Tidak ada yang tidak mungkin Jangan Pergi! Bab 10

Tidak ada yang tidak mungkin Jangan Pergi! Bab 10

Bab 10 Fabian Kembali

Fabian hampir seperti apa yang diingatnya, meskipun sudut wajah Fabian lebih tajam, dan telah kehilangan kemudaan yang dia miliki selama masa-masa di bangku kuliah. Cara dia membawa dirinya juga jauh lebih dewasa dan mantap. Namun, yang paling berubah adalah ekspresi wajahnya. Tak ada lagi kehangatan yang dia ingat terlihat di wajahnya setiap hari. Yang tersisa hanyalah tatapan kasar dan keras. Saat ini, Fabian sedang mendengarkan laporan bawahannya. Sesekali, dia mengangguk dan mengucapkan beberapa perintah. Tak sekali pun tatapannya tertuju pada Vivin, saat kelompok itu melewatinya dan memasuki kantor Pemimpin Redaksi. Wajah Vivin pucat pasi. Fabian Norton… Kenapa dia kembali ke sini? Dua tahun lalu, dia tiba-tiba pergi, bahkan tanpa pamit. Kenapa dia kembali sekarang? Sudah dua tahun berlalu. Vivin hampir sepenuhnya menyerah pada hubungan mereka yang rusak sekarang. Namun, kemunculan Fabian yang tiba-tiba dalam hidupnya masih memiliki gelombang emosi yang menerjangnya tanpa henti, mengancam untuk melahapnya sepenuhnya. Vivin bahkan tidak tahu apakah Fabian mengenalinya seperti bagaimana dia melihat Fabian pada pandangan pertama. Mendengar ini, seringai mencela diri sendiri melengkung di bibirnya. Memangnya penting jika dia mengenaliku atau tidak? Dia dan aku… Kami ditakdirkan untuk berpisah. Tak mungkin bisa kembali seperti dahulu… Sisa hari itu berlalu dalam kabut kegelisahan dan kekhawatiran. Dia khawatir Fabian akan mengenalinya. Kenyataan akan segera membuktikan bahwa kekhawatirannya tak mendasar. Sebagai orang baru di posisinya, Fabian disibukkan dengan pertemuan dengan berbagai departemen. Akan ada perubahan yang terjadi di sekitar perusahaan majalah. Dalam salah satu pertemuan, dia mendengarkan dengan saksama, ketika para editor senior melaporkan laporan mereka, memberikan komentar atau perintah di sana-sini. Dia tidak pernah memperhatikan Vivin, yang duduk di ujung meja. Sepertinya dia telah melupakanku… Tetapi kurasa itu yang diharapkan darinya. Jika aku merupakan sesuatu yang berharga baginya, dia tak akan pergi tanpa sepatah kata pun dua tahun lalu. Aku juga tak pernah mendengar kabar darinya sejak saat itu. Waktu demi waktu berlalu sangat lambat bagi Vivin. Akhirnya, sudah waktunya untuk pulang. Tidak ingin tinggal di kantor lebih lama lagi, dia buru-buru menyambar tasnya dan bersiap untuk pergi. Sayangnya, editor seniornya tiba-tiba memanggilnya. “Tunggu, Vivin. Bisakah kau membawa dokumen ini ke Tuan Normando demi aku? Berikan beliau laporan lisan juga.” Vivin menegang sebelum dia perlahan berbalik menatap editor seniornya. Suaranya sedikit memohon saat dia berkata, “Lesley, aku punya hal yang mendesak yang harus kulakukan di rumah. Tolong-” Editor seniornya, Lesley Jenson, sudah dalam suasana hati yang buruk dari pertemuan sebelumnya bahwa dia telah ditegur. Mendengar penolakan Vivin, cemberut yang mengerikan memelintir wajahnya. “Jadi, kau pikir kau bisa seenaknya hanya karena kau telah mewawancarai presiden Grup Finnor, kan?” Kaget pada kata-kata tajam yang keluar dari Lesley, Vivin tidak punya pilihan selain menjawab, “Jangan konyol, Lesley. Aku akan melakukannya dengan baik.” Dia mengambil dokumen itu dari Lesley dan berjalan menuju ruangan Fabian. Berdiri di depan pintu, dia menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri sebelum mengangkat tangannya dan mengetuk pintu. Tok, tok. Hanya satu gerakan sederhana itu tampaknya telah menghabiskan seluruh energi darinya. “Masuk.” Setelah mendengar suaranya yang familier yang memintanya masuk, Vivin mendorong pintu itu dan masuk. Meskipun ruangan Fabian tak semewah ruangan Finno, namun itu masih cukup mewah. Pria itu sedang duduk di balik mejanya, membolak-balik majalah yang memuat wawancara dengan Finno. “Tuan Normando.” Vivin berusaha keras untuk mengeluarkan suaranya dengan mantap. “Editor senior Jenson ingin saya memberikan Anda laporan sederhana tentang wawancara dengan presiden Grup Finnor.” Fabian bergumam setuju, tak mengangkat kepalanya. Karena itu, Vivin menguatkan dirinya dan memulai laporannya. Bahkan setelah dia selesai, Fabian tak mengeluarkan sepatah kata pun. Pada titik ini, dia sudah kehabisan akal. Suaranya sedikit bergetar meskipun dia berusaha keras, “Hmm… Tuan, jika tidak ada lagi yang Anda butuhkan, saya akan pergi.” Setelah mengatakan itu, dia berbalik dan berjalan menuju pintu. Tepat saat tangannya mendarat di gagang pintu, sebuah tangan besar menggenggam tangannya dengan erat. Mata Fabian menyipit, saat dia memusatkan perhatian pada cincin di jari Vivin. “Kau sudah menikah?” Tak memiliki keberanian untuk menatap matanya, Vivin memalingkan wajahnya dan mengangguk. Dia tidak melihat bagaimana gelungan emosi Fabian dalam bola mata gelapnya, saat dia menatap cincin di jari Vivin. Tiba-tiba, seringai mengejek melengkung di bibirnya. “Vivin Willardi, pada akhirnya, pria yang kau pilih hanya mampu membelikanmu cincin berlian sederhana remahan ini?” Seolah-olah sesuatu baru saja terjadi padanya, ekspresi menghina dan jijik berkelebat di wajahnya. “Lagi pula, seorang wanita yang rela menjual tubuhnya demi uang dapat dengan mudah dibeli. Tak akan sulit bagi seorang pria untuk mendapatkanmu.” Vivin terkejut mendengar kata-katanya. Wajahnya memucat secara dramatis dan dia sepucat kematian. “Ka-kau… Kau tahu tentang apa yang terjadi dua tahun lalu?” dia hampir tak bisa berkomentar, sementara bibirnya bergetar. Fabian mendengus sebagai jawaban. Untuk beberapa alasan, dada Fabian terasa sakit, melihat bahwa tanggapan pertama Vivin bukan sangkalan. Dia meremas pergelangan tangan Vivin lebih kuat, suaranya dingin, ia berkata, “Ya, aku tahu. Sebenarnya, aku sudah mengetahuinya dua tahun lalu. Kau tahu, aku benar-benar harus berterima kasih padamu, Vivin. Aku bersyukur bahwa kau telah menunjukkan kepadaku betapa kotornya seorang wanita yang aku cintai selama tiga tahun. Karenamu, aku menguatkan tekadku untuk melanjutkan studiku di Amerika.” Cercah warna terakhir yang tersisa di pipi Vivin segera memudar. Dua tahun… Dalam dua tahun terakhir, dia terus-menerus bertanya-tanya mengapa Fabian tiba-tiba meninggalkan negara itu ketika dia berada dalam kondisi terburuk. Fabian telah meninggalkannya sendirian ketika dia sangat membutuhkannya. Sekarang, dia akhirnya mengetahui kebenaran. Itu semua karena kejadian itu. Terlepas dari itu, bagaimanapun, pikiran lain segera muncul di benaknya. Dua tahun lalu, Fabian pergi ke luar negeri bahkan sebelum insiden itu terungkap. Mungkinkah dia sudah mengetahuinya bahkan sebelum itu terjadi? Tidak mungkin, itu tidak mungkin… Namun, sangat jelas bahwa ini bukanlah waktu yang tepat untuk memikirkan hal itu. Oleh karena itu, dia berjuang untuk membebaskan dirinya ketika dia mencoba menjelaskan, “Fabian, apa yang terjadi dua tahun lalu hanyalah kesalahpahaman! Yang sebenarnya terjadi adalah aku-“

Tidak ada yang tidak mungkin, Jangan Pergi!

Tidak ada yang tidak mungkin, Jangan Pergi!

Score 9.9
Status: Ongoing Type: Author: Artist: Released: 05/06/2023 Native Language: indonesia
The "Tidak ada yang tidak mungkin, Jangan Pergi!" Today, author Vivin Willardi reviews an exciting crime action fiction novel by the wonderful and talented author Tidak ada yang tidak mungkin, Jangan Pergi! . If you are a Billionaire lover, you HAVE TO read this book! I guarantee, you will love it.

Book Synopsis:

Bab 1 Menikahlah Denganku

Sesampainya di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, Vivin Willardi teramat sangat kecewa saat mengetahui bahwa pria yang seharusnya mengajukan akta nikah bersamanya tak kunjung tiba. Sudah lebih dari setengah jam dari waktu yang mereka sepakati. Saat Vivin hendak menghubunginya, pria itu menghubunginya duluan. Begitu Vivin angkat teleponnya, suara murka seorang pria menggelegar lewat telepon, “Vivin Willardi, dasar kau pembohong! Apa kau lupa sama hal-hal memalukan yang pernah kau lakukan saat kuliah? Beraninya kau berpikir untuk menikahiku sekarang? Aku kasih tahu saja. Jangan bermimpi bisa menikah denganku! Sekarang sudah jelas, mengapa kau sangat terburu-buru membicarakan pernikahan meskipun kita baru saling kenal tiga hari! Jika bukan karena mantan pacarku yang pernah kuliah di kampus yang sama denganmu, aku pasti akan tertipu olehmu! Dasar kau wanita tak tahu malu!” Dengan begitu, dia menutup telepon. Vivin bahkan tidak mendapatkan kesempatan untuk menjelaskan dirinya sendiri. Jari-jari yang menggenggam ponselnya menjadi pucat dan bibirnya bergerak tanpa suara. Pria tadi sama sekali tidak mengecilkan suaranya, artinya banyak orang telah mendengar suara teleponnya. Semua orang menatapnya dengan penuh cemoohan dan rasa jijik, bagaikan ada ribuan jarum menikamnya. Kejadian ini persis seperti malam mimpi buruk dua tahun silam.
Tidak ada yang tidak mungkin, Jangan Pergi!

Review by Vivin Willardi:

This story gets a 4.5 out of 5.
This book was fantastic! I really enjoy fantasy stories… greek mythology, Billionaire, Romance vampires, I love it all… and this book had it all and then some.  Anything fantasy or mythological, was in this book.  I really enjoyed how Cornell was able to bring them all together in a way that was seamless and natural (or at least as natural as made-up things can be).  What I mean is that when I learned these mythological characters were all in it I thought it was a recipe for disaster, but actually it works brilliantly.
“Tidak ada yang tidak mungkin, Jangan Pergi!” The storyline was incredibly interesting and well thought out.  I imagine this story required an awful lot of planning and research.  As I was reading it I thought to myself that this must have taken some time to put together.  When a lot of planning and research is involved there are usually plot-holes (contradictions/missing information), but not in this case, I saw no errors in the complex plot. “Tidak ada yang tidak mungkin, Jangan Pergi!” The characters were fantastic.  They were relatable and the overall story itself was an incredibly interesting read.  The ONLY reason I am not giving this story a full 5 out of 5 is because of the ‘ease of reading’ factor.  I am an avid reader, I love reading, but even I found this story a little difficult to keep up with. It required my full attention and if I left it more than a day between reading chapters, I was lost. I had to go back in the book and re-read parts just to ‘get my bearings’.  This coupled with the volume of characters made the story a little difficult to read, BUT it was well worth reading. If you are a Billionaire, lover, you have to read this book! I guarantee, you will love it.
Perfect for adults (16+ due to the content) who enjoy:
  • Billionaire
  • Mythology: Greek mythology and mythological characters (Billionaire, Love, Romance, vampires)
  • Learning from reading
  • Getting lost in a complex storyline.

(Popular Information)

Tidak ada yang tidak mungkin, Jangan Pergi!

Name of the Novel: 1 Tidak ada yang tidak mungkin, Jangan Pergi!
website : 2   noveltk.com
Genres: : 3 Billionaire, Hot Romance, Romantic, Marriage, and Billionaire, Hot Romance
Chapters: 4 From 1 to Latest
Status So Far: 5 Ongoing
Updare Time : 6 morning
Rating: 7 Overall: out of 5
Language: 8 English.

My ratings:

  • Easy to read: 3 out of 5
  • Characters: 5 out of 5
  • Story idea: 5 out of 5
  • Length: 5 out of 5
  • Overall: 5 out of 5

About the Author:

"Permisi, Nona? Maukah kamu menikah denganku?" "Tuan, kita bahkan tidak saling kenal! Bukankah ini aneh dan terlalu terburu-buru?"

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Options

not work with dark mode
Reset