setelah Denny mengatakan hal ini, dia langsung menutup teleponnya.

Dewi yang mendengar nada sibuk telepon, hatinya terasa rumit tidak bisa diungkapkan….

Dia tahu, Denny adalah orang yang sanggup melakukan hal apapun, walau dia berada di kota Bunaken, tapi dia masih bisa meledakkan panti asuhan di Swedoland, jelas dia punya kaki tangan dan sudah punya persiapan.

Jika tidak berkompromi sekarang, takutnya benar-benar akan terjadi sesuatu pada anak-anak itu ….

Tapi, jika dia keluar dari vila ini, keluar dari perlindungan keluarga Moore, keselamatannya tidak akan terjamin lagi..

Tapi, sekarang tidak ada waktu untuk memikirkan semua ini, dia tidak bisa membiarkan sesuatu

terjadi di panti asuhan.

Memikirkan semua ini, Dewi segera mengganti pakaian, dan keluar dari balkon….

Sejak terakhir kali keberadaan Denny terungkap dan menyebabkan polisi mengejarnya, dia tidak muncul lagi disekitar.

Sonny dan yang lainnya masih melakukan tindak pencegahan, tapi karena hari ini Jeff ingin membawa tabib Hansen turun bukit, Sonny mengutus beberapa orang ke rumah sakit untuk membicarakan masalah operasi, jadi orang yang ada di Vila menjadi lebih sedikit,

Keterampilan Dewi memang biasa saja, tapi untuk kemampuan melarikan diri, dia adalah yang terbaik, dengan sangat cepat dia menghindari pandangan para pengawal dan menyelinap keluar

dari vila….

Setelah melarikan diri ke tempat yang berjarak 1 km dari vila, dia melihat sekeliling, dan tidak melihat ada bayangan dari Denny. Denny hanya menyuruhnya untuk keluar menemuinya, tapi tidak mengatakan bertemu dimana….

Dewi sekarang juga tidak tahu harus kemana…..

Ketika sedang berpikir, ponselnya tiba-tiba bergetar, dia mengira Denny yang meneleponnya, dengan segera dia menjawab, “Halo!”

“Dewi, ini aku.” Terdengar suara Bibi Lauren dari telepon, dengan nada mendesak, “Kamu tidak apa-apa, ‘kan? Tidak kemana-mana, ‘kan?”

“Aku….” Dewi tidak ingin membohonginya, tapi juga tidak ingin kena marah, jadi dia hanya mengalihkan topik pembicaraan, “Bibi Lauren, apa terjadi masalah di panti asuhan? Anak-anak baik-baik saja, “kan?”

“Lessi 003 terluka agak parah, sedang diselamatkan, sedangkan beberapa anak-anak lainnya baik- baik saja…

Bibi Lauren tidak bertele-tele dan langsung mengatakan situasinya, “Pasti Brandon yang memberitahumu ya? Dia benar-benar tidak bisa jaga omongan.”

“Kalau ada masalah memang sudah seharusnya memberitahuku, kalau tidak, aku akan khawatir….”

“Dewi, dengarkan aku, Denny melakukan begitu banyak hal, semuanya untuk memancingmu, jangan sampai tertipu olehnya. Kamu jangan sampai keluar dari perlindungan keluarga Moore ….”

“Bibi Lauren, aku….”

Sebelum Dewi menyelesaikan perkataannya, sebuah suara tembakan datang dan langsung mengenai ponsel Dewi.

Telinga Dewi bahkan sampai mati rasa, tangan kanannya tergores peluru dan mengeluarkan banyak darah….

Dia tanpa sadar berbalik dan melihat, tidak jauh, terparkir sebuah mobil, di dalam mobil ada seseorang, dia adalah Denny!

Dia seperti serigala dalam kegelapan, menatapnya dengan mata tajam….

Pistol di tangannya mengarah padanya, dengan dingin memberi isyarat agar Dewi masuk ke dalam mobil.

510

Bab 1994 Nyawa Dibayar Nyawa

Dewi tahu bahwa dia sekarang berada dalam situasi yang sulit, kecuali dia dan Denny mencapai kesepakatan, atau salah satu dari mereka mati, dendam ini baru akan berakhir.

Jika tidak, anak-anak dipanti asuhan akan berada dalam bahaya….

Bibi Lauren dan Paman Joshua juga takutnya akan ikut terlibat.

Jadi, sekarang Dewi harus menghadapinya dengan berani.

Memikirkan semua ini, Dewi segera berjalan ke sana dan masuk ke dalam mobil.

“Kamu benar-benar tidak takut mati ya!”

Denny menatapnya, kemudian menyalakan mobil dan pergi.

“Aku tidak ingin mati dan juga tidak akan membiarkanmu menyakiti anak-anak itu.” Dewi bersikap sangat tenang, “Ada apa-apa tujukan semua padaku, jangan sentuh mereka.”

“Hehe, kamu benar-benar orang yang baik ya.” Denny tersenyum dingin, “Aku sungguh penasaran, kenapa kamu mau membangun beberapa panti asuhan itu.”

“Karena aku yatim piatu, aku ingin melakukan sesuatu untuk anak-anak yang tidak punya orang tua.” Dewi menjawab dengan singkat, “Sesederhana itu.”

“Perkataan ini terdengar tidak asing.” Denny tersenyum mengejek, “Ayah angkatku pernah mengatakan hal yang sama pada kami, tapi dia melatih kami untuk menjadi pembunuh dan melayaninya! Di kehidupan ini, hingga mati, kami tidak mungkin lepas dari genggaman tangannya.

Mendengar ucapan ini, hatinya pun bergetar, dia tidak menyangka, Denny sebenarnya juga terpaksa menjadi pembunuh, dia juga ingin membawa anaknya dan pensiun, tetapi organisasi itu tidak mau melepaskannya.

“Panti asuhan yang kulihat, tidak ada satupun yang benar-benar bertujuan baik.” Denny berkata dengan dingin, “Kalau bukan di latih untuk berbuat jahat, maka di ambil organnya untuk di jual….”

“Milikku tidak seperti itu.” Dewi tidak setuju.

“Tidak penting, aku juga bukan utusan keadilan, aku tidak tertarik pada panti asuhanmu yang bermasalah atau tidak itu.” Denny berkata, “Aku hanya ingin membalaskan dendam Tania.”

“Kalau kamu ingin balas dendam, balaskan saja padaku.” Dewi memelototinya, “Anak-anak itu sama dengan Tania, sama-sama tidak bersalah, kamu jangan sakiti mereka.”

“Kamu masih berani menyebut Tania?” Mendengar nama anaknya, mata Denny tiba-tiba menjadi ganas, “Kalau bukan karena kamu, dia tidak akan kenapa-napa.”

“Walau tidak ada aku, tragedi pasti tetap akan terjadi.” Dewi tahu seperti ini akan memprovokasinya, tapi dia tidak bisa menahannya dan berkata, “Kamu punya begitu banyak musuh, kamu bisa melarikan diri untuk sementara, tapi apa kamu bisa melarikan diri seumur hidup?”

“Diam!!!” Denny berteriak marah, “Jelas-jelas kamu yang mencelakainya, kamu bilang kamu adalah seorang dokter, kamu bilang bisa menyelamatkannya, tapi hasilnya??”

“Saat itu pelurunya tidak mengenai bagian vitalnya, seharusnya dia bisa diselamatkan.” Mengingat peristiwa itu. Dewi masih sangat sedih, “Tapi aku tidak mengira, Tania punya penyakit jantung, bahkan mungkin pernah melakukan operasi jantung sebelumnya, tembakan itu membuatnya mengalami serangan jantung, jadi….”

“Kamu jelas-jelas hanya mencari-cari alasan.” Denny berteriak marah, “Tania tidak pernah melakukan operasi apapun sebelumnya, dia tidak pernah….”

Setelah berkata setengah jalan, Denny terdiam, seperti teringat sesuatu, tetapi tidak terlalu yakin.

“Tania pasti punya penyakit jantung, tapi pernah melakukan operasi atau tidak, aku tidak yakin, karena waktu itu kondisinya mendesak, dan aku tidak sempat melakukan pengecekan menyeluruh, aku ingin memeriksanya setelah itu, tapi polisi sudah ….”

Sebelum Dewi menyelesaikan ucapannya, dia mengganti topik pembicaraan. “Tidak peduli bagaimanapun juga, aku memiliki tanggung jawab atas masalah ini, aku sungguh merasa bersaah, kalau kamu ingin membenciku, aku tidak bisa berbuat apa-apa, tapi anak-anak itu, mereka tidak bersalah.”

“Karena itu, kamu bayar nyawa Tania dengan nyawamu.”

Denny mencengkeram setir dengan erat, suaranya sedingin es.

“Aku bukannya takut mati, tapi masih ada banyak hal yang harus aku lakukan, sekarang masih belum boleh mati.” Dewi masih tetap sangat tenang, “Beberapa tahun lagi, ketika saatnya aku sudah siap mati, aku akan pergi ke Hokkai untuk menyembahyangi Tania, dan hingga saat itu tiba, kalau kamu masih ingin membunuhku, aku tidak akan melawan.”

Dewi berpikir, dia tidak akan hidup lebih dari usia 30 tahun, hingga saat itu, dia bisa dimakamkan bersama dengan Tania, seperti yang dikatakan Denny, dia bisa pergi ke surga dan menemani Tania….

Bab 1995 Kembali ke Hokkai

“Konyol.” Tapi itu semua omong kosong yang ia dengar dari Denny, “Alasan yang tidak masuk akal, apa kamu pikir aku akan mempercayaimu?”

“Kamu tidak bisa membunuhku sekarang.” Dewi berkata dengan dingin, “Aku sarankan agar kamu tidak keras kepala.”

“Benarkah?”

Denny melirik ke kaca spion mobil, ada sebuah mobil silver mengikutinya, dia tahu, itu pasti orang keluarga Moore….

Dia sepertinya sudah memprediksinya, jadi dia bersikap sangat tenang, tidak panik sama sekali.

“Hanya beberapa orang ini, apa bisa merebutmu dari tanganku?” Denny menyeringai mengejek, “Bahkan kalau mereka berhasil mengejar, aku bisa saja membunuhmu lebih dulu!!!”

“Demi Tania, aku sarankan agar kamu menyerah dan meninggalkan obsesimu!”

Dewi mengerutkan keningnya dan menatapnya.

“Hehe, kamu terdengar seperti malaikat yang akan menyelamatkan hidupku!” Denny merasa itu konyol, “Kamu jangan lupa, kamu sekarang ada ditanganku!”

Dewi melihat kaca spion belakang dan berkata dengan tenang, “Kamu tidak akan bisa lari!”

Denny tidak menghiraukannya, menginjak pedal gas dan menambah kecepatan….

Dewi tidak punya pilihan lain selain meraih pegangan untuk menstabilkan dirinya.

Pada saat yang sama, di dalam hatinya dia juga mengagumi kemampuan mengemudi Denny yang bagus, juga keahlian menembaknya yang bahkan lebih unggul, jika tidak, tembakannya barusan tidak akan menjatuhkan ponselnya saja dan hanya menggores tangannya!

Makanya, orang seperti ini, sungguh sangat berbahaya.

Dalam sepanjang perjalanan mobil menuju bandara, Dewi bertanya dengan curiga, “Apa yang ingin kamu lakukan?”

“Membawamu ke Hokkai.” Denny menatap spion belakang dan berkata dengan dingin, “Aku ingin membunuhmu di depan makam Tania, menggunakan darahmu untuk memberi penghormatan padanya!”

“Apa kamu yakin ini yang dia inginkan?”

Dewi tidak bisa berkata-kata, Denny benar-benar sudah gila ….

Bab 1995 Kembali ke Hokkai

88

10 mutiara

Denny sama sekali tidak menghiraukannya, dia mengira, hanya dengan membunuhnya di depan makam Tania, barulah dia bisa berhasil membalaskan dendam Tania dan menyelesaikan misinya.

Tidak peduli orang lain berkata apa, tidak ada yang bisa menggoyahkan tekadnya.

Tapi dia belum bisa menyentuhnya sekarang, jika tidak, akan terjadi ledakan kedua di panti asuhan….

Namun, teleponnya tadi dengan Bibi Lauren terputus ditengah jalan, Bibi Lauren seharusnya mendengar suara tembakan, Bibi Lauren pasti akan menelepon kembali, jika tidak tersambung. dia pasti tahu telah terjadi sesuatu.

Dengan kebiasaan Bibi Lauren, dia pasti akan segera menelepon orang-orang keluarga Moore, pada saat bersamaan juga akan berpikir, Dewi sebelumnya di ancam oleh Denny, dan sangat memungkinkan masih ada bahaya lain di panti asuhan….

Jadi, berikan sedikit waktu pada Bibi Lauren, dia pasti bisa menemukan bomnya.

Alangkah baiknya jika bisa membuat Denny lebih tenang sekarang.

Mobil terus melaju ke arah bandara, Sonny dan rombongannya terus mengejarnya, tetapi kemampuan mengemudi mereka tidak sebanding dengan Denny, tidak peduli seberapa kerasnya mereka mengejar, tetap tidak bisa terkejar, dan jarak di antara mereka semakin menjauh.

Sonny segera menelepon tim lain untuk mengepung di jalan lain, pada saat bersamaan juga menelepon Jeff untuk melaporkan situasinya.

Tetapi ponsel Jeff mati, dia baru teringat, Jeff baru saja naik pesawat di kota tua

Sonny pun menelepon Jasper, tapi tidak diangkat.

Dia sangat cemas karena tidak bisa meminta bantuan sekarang, dia hanya bisa menyelesaikannya sendiri, sekarang dia berdoa dalam hati agar Tuhan melindungi, jangan sampai terjadi sesuatu pada Nona Dewi, jika tidak, maka habislah dia!!!

Denny mengemudi sangat kencang, dengan cepat dia membawa Dewi sampai di bandara, langsung menyeretnya keluar dari mobil, dan berjalan cepat ke pintu keberangkatan….

“Aku tidak punya tanda pengenal, tidak bisa naik pesawat.”

Dewi mencari-cari alasan untuk mengulur waktu.

Denny tidak menghiraukan Dewi, langsung menyeretnya masuk ke toilet pria, beberapa pria yang ada di toilet terkejut.

“Enyahlah!” Teriak Denny.

Beberapa pria itu ketakutan dan berlari keluar, salah seorang pria maju, berniat berħegosiasi

dengannya, melihat tatapannya yang menyeramkan, wajahnya pucat ketakutan, dan dia buru- buru berlari keluar.

Denny menendang salah satu pintu, mengeluarkan sebuah tas tahan air dari tangki air,

membukanya, dan didalamnya ternyata ada tanda pengenal miliknya dan Dewi.

3/3

Bab 1996 Menyandera

“Ternyata kamu sudah punya persiapan dari awal.”

Dewi terkejut, Denny bahkan memalsukan tanda pengenalnya dan menyembunyikannya di bandara, selama bisa menangkapnya, kapan pun bisa kembali ke Negara Richie.

“Patuh dan dengarkan aku, kalau tidak, kamu tahu akibatnya!”

Denny mengancam dengan suara rendah, lalu langsung menyeretnya keluar.

Dewi sekarang tidak berani melawan, bagaimanapun juga, dia masih belum bisa memastikan, panti asuhan sudah bebas dari bahaya atau belum.

Bibi Lauren dan Paman Joshua adalah agen rahasia dengan pengawasan yang tajam, namun Denny masih bisa memasang bom di bawah pengawasan mereka, bisa dibayangkan Denny dan kaki tangannya tidak mudah dihadapi.

Dewi sudah lama mendengar, di belakang Denny adalah sebuah Organisasi Dark Night, kerajaan kegelapan yang dipimpin oleh dewa kegelapan yang legendaris, Parker, hingga saat ini belum ada yang bisa mengusiknya.

Bahkan negara Nusantara pun tidak sanggup.

Karena itu, Dewi tidak berani meremehkannya.

Denny membawa Dewi mengurus prosedur dengan lancar, setelah melewati pengecekan keamanan, mereka menuju ke pintu keberangkatan…

Dewi sangat menurutinya di sepanjang jalan, tidak melawan, melihat sudah akan naik pesawat, dia membuat alasan untuk pergi ke toilet, ingin mencari seseorang dan meminjam ponsel untuk menelepon Bibi Lauren.

Dia ingin memastikan, apa panti asuhan sudah berhasil lepas dari bahaya atau belum.

Tapi Denny tidak membiarkannya pergi, ia menekan bahunya, serta berkata, “Kita akan naik pesawat, di pesawat juga ada toilet.”

“Aku ingin buang air sekarang.”

Dewi berkata dengan keras, “Apa aku harus buang air di celana?”

Orang di sekitar mendengar suaranya, semuanya menoleh dan melihat ke arah mereka.

“Kamu jangan cari gara-gara ya.”

Denny mulai emosi dan tidak sabar.

segera

“Hanya sebentar, tidak akan lama.”

Dewi melihat sekilas ke arah pintu keberangkatan, para staf bandara sudah mulai membuka pintu, penumpang kelas ekonomi sudah mulai berbaris ….

“Jangan banyak omong!”

Denny menarik Dewi mengecek tiket pesawat.

Mereka adalah penumpang kelas bisnis, tidak perlu mengantri.

Orang di sekeliling menatap mereka, staf bandara pun merasa sedikit anch, tapi karena mereka memiliki tanda pengenal, jadi mereka tidak banyak bertanya.

Keduanya telah melewati pengecekan tiket, berjalan menuju lorong pesawat, pada saat ini, dari belakang terdengar suara yang familier, “Nona Dewi!”

Dewi menoleh ke belakang, Sonny buru-buru mengejarnya dengan dua orang pengawal

“Sonny!”

Dewi sangat terkejut, seperti telah melihat dewa penyelamat.

Denny segera menyeret Dewi naik ke pesawat, Dewi berjuang mati-matian, Sonny dan yang lainnya segera bergegas untuk menghentikannya.

Denny tiba-tiba mengeluarkan pistol saku dari mansetnya dan mengarahkannya ke Sonny.

Dewi buru-buru mendorongnya, dan pelurunya pun meleset.

Tetapi suara tembakan mengejutkan pengunjung lainnya, semua orang ketakutan dan lari dengan tergesa-gesa, bahkan ada yang menelepon polisi.

Sonny membawa beberapa orang untuk menyerang dan melawan Denny.

Dewi mengambil kesempatan untuk melarikan diri, tapi Denny sangat terampil dan dia memiliki senjata lain yang disembunyikan ditubuhnya, jadi dia dengan cepat dapat mengalahkan Sonny dan yang lainnya, serta bergegas menangkap Dewi….

Dua polisi bandara bergegas kemari dan berteriak keras, “Berhenti, jangan bergerak!”

Sayangnya mereka tidak memiliki pistol, hanya ada tongkat listrik.

Denny tidak bergeming sama sekali, Denny menendang keduanya, dengan segera meraih bahu Dewi, dan menyeretnya kembali dengan kasar.

Pada dasarnya, ada luka di bahu Dewi, ditambah dengan cengkeramannya yang kuat, membuat Dewi berteriak kesakitan.

2/3

Sonny dan yang lainnya bergegas menyelamatkannya, Denny langsung mengarahkan pistol ke kepala Dewi, dan berteriak dengan marah, “Kalau kalian mendekat, aku akan langsung menembaknya!”

Seketika, semua orang tidak berani mendekat….

“Tenanglah, apa yang kamu inginkan, katakanlah, kami akan memenuhinya, jangan menyakiti Nona Dewi!”

Sonny berkata dengan cemas.

“Semuanya mundur!”

Denny tidak ingin banyak omong dengan mereka, jadi dia langsung membawa Dewi naik ke

pesawat.

Sonny dan yang lainnya mengikuti dengan hati-hati, yang lainnya tidak berani mendekat.

Staf bandara pun terkejut dan ketakutan, ada orang yang diam-diam lapor polisi, tetapi polisi tidak bisa datang secepat itu…..

Bab 1997 Elang Silver

Denny menyeret Dewi naik ke pesawat, seluruh orang yang ada di dalam pesawat ketakutan, para penumpang berteriak, dan pramugari pun ketakutan hingga pucat.

“Lepas landas dengan normal, cepat!!” Denny berteriak marah.

“Tuan, Kalau Anda begini, kami tidak berani lepas landas.” Polisi udara itu berkata dengan gemetar, “Polisi akan segera datang, Anda lebih baik….”

Polisi udara belum selesai berbicara, dia sudah ketakutan dengan tatapan dingin Denny.

“Kalau kamu punya dendam pribadi, lebih baik turun dan selesaikan dulu.” Kata seorang penumpang dengan hati-hati, “Jangan melibatkan kami

“Benar!”

“Diam!” Denny langsung menembak kaki petugas polisi udara itu, “Lepas landas segera, atau aku bunuh kamu.”

“Aaa….” Polisi udara jatuh ke lantai, dan berteriak dengan keras.

Orang lain juga berteriak ketakutan.

Dalam sekejap, di dalam kabin

pun

kacau.

Ketua Pramugari segera bergegas memberitahu kapten, kapten tidak punya pilihan lain, ia pun bersiap untuk lepas landas.

“Kamu sembarangan membunuh orang yang tidak bersalah, apa kamu tidak merasa bersalah pada Tania?”

Dewi melihat polisi udara yang terluka, kemudian melihat penumpang di sekeliling yang ketakutan, diantaranya ada beberapa anak-anak, meringkuk dalam pelukan ibunya, gemetar ketakutan, menangis tanpa berani mengeluarkan suara.

“Diam!” Denny menekannya duduk di kursi, “Aku beri tahu, lebih baik kamu bersikap baik, kalau tidak, anak-anak yang ada di panti asuhan itu akan dikubur bersamamu.”

Dewi menyipitkan mata dan menatapnya dengan dingin.

Dia mengepal tinju di tangannya, tapi dia menahan diri untuk tidak emosi.

Denny berhasil melewati pemeriksaan keamanan dengan membawa pistol, berarti dia dapat memerintahkan kaki tangannya untuk meledakkan panti asuhan di Swedoland dari jarak jauh…

Dewi sekarang tidak memiliki cara untuk menghubungi Bibi Lauren, jadi dia tidak berani

bertindak gegabah.

Seorang pramugara menatap Denny dengan hati-hati, dan bertukar pandang dengan beberapa rekannya, mencoba memanfaatkan kesempatan untuk membujuknya.

Mereka merasa, Pistol mini yang ada ditangan Denny, harusnya tidak memiliki banyak peluru di dalamnya, jadi tingkat bahayanya tidak besar.

“Jangan mengira aku hanya punya satu pistol, dan kalian tidak merasa terancam.”

Denny sepertinya mengerti segalanya, dia mengeluarkan tas dari tanganya, di dalamnya terdapat berbagai bahan, sebentar saja dia bisa merakitnya menjadi bom, dia pun menyeringai

“Bom ini. cukup untuk meledakkan satu pesawat, kalau terjadi sesuatu padaku, kalian semua akan ikut mati bersamaku!”

Wajah pramugara itu seketika berubah menjadi pucat, tidak berani sembarang bergerak lagi.

Penumpang lain bahkan tidak berani bernapas.

Pesawat akhirnya lepas landas, sekarang mulai siap terbang.

Dewi mengerutkan kening, hatinya cemas sejenak, apa dia benar-benar akan ke Richie bersama. Denny???

Tentu saja, sampai di sana baru melarikan diri juga bisa, paling tidak dalam waktu yang panjang ini, Bibi Lauren seharusnya sudah menemukan beberapa bom itu. Anak-anak di panti asuhan juga seharusnya sudah terlepas dari bahaya….

Tapi, jika seperti ini, maka akan melewatkan waktu operasi.

Gurunya tidak mudah turun bukit, dia belum tentu akan menunggunya di Kota Bunaken.

Dewi yang merasakan pesawat berjalan semakin kencang, hatinya menjadi sangat cemas.

Denny menyipitkan matanya, dia merasa, selama pesawat tiba dengan lancar di Richie, Dewi tidak akan bisa lepas dari genggaman tangannya….

Tapi, saat pesawat hendak lepas landas, tiba-tiba kembali berhenti.

Semua orang di pesawat menjadi sangat bingung, melihat keluar jendela, tidak tahu apakah polisi. datang, atau kapten ingin memperlakukan mereka, seolah-olah mereka sudah mati.

Semua orang sangat khawatir….

“Apa yang terjadi?” Denny berteriak marah, “Kenapa tidak terbang? Kalian tidak ingin hidup lagi???”

Mengatakan hal itu, dia mengangkat senjatanya dan bergegas masuk ke ruang kemudi ….

“Anda tidak boleh masuk….”

Seorang pramugari ingin menghentikannya, tapi dia di dorong jatuh ke lantai.

….

Denny bergegas masuk ke dalam ruang kemudi dan hendak mengancam kapten, tetapi melihat pemandangan di depan matanya, dia tertegun….

Di depan, sebuah pesawat pribadi berwarna silver berhenti di depan pesawat mereka, seperti elang yang gagah!

“Pesawat ini baru saja mendarat dan berhenti di depan kita, kita tidak bisa lepas landas!”

Jelas sang kapten.

Denny menyipitkan matanya, menatapnya dengan seksama, lalu terkejut, “Ini adalah pesawat pribadi milik keluarga Moore!!!”

Bab 1998 Wanitaku

“Apa?” Kapten tidak mengerti.

“Hindari dia, lepas landas lewat jalur sebelahnya, cepat!”

Denny buru-buru mendesak.

“Hah??” Sang kapten tercengang. “Mana mungkin bisa?”

“Kenapa tidak bisa? Cepat!”

Denny langsung mengarahkan pistolnya ke kepala kapten.

Kapten tidak punya pilihan lain selain mengikuti permintaannya, tetapi ketika dia bersiap untuk pindah jalur, pesawat pribadi silver itu langsung meluncur, mendekatkan kepala pesawatnya di kepala pesawat mereka….

Kali ini, pesawat penumpang tidak bisa bergerak sama sekali.

Kapten tercengang.

Denny tahu bahwa dia tidak bisa menang melawan Lorenzo Moore, jadi dia segera berbalik badan dan keluar untuk menyandera Dewi.

Pada saat ini, Ketua pramugara sudah membuka pintu pesawat, memanfaatkan situasi ketika Denny berada di ruang kemudi dan sedang tidak memperhatikan, berusaha mengeluarkan Dewi, dengan begini Denny tidak akan tinggal di dalam pesawat.

Tapi begitu pintu kabin dibuka, penumpang lain bergegas keluar seperti orang gila, dan dalam sekejap memblokir pintu.

Dewi bahkan tidak bisa melarikan diri sama sekali, dan langsung ditangkap oleh Denny.

“Semuanya minggir!!!”

Denny menembak ke arah kerumunan orang.

Seorang bibi tertembak dan jatuh ke lantai, darahnya berceceran dimana-mana.

Yang lainnya ketakutan, berteriak dan meringkuk di satu sisi, tidak berani bergerak.

“Jangan sembarangan menembak!”

Dewi buru-buru menghentikannya.

Tetapi Denny tidak memedulikannya sama sekali, menyeretnya turun dari pesawat, dan kabur

dengan tergesa-gesa.

Baru berlari beberapa langkah, dia dihentikan oleh pengawal keluarga Moore, belasan pengawal berpakaian hitam, berdiri tegap di hadapannya seperti sebuah dinding.

Denny menyeret Dewi berlari ke arah lain, tetapi baru mulaj melangkah, ia sudah terhenti lagi…

Di depannya, sederetan pria berpakaian hitam perlahan menyingkir memberi jalan, Lorenzo yang berpakaian putih datang dengan gagah, tanpa senjata apapun di tangannya, melainkan seekor ular hijau kecil melilit di pergelangan tangannya, memancarkan kilau menggoda seperti gelang zamrud.

Ular kecil itu setengah berdiri, bagaikan sedang menatap beruang hitam dengan mata ganas, penuh niat membunuh!

“Rongrong!”

Dewi tanpa sadar memanggilnya.

Lorenzo memutar matanya, ia melakukan perjalanan ribuan mil untuk menyelamatkannya, yang pertama ia liat malah ular hijau kecilnya, bukan dirinya?????

Rongrong sepertinya mendengar panggilannya, tubuh kecilnya yang melilit di pergelangan tangan Lorenzo sangat bersemangat.

Dewi mengalihkan pandangannya, dan menatap Lorenzo, ia pun melongo….

Mungkin karena tinggi badannya, matahari pagi menyinari wajahnya, dia setampan dewa, dan sepasang matanya itu, menatap tajam dan gagah, seolah-olah langit dan bumi berada dibawah kendalinya!!!

“Lo, Ren. Zo??”

Denny yang selalu tenang, kali ini, terpancar sedikit kepanikan dimatanya.

Atasannya berulang kali mengatakan kepadanya untuk tidak memprovokasi Lorenzo, tetapi dia tidak menurutinya, dia malah mengatakan kepada atasannya bahwa Lorenzo mungkin hanya bermain-main dengan Dewi, orang yang bangga terhadap dirinya sendiri, mana mungkin bisa memiliki perasaan tulus pada orang lain.

Hingga sekarang dia baru menyadari, bahwa dia sudah menyinggung orang yang tidak seharusnya ia singgung.

“Ini adalah dendam pribadiku padanya, bukan urusanmu!”

Denny masih berpura-pura tenang.

“Dendam pribadi?” Lorenzo menyipitkan matanya dengan tatapan mengancam, “Kamu tidak

tahu bahwa dia adalah wanitaku???”

Denny menatap Dewi, kemudian menatap Lorenzo, dengan sedikit ragu….

“Aku lihat, sepertinya kamu sudah bosan hidup.”

Lorenzo mengerutkan kening, aura pembunuhnya tiba-tiba muncul.

“Paling-paling kita akan mati bersama!!!”

Bahasa Nusantara Denny terbatas, jadi dia mulai berbahasa Negara Richie, mengambil bom rakitannya, di matanya terpancar tekad untuk mati.

Dia tidak takut mati, hanya takut mati sendirian, sedangkan Dewi masih hidup.

Denny menyeringai, “Aku akan membawamu bertemu dengan Tania sekarang!”

“Tania disurga, kamu hanya bisa ke neraka!” Dewi mengerutkan kening dengan dingin.

Walaupun aku pergi ke neraka, aku pasti akan membawamu juga ke neraka.” Denny berkata. dengan dingin. “Juga anak-anak dipanti asuhan itu, akan di makamkan bersamamu.”

Mendengar ucapan ini, wajah Dewi berubah drastis, dia bertanya dengan cemas, “Bom dipanti asuhan ada dimana….”

Post navigation

Previous

Bab 1999 Operasi

Sebelum Dewi selesai bicara, Denny menarik penutup bomnya…

Pada saat bersamaan, ular hijau yang ada ditangan Lorenzo tiba-tiba terbang ke sana, menggigit tangan Denny dengan keras.

Rasa sakit yang menusuk datang, Denny berteriak dan melepaskannya, bom terjatuh, Lorenzo langsung menendang bom itu..

“Duar”, bom meledak di udara, dan tidak melukai siapapun.

Tetapi Dewi dikejutkan oleh ledakan bom itu, rasa sakit yang hebat datang dari kepalanya, dan darah perlahan mengalir keluar dari telinganya

Denny ingin menangkapnya lagi, tetapi Lorenzo mencengkeram lehernya dengan kuat, dia berteriak dengan marah, “Kamu berani menyentuh wanitaku? Cari mati!!!”

“Aaa

Denny mengerang kesakitan, matanya menjadi putih.

Melihat Lorenzo yang akan mencekiknya hingga hampir mati, dan teringat bom di panti asuhan yang kemungkinan masih belum ditemukan, Dewi segera menghentikannya, “Hentikan!”

Lorenzo melonggarkan tangannya, Denny jatuh ke tanah, ulah hijau kecil kembali melilit lehernya dan menggigitnya dengan keras.

Denny berteriak dengan keras, menarik ular itu dengan sekuat tenaga, kemudian melemparnya.

“Bom yang ada dipanti asuhan sebenarnya ada dimana? Cepat katakan.”

Dewi melangkah maju untuk bertanya.

Denny mengambil kesempatan untuk mengeluarkan pistol mini dan mengarahkannya ke kepalanya….

“Awas!”

Lorenzo buru-buru menarik Dewi, peluru mengenai lengannya.

Darah berceceran ….

Jasper dan yang lainnya hendak melangkah maju untuk menahan Denny, tetapi Denny segera menembaki mereka, Jasper dan yang lainnya segera mengelak.

Denny memanfaatkan kesempatan ini untuk melarikan diri dengan panik….

Jasper segera membawa orang-orang untuk mengejarnya, polisi pun datang dan bergegas mengejar Denny.

Lorenzo membawa Dewi segera masuk ke mobil dan pergi.

Di dalam mobil, sakit kepala Dewi kembali kambuh, tapi dia masih memegang lengan baju Lorenzo dan dengan cemas berkata, “Kita harus menemukan Denny, dan menemukan lokasi bom yang ada di panti asuhan….”

Lorenzo segera menyuruh Jasper mengurusnya.

Pada saat ini, dia baru sadar, bahwa Dewi juga memiliki kelemahan….

Dalam perjalanan. Jeff menelepon untuk melaporkan bahwa Tabib Hansen sudah dibawa ke rumah sakit kasih di kota Bunaken, semuanya sudah diatur dengan baik, dan operasi dapat dilakukan setelah istirahat sejenak.

Lorenzo segera memerintahkan untuk menuju ke rumah sakit kasih.

Di tengah perjalanan, ketika hampir tiba di rumali sakit. Jasper berhasil menyelidiki masalah di panti asuhan dan segera melapor.

“Ternyata Nona Dewi telah membangun lebih dari seratus panti asuhan, dan berpartisipasi dalam Saint Foundation, dua hari belakangan ini, 3 panti asuhannya di Swedoland secara berturut-turut mengalami ledakan, yang kemungkinan besar merupakan perbuatan Denny….”

Mendengar semua ini, Lorenzo sangat terkejut, dia selama ini berpikir bahwa Dewi hanyalah Tabib biasa, dan keserakahannya terhadap uang adalah karena sifat wanita, sekarang dia baru tahu, ternyata obsesinya terhadap uang semuanya demi panti asuhan….

Dan kelemahannya adalah anak-anak yang ada dipanti asuhan.

“Sedangkan masalah dendam antara Denny dan Nona Dewi, sementara masih belum diketahui, tapi hal yang pasti adalah, setengah jam yang lalu, polisi Swedoland sudah berhasil menemukan bom yang tersembunyi di panti asuhan berkat bantuan dua orang staf….”

Jasper berkata dengan sedikit emosi, “Jadi, Nona Dewi di ancam karena anak-anak itu.”

“Tidak apa-apa.” Lorenzo yang melihat Dewi aman dipelukannya, tatapannya menjadi lebih lembut, “Hubungi orang di Swedoland, suruh mereka menjaga anak-anak di panti asuhan, juga pilih beberapa orang yang handal, minta untuk melindungi secara diam-diam.”

“Baik.” Jasper segera mengaturnya, tetapi tiba-tiba dia teringat sesuatu dan segera berkata pada Lorenzo, “Oh iya, Tuan, apa Anda ingat aku pernah melaporkan bahwa Nona Dewi sepertinya memiliki hubungan dengan Tabib Hansen, Nona sepertinya sangat tidak ingin Tabib Hansen sampai tahu identitasnya….”

“Baiklah. Lorenzo memerintahkan Sonny, “Panggil Jeff kemari.”

i, Dokter Heidy yang tiba lebih dulu,

juga mengobati lukanya.

ing, lalu Jeff datang tergesa-gesa, “Tuan!”

Bab 2000 Percaya

“Sedang istirahat.” Jeff berkata dengan suara rendah, “Beliau berkata, dia hanya melakukan operasi tahap akhir, yang lainnya, biarkan orang lain yang mengurusnya, karena itu aku menghubungi Dokter Heidy dan menyuruhnya kemari dan menunggu, dia adalah dokter wanita, lebih leluasa melakukan pemeriksaan dan pengobatan.”

“Bagus.” Lorenzo menganggukkan kepala, “Wiwi tidak ingin orang lain melihat wajahnya, kamu sampaikan itu pada Heidy.”

“Hah?” Jeff tercengang sejenak, kemudian segera mengganggukkan kepala, “Baik.”

Jeff menyampaikan dengan jelas situasinya kepada Heidy, walaupun Heidy tidak begitu paham, tapi dia tetap menjalankannya, karena dia sudah mendapat bayaran yang sangat tinggi untuk pengobatan ini.

Operasi akan segera dimulai. Heidy minta Jeff dan Lorenzo meninggalkan bangsal, tapi Lorenzo malah tidak tenang, dia meminta orang memasang tirai, dia duduk di belakang tirai dan

menunggu.

Yang lain semuanya mundur, Jeff dan dua orang pengawal wanita berdiri di belakang Lorenzo, siap di panggil kapan saja.

Heidy sudah membuat semua persiapan, seorang pria tua dengan janggut abu-abu dituntun perlahan oleh seorang anak laki-laki berjalan masuk…..

Melalui tirai bergaris, Lorenzo melihat samar pria tua itu, walaupun usianya sudah sangat tua, tapi dia sangat energik, mengenakan setelan batik, dan terlihat seperti bangsawan keraton.

Penampilannya ini mirip dengan dokter tradisional palsu yang pernah dia pekerjakan di San Fransisco, Lorenzo menjadi sedikit khawatir, orang ini apa dia penipu, apa dia benar-benar bisa melakukan operasi?

Pada saat yang sama, Heidy juga memiliki kekhawatiran seperti itu.

Dia melihat Tabib Hansen, dia tertegun sejenak, kemudian bertanya dengan bahasa inggris, “Tuan, operasi ini tingkat kesulitannya sangat tinggi, bahkan aku saja tidak berani menjamin, apa Anda yakin Anda bisa?”

Dokter wanita yang satu lagi menerjemahkan perkataannya, dan pada saat yang sama, ia juga menatap Tabib Hansen dengan keraguan.

Tabib Hansen bahkan tidak marah dan hanya berkata dengan ringan, “Aku juga tidak bisa menjamin 100%, awalnya aku sudah menolak, kalian yang memaksaku kemari.”

“Ugh….” Dokter wanita itu terkejut ketika mendengar kalimat ini.

Heidy bertanya tentang situasinya, dokter wanita menerjemahkannya untuknya, ia pun tampak tidak percaya, “Astaga, apa Anda sedang bercanda denganku? Ini masalah nyawa, ditambah lagi, Nona Dewi merupakan tunangan Tuan L.“

Ketika dokter wanita ingin menerjemahkan, Tabib Hansen langsung bertanya, “Kamu memanggilnya apa? Nona Dewi?”

Walaupun Tabib Hansen tidak terlalu bisa bahasa Inggris, tapi karena dia pernah mengobati beberapa orang penting diluar negeri, dia mengerti beberapa kata sederhana, dia dengan jelas mendengar, bahwa dia memanggil pasien ini dengan sebutan Nona Dewi.

Dokter wanita menerjemahkan apa yang dikatakan oleh Tabib Hansen pada Heidy.

“Oh, ini….” Ketika Dokter Heidy ingin menjelaskan, tiba-tiba ia teringat pesan Jeff, tidak boleh membiarkan orang lain tahu nama dan wajah Dewi, jadi dia mengubah perkataannya, “Sekarang waktunya mendesak, ayo lakukan operasi lebih dulu.”

Setelah jeda, Heidy bertanya dengan cemas. “Tuan, apa Anda benar-benar mampu, kalau operasi. ini sampai gagal, konsekuensinya akan sangat berat.”

“Tuan, Dokter Heidy bilang

“Mari kita coba, aku juga sudah beberapa tahun tidak melakukan operasi.”

Perkataan dokter itu belum selesai diterjemahkan, Tabib Hansen sudah memakai kacamata bacanya, menggulung lengan bajunya, mengenakan sarung tangan, mengambil pisau bedah, dan memulai operasi.

Heidy yang melihat Tabib Hansen melakukan operasi dengan mengenakan kacamata bacanya, menjadi semakin panik dan tidak berhenti berkata, “OMG, OMG

Dokter wanita itu buru-buru pergi ke belakang tirai dan menanyakan apa pendapat Lorenzo.

Pada saat ini, Lorenzo mengerutkan kening, ekspresinya gelisah, dia juga khawatir, apa tabib tua ini benar-benar bisa melakukannya?

“Nona Dewi sebelumnya pernah berkata, penyakitnya, hanya Tabib Legendaris ini yang bisa mengobatinya, dan meminta kita agar tidak khawatir!”

Jeff membuka pesan singkat di ponselnya dan memperlihatkannya pada Lorenzo.

Memang benar bahwa Dewi yang mengirimkannya pada Jeff, bahkan itu dikirimkan kemarin malam waktu Negara Nusantara…..

Yang berarti, sebelum dia dipaksa oleh Denny untuk meninggalkan vila, dia sudah mengirimkan pesan ini untuk berjaga-jaga.

Memikirkan hal ini, Lorenzo berkata dengan nada rendah, “Aku percaya pada Tabib Hansen,

biarkan dia melakukan operasi dengan tenang!”

“Baik,”

Bab 2001 Begini Lebih Baik

Dengan adanya ucapan Lorenzo ini, dokter-dokter baru bisa merasa tenang.

Setelah Heidy mendengar terjemahannya, barulah dia menyerahkan posisi kepala bedah pada Tabib Hansen.

Tabib Hansen yang melihat gadis berambut pendek yang terbaring di ranjang rumah sakit dan tidak sadarkan diri itu, matanya terdapat tatapan yang sedikit rumit…..

Tetapi dia tidak punya banyak waktu, ia segera memeriksa lukanya, melihat layar x-ray yang diperbesar dengan alat, kemudian memulai operasi.

Heidy dan beberapa dokter lain juga ikut membantu di samping.

Tabib Hansen tidak berbicara selama operasi berlangsung, dia hanya menundukkan kepala dan melakukan operasi dengan diam.

Setelah dua jam penuh, dia akhirnya berhasil membuang pecahan logam yang ada didalamnya, kemudian melakukan pengecekan akhir, lalu membersihkannya dan menjahitnya.

la melakukan semuanya sekaligus!

Setelah semua operasi selesai, Heidy tidak bisa berhenti mengaguminya, “Kemampuan medis. Tabib memang luar biasa sekali, bahkan bisa tahu lokasi pecahan logam ada dimana tanpa melihat, mengambil pecahan logam dengan teknik yang sangat cepat, bahkan dalam kondisi pecahan itu menekan saraf otak sekalipun, dia tetap bisa menyelesaikannya dengan sempurna, tanpa ada sedikit pun yang melenceng….”

“Benar, luar biasa sekali!”

Dokter lainnya juga kagum, dan dokter wanita itu bersiap ingin menerjemahkannya pada Tabib

Hansen.

Tabib Hansen melepaskan maskernya, dengan ringan berkata, “Tidak usah diterjemahkan lagi, tidak perlu menyampaikan pujian juga, rawat saja pasien ini dengan baik.”

Ketika berbicara, dia menatap dalam Dewi yang berbaring di ranjang rumah sakit, tatapannya terlihat sangat rumit, bahkan ketika murid kecilnya memanggilnya, dia bahkan tidak bereaksi ….

“Guru, guru, guru!”

Dixon memanggilnya beberapa kali, dia baru berbalik, “Hah?”

“Kita sudah harus pergi.” Dixon mengingatkannya dengan suara kecil.

“Ya.” Tabib Hansen melepaskan maskernya tanpa sadar, tetapi matanya tertuju ke tirai dan

bertanya, “Yang berada di belakang tirai, bisakah kamu keluar sebentar, kita bicara?”

Pada saat ini, Lorenzo hendak berdiri dan mengenakan pakaian steril dan hendak menemui Dewi, mendengar ucapan ini, dia berhenti, memberi sebuah isyarat agar Jeff dan yang lainnya melindungi Dewi.

Kemudian berkata pada Tabib Hansen, “Silakan Tabib Hansen!”

Jeff sebelumnya sudah melaporkan terlebih dahulu, Dewi telah berulang kali mengatakan agar memperlakukan Tabib Dewa ini dengan hormat seperti dia memperlakukan ayah Lorenzo, saat itu Lorenzo malah mengerutkan kening dan berkata, “Omong kosong”, tetapi sekarang dia memperlakukan Tabib Hansen dengan hormat.

Dixon menuntun Tabib Hansen keluar, Lorenzo juga berjalan keluar dari bangsal.

Keduanya bertemu untuk pertama kalinya, anehnya malah terdapat rasa keakraban yang tak bisa dijelaskan, seolah-olah mereka sudah pernah bertemu satu sama lainnya sebelumnya…..

Tabib Hansen memandang Lorenzo dari atas ke bawah, Lorenzo juga memandangi beliau. setelah beberapa lama, cahaya mata keduanya berubah pada saat bersamaan….

“Kamu?”

“Anda!”

Bayangan dari tujuh tahun yang lalu muncul dibenak mereka, dan ada kejutan yang tak bisa dijelaskan di mata mereka berdua.

Saat itu Dewi menunjuk ke sosok tua itu dan berkata bahwa dia adalah satu-satunya kerabatnya di

dunia ini.

Dan Tabib Hansen juga tahu bahwa Dewi pernah menyelamatkan seseorang, dan bahkan menjalin hubungan dengan orang tersebut.

Tetapi pada waktu itu, Dewi masih di bawah umur, dan Tabib Hansen melarangnya secara paksa, tidak boleh terlalu banyak berhubungan dengan dunia luar, bahkan menyuruhnya untuk merahasiakan identitas diri sendiri, hingga nama aslinya pun tidak boleh diberitahukan kepada orang lain.

Oleh karena itu, Lorenzo tidak pernah tahu identitas Dewi….

Tetapi, Tabib Hansen justru ingat dengan perawakannya.

Hanya saja setelah tujuh tahun berlalu, Lorenzo sedikit berubah dibandingkan dengan tujuh tahun lalu, walaupun Tabib Hansen dapat mengenalinya, tetapi dia juga sedikit tidak memercayainya, jadi dia bertanya.

Tetapi Lorenzo malah sangat yakin, dia pasti adalah kerabat Dewi itu!

“Pantas saja, dia begitu yakin Anda dapat menyembuhkannya, ternyata….”

“Bagus, bagus, sangat bagus!”

Tabib Hansen memotong omongan Lorenzo, menghela napas dengan penuh semangat, lalu menundukkan kepalanya dan pergi.

Seperti dia tidak ingin banyak bicara, dan tidak ingin banyak bertanya, ia merasa seperti ini lebih baik….

 


Tiga Harta Ayah Misterius Ternyata Seorang Bos Besar

Tiga Harta Ayah Misterius Ternyata Seorang Bos Besar

Score 9.5
Status: Ongoing Type: Author: Released: 2023 Native Language: Indonesian
The “Tiga Harta Ayah Misterius Ternyata Seorang Bos Besar”  Today, author Dave & marah (author of Unprecedented Times) reviews a captivating romantic period drama. Tiga Harta Ayah Misterius Ternyata Seorang Bos Besar is one of the most famous romance authors in the world. She has written Urban novel, including paranormal and romantic suspense series like “Dave & marah” Identity of Romance”.” He has won numerous awards, including the Romance Writers of America Lifetime Achievement Award.

Book Synopsis:

Di hari pertunangannya, dia malah melakukan hubungan satu malam dengan pria yang tidak dikenalnya. Disaat bersamaan, Perusahaan ayahnya dinyatakan bangkrut, sang ayah yang tidak kuat menghadapi kenyataan ini, memilih bunuh diri dengan lompat dari gedung. Dalam semalam, seorang gadis kaya berubah menjadi pelacur yang dihina semua orang. Empat tahun kemudian, gadis ini kembali dengan membawa tiga anak lucunya, dan tidak sengaja bertemu kembali dengan pria misterius di malam itu.

Bab 1 Kembar Tiga

Pengap, ujung hidungnya tidak bisa merasakan udara. Tracy tampak seperti orang yang tersesat di tengah-tengah padang pasir dan sedang berusaha mencari oasis. Bibir dingin laki-laki itu menekannya, membawa kesejukan baginya. Di bawah cahaya remang-remang, Tracy tidak bisa melihat jelas perawakan pria itu. Ia hanya merasa pelukan pria itu begitu erat hingga sulit baginya melepaskan diri. Hingga hari terang, pria itu baru pergi meninggalkannya. Tracy dengan kebingungan membuka mata, pandangannya buram. Ia hanya bisa melihat punggung tegap dan tinggi, serta tato kepala serigala mengerikan di bagian pinggang belakangnya... Tato ini seperti hidup, serigala ganas membuka mulutnya lebar-lebar seolah ingin menerkam orang! Yang lebih membuatnya takut adalah.....
Tiga Harta Ayah Misterius Ternyata Seorang Bos Besar

Review by Tiga Harta: Ayah Misterius Ternyata Seorang Bos Besar:

This story gets a 4.5 out of 5.
This book was fantastic! I really enjoy fantasy stories… greek mythology, Billionaire, Romance vampires, I love it all… and this book had it all and then some.  Anything fantasy or mythological, was in this book.  I really enjoyed how Cornell was able to bring them all together in a way that was seamless and natural (or at least as natural as made-up things can be).  What I mean is that when I learned these mythological characters were all in it I thought it was a recipe for disaster, but actually it works brilliantly. “Tiga Harta Ayah Misterius Ternyata Seorang Bos Besar” The storyline was incredibly interesting and well thought out.  I imagine this story required an awful lot of planning and research.  As I was reading it I thought to myself that this must have taken some time to put together.  When a lot of planning and research is involved there are usually plot-holes (contradictions/missing information), but not in this case, I saw no errors in the complex plot. “Tiga Harta Ayah Misterius Ternyata Seorang Bos Besar” The characters were fantastic.  They were relatable and the overall story itself was an incredibly interesting read.  The ONLY reason I am not giving this story a full 5 out of 5 is because of the ‘ease of reading’ factor.  I am an avid reader, I love reading, but even I found this story a little difficult to keep up with. It required my full attention and if I left it more than a day between reading chapters, I was lost. I had to go back in the book and re-read parts just to ‘get my bearings’.  This coupled with the volume of characters made the story a little difficult to read, BUT it was well worth reading. If you are a Billionaire, lover, you have to read this book! I guarantee, you will love it.
Perfect for adults (16+ due to the content) who enjoy:
  • Billionaire
  • Mythology: Greek mythology and mythological characters (Billionaire, Love, Romance, vampires)
  • Learning from reading
  • Getting lost in a complex storyline.

(Popular Information)

Tiga Harta Ayah Misterius Ternyata Seorang Bos Besar

Name of the Novel: 1 Tiga Harta Ayah Misterius Ternyata Seorang Bos Besar
website : 2  noveltk.com
Genres: : 3 Urban, Hot Romance, Romantic, Marriage, and Billionaire, Hot Romance
Chapters: 4 From 1 to Latest
Status So Far: 5 Ongoing
Updare Time : 6 morning
Rating: 7 Overall: out of 5
Language: 8 Bahasa indonesia  
Tiga Harta Ayah Misterius Ternyata Seorang Bos Besar Bab 1

My ratings:

  • Easy to read: 3 out of 5
  • Characters: 5 out of 5
  • Story idea: 5 out of 5
  • Length: 5 out of 5
  • Overall: 5 out of 5

About the Author:

“Tiga Harta Ayah Misterius Ternyata Seorang Bos Besar” Saat pacarnya mengalami pelecehan , Dave melindunginya dan berakhir di penjara, dan setelah tiga tahun mendekam di penjara, dia akhirnya bebas, namun pacarnya malah menikahi pelaku pelecehan itu….. Dave sangat marah dan sedih, tapi untungnya dia mendalami seni memfokuskan pikiran saat didalam penjara, Dave mulai melangkah masuk ke jalan menuju keabadian, ditemani oleh wanita cantik, yang membuat mantan pacarnya penuh penyesalan.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Options

not work with dark mode
Reset